25 Desember 2010

JALAN JALAN KE GARUT








Salah seorang teman merekomendasikan Garut- Jawa Barat menjadi salah satu tempat tujuan wisata. Dia menceritakan sepintas tentang indahnya Garut. Saat itu aku belum begitu tertarik. Tapi saat melihat foto-foto liburannya yang diposting di Facebook, aku mulai tertarik. Segera saja aku browsing mencari data lebih banyak tentang Garut.


Teman yang lain kemudian memberiku brosur-brosur hotel di Garut. Ada dua hotel menarik, yaitu Danau Dariza hotel and resort dan Kampung Sumber Alam. Lalu kami memesan hotel via telepon, karena sudah masuk masa liburan, hampir saja kami tidak kebagian tempat. Kampung Sumber Alam ternyata sudah penuh. Untung saja kami masih dapat tempat di Danau Dariza hotel.

Setelah packing dan mempersiapkan segala keperluan, dengan berbekal brosur hotel yang dilengkapi dengan peta menuju lokasi , kamipun berangkat. Untuk menghindari macet, kami memilih berangkat ke Garut hari Rabu. Dari Bogor jam 9 pagi. Udara cerah dan jalanpun lancar, tidak macet. Kami memilih berangkat melalui tol cipularang. Sepanjang jalan menuju Garut pemandangan cantik bukit, lembah dan pegunungan memanjakan penglihatan kami. Tanpa terasa 3,5 jam perjalanan kami lalui dengan riang. Meskipun sempat bertanya-tanya arah mana yang harus kami tempuh, kamipun tiba di daerah Cipanas kecamatan Tarogong Kaler,Garut, tanpa kesulitan. Rafif,anak bungsuku sempat muntah dan pucat wajahnya, sehingga kami memutuskan mampir ke sebuah rumah makan dulu.

NASI LIWET DI CANGKUANG KURING RESTAURANT

Sebuah rumah makan di pinggir jalan menarik perhatian kami. Namanya “Cangkuang Kuring”. Menu yang ditawarkan salah satu nya adalah nasi liwet. Rumah makan ini menawarkan makan di saung-saung dengan pemandangan sawah dan gunung.

Rafif dan Dea langsung berlari ke ayunan yang tersedia disana. Wajah pucat rafif tak tampak lagi. Dia tertawa-tawa mengayun tubuhnya di ayunan.

Saatnya memesan makanan. Ada cukup banyak pilihan menu, semuanya masakan sunda dan Indonesia. Misalnya gurame goreng dan bakar, nasi liwet, sop buntut, ayam goreng –ayam panggang,nasi tug tug oncom,dan lain-lain. Kami memesan 2 porsi Sop buntut, 3 porsi nasi putih,2 paket nasi liwet, ayam bakar bambu dan teh manis. Anak-anak makan dengan lahapnya. Masakannya enak juga. Nasi liwetnya sedap, kami lahap sampai kerak-keraknya. Ha..ha...

DANAU DARIZA HOTEL AND RESORT

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel. Di daerah Cipanas ini, ada banyak sekali hotel-hotel. Ada yang besar dan banyak pula yang kecil. Rata-rata hotel menawarkan pemandian air panas, tak heran karena di Cipanas ini ada sumber air panas alami dari gunung yang dimanfaatkan hotel-hotel untuk memanjakan pengunjungnya.

Dari hasil pengamatanku, kelihatan sekali perbedaan hotel besar dan hotel kecil. Kebanyakan hotel besar yang terlihat dari bangunan yang megah dan luas, sementara hotel-hotel kecil bangunannya lebih sederhana, bahkan ada yang lokasinya masuk gang kecil. Rata-rata hotel besar seperti Kampung Sumber Alam, Danau Dariza, Tirta Gangga, dan Sabda Alam sudah” mengiklankan diri” di internet. Sehingga pengunjung dari luar kota bisa mengetahui dan memesan hotel via internet ataupun telepon. Tak heran, didepan hotel-hotel besar tertera tulisan “ KAMAR PENUH” atau “ MAAF KAMAR PENUH” . Sementara hotel-hotel kecil tidak demikian. Di depan hotel-hotel kecil tertera tulisan “KOSONG”, bahkan ada petugas-petugas khusus yang berdiri di depan hotel-hotel kecil tersebut yang tugasnya menawarkan kepada setiap mobil yang lewat untuk menginap di hotel mereka.” Mari,Pak.. silahkan ke hotel kami, fasilitas lengkap harga murah...” begitu kata mereka. Jadi seandainya ada pengunjung yang datang ke Garut tanpa memesan hotel lebih dahulu, tak perlu khawatir, karena hotel-hotel kecil yang banyak itu bisa menampung mereka.

Saat tiba di Danau Dariza hotel and resort, yang terletak di Jl. Raya Cipanas Tarogong Kaler Garut, kami disambut pemandangan cukup unik, bangunan lobby hotel berbentuk rumah adat Toraja, lengkap dengan kepala sapi di atasnya. Kamar-kamar yang disediakan juga berbentuk rumah –rumah adat. Ada rumah adat Padang, Batak, Sunda, Nusa Tenggara Timur, Bali dll. Semuanya didirikan menghadap danau buatan. Setiap kamar dilengkapi dengan perahu, sehingga bisa digunakan untuk berperahu di danau itu.


Setelah check in, kami istirahat sebentar di kamar. Tapi anak-anak tak sabar untuk segera naik perahu. Jadilah suamiku dan anak2 keliling danau dengan perahu,sementara aku jadi juru foto. Di danau itu ada banyak ikan-ikan yang besar ukurannya. Kebanyakan jenisnya ikan emas. Ikan-ikan itu mendekat dan berkumpul didekat tangga teras. Ketika anak-anak menebarkan kacang, kerumunan ikan itu berebut makanan. Ikan-ikan itu tampaknya sudah jinak, hingga Dea dan Rafif bisa “menyuapi” ikan-ikan itu dengan kacang!. Sungguh pengalaman yang unik.

Sayangnya cuaca kurang bersahabat. Sore itu hujan turun. Anak-anak yang mudah bosan, mulai tak sabar. Akhirnya ditengah hujan kami berjalan menuju kolam renang. Ada dua kolam renang tersedia di hotel ini, satu kolam berisi air dingin dan satu kolam lagi berisi air panas alami. Meskipun hujan dan dingin, banyak pengunjung hotel ini berenang dan berendam di kolam air panas. Karena sudah terlalu sore, anak-anak memilih main bola air saja. Selain bola air, ada juga permainan anak-anak yang lain seperti flying fox, tapi karena hujan anak-anak tidak bisa melakukannya.

Saat melewati pintu keluar-masuk kolam renang, Dea mencium bau sedap pastry. Rupanya ada toko kecil yang menjual croissant disana. Perutnya jadi lapar. Diapun membeli beberapa potong croissant alias roti “kopong” , begitulah istilah yang dipakai Dea. Harganya Rp. 5000,- per piece.Rasanya cukup lezat, aroma croissant itu sungguh mengundang selera.

Malamnya kami keluar hotel mencari tempat makan. Karena anak-anak ingin makan mie, maka kami makan di Mie Bakso Alladin.

Besok paginya, aku dan anak-anak mencoba sepeda air. Anin dan Dea semangat mengayuh sepeda air keliling danau. Setelah puas, anak-anak langsung berenang sampai hari beranjak siang.


SALAH PILIH

Makan siang kali ini kami mencoba-coba memilih restaurant yang ada di sepanjang jalan utama di Garut. Sebenarnya ingin makan di tempat yang direkomendasikan oleh teman, tapi karena harus memutar arah dulu dan agak jauh tempatnya, kami jadi enggan. Akhirnya pilihan pun jatuh ke sebuah rumah makan dengan slogan “ Makan di saung di atas air” kami pun mampir ke restaurant itu. Sebenarnya tempatnya lumayan, di pinggir jalan utama,ada saung-saung diatas air dengan ikan-ikan besar berenang kian kemari, ada latar belakang rumah-rumah kayu yang tampak sendu, tapi suasananya sunyi mencekam. Tak ada pengunjung lain selain kami.

Lalu kami memesan makanan. Seperti rumah makan sunda lainnya, menupun hampir sama. Kami memesan nasi putih,karedok, sayur asem, ayam panggang, cumi goreng tepung, jus alpokat, jus sirsak susu dan teh.

Setelah agak lama menunggu, pesananpun datang. Aku mencicipi masakan-masakan itu. Sayangnya rasanya kurang enak. Ada yang keasinan, ada yang kurang bumbu alias hambar, ada yang rasanya “nyeleneh”, bahkan ada yang pahit. Ho...ho... pantas saja tak ada pengunjung lain mampir disini. Tapi karena lapar, kami nikmati saja semuanya, kenyangnya sama kok!..hi..hi..

Saat membayar di kasir, aku melihat pelayan-pelayan di restaurant ini duduk-duduk, termangu menanti pengunjung. Suasananya muram. Dalam hati aku kasihan juga pada mereka, kalau terus sepi seperti ini, bisa-bisa mereka kehilangan pekerjaan karena restaurantnya tutup. Mungkin seharusnya mereke mengganti Chef-nya dengan yang lebih handal?

DODOL GARUT

Acara kali ini adalah keliling-keliling kota Garut. Kami berkeliling kota tanpa arah, belok kanan-belok kiri sesukanya, pokoknya jalan-jalan saja, menikmati kota kecil yang sejuk. Sempat melewati Masjid Agung Garut, sekolah-sekolah, kantor, dan pertokoan. Saat tiba di deretan toko yang menjual oleh-oleh, kami mampir. Sang pemilik toko menyambut kami dengan senyum sumringah. Kami dipersilakan masuk, dan boleh mencicipi berbagai macam dodol Garut.

Dulu, waktu aku kecil, aku sering diberi oleh-oleh dodol Garut sama saudara. Dodolnya didalam kotak, bermerk Picnic. Dodol dibungkus kertas, warna dodolnya coklat gelap, rasanya manis, aku tak begitu suka. Begitu terus, selalu dodol yang sama kalo dapat oleh-oleh dari Garut.

Tapi kali ini, ada banyak macam dodol yang disimpan di kotak etalase toko oleh-oleh itu. Berwarna-warni dan dengan bungkus yang bervariasi. Ada yang dibungkus plastik bening, ada juga yang dibungkus dengan kulit jagung “Ini dodol kentang, yang ini strawberry, yang itu mangga, lalu ini sirsak.” Kata sang pemilik toko. “ Masih ada lagi, ini yang enak sekali, dari kacang merah. Ada juga yang dibuat dari kacang hijau, dan ada juga dari ketan hitam.”

Asyik sekali aku dan anak-anak mencicipi dodol aneka rasa, benar-benar berbeda dari dodol yang dulu pernah aku makan. Dodol kentang enak rasanya, demikian juga dodol kacang hijau. Tapi aku paling suka dodol kacang merah. Harga dodol itu berbeda-beda, ada yang Rp. 18.000,- ada yang Rp. 20.000,-; Rp. 22.000,-; Rp 24.000,- sampai yang termahal Rp. 32.000,- perkilo-nya.

Setelah membeli dodol, kerupuk kulit, ting-ting kacang, bandrek, dan bajigur buat oleh-oleh kamipun kembali ke hotel.

WARJOK AMIGOS

Malam itu kami bingung mencari tempat makan. Anak-anak berkeras mau makan mie. Aku dan suami pengennya makan sate dan gule. Seingatku sepanjang jalan-jalan siang tadi di pusat kota Garut, tidak ada tempat makan sate dan gule yang juga menyediakan mie, dan juga tidak ada kedai mie yang sekaligus menjual sate dan gule. Jadi gimana doong?

Akhirnya kami putuskan untuk jalan-jalan saja dulu. Jalan kaki, tidak naik mobil, kami keluar hotel. Menikmati suasana malam yang dingin dengan udara pegunungan. Lampu-lampu hotel dan suara sayup sayup penyanyi dangdut nun jauh disana mengiringi langkah kami. Tak jauh dari hotel, ada warung kecil yang menjual jeruk, tampaknya segar sekali karena jeruk-jeruk yang dijual masih lengkap dengan daunnya seperti baru saja dipetik. Suamiku membeli satu kilo jeruk itu. Lalu kami jalan terus. Di sebuah sudut jalan, pandangan kami tertumbuk pada sebuah banner bertuliskan “ Sedia Sate Kambing, Gule dan Tongseng, Mie goreng, Mie Rebus, Soto,dll” ... Aha!!... aku dan suami saling berpandangan dan tertawa. Ho..ho... ternyata selera kami semua bisa disatukan di WARJOK AMIGOS alias WARung poJOK Agak Minggir GOt Sedikit. Ha..ha...Jadilah kami makan disana.

DOMBA GARUT


Pagi berikutnya, setelah sarapan di kamar, kami beres-beres dan packing barang-barang. Rencananya mau langsung check out dari hotel , jalan-jalan lagi dan siangnya langsung pulang ke Bogor. Anak-anak ikut mengunjal barang-barang ke mobil. Setelah semua urusan dengan hotel beres, kami bersiap berangkat. Tapi waktu memandang ke sudut samping halaman hotel yang hampir tersembunyi, mataku menatap seekor makhluk yang tampak mengagumkan. Badannya gagah dan tegap, bulunya putih bersih dan tanduk kokoh melingkar dengan anggunnya. Itulah “produk asli” Garut yang sesungguhnya: Domba Garut.

Suamiku yang suka melihat gagahnya sang domba langsung mendatangi tempat itu. Domba putih itu sedang dijemur, diikat dengan tali, dan diberi makan ampas kedelai. Saat kami mengagumi sang domba, seorang bapak yang ramah menghampiri kami. Kami diizinkan melihat-lihat ke dalam kandang dombanya.

Bapak itu bercerita tentang pemeliharaan domba, dan juga menunjukkan satu ekor domba unggulannya. Menurut dia domba itu sudah beberapa kali menang lomba adu domba yang sering diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu. Domba yang gagah ini tentu berbeda dengan kambing atau domba jenis lainnya. Dari penampilan, berat tubuh dan harga, domba Garut memang lebih bagus. Sempat kami tanyakan harga domba yang masih kecil, atau domba anakan. Menurut bapak itu, yang kecilpun harganya sudah tinggi, bisa Rp. 2,5 sampai Rp. 3 juta. Kalau yang dewasa, apalagi yang sudah pernah memenangkan lomba adu domba, harganya bisa mengalahkan harga sapi, misalnya saja ada domba Garut yang harganya Rp. 30 juta. Wow...!

NAIK DELMAN

Setelah melihat domba, kami berangkat. Sekali-sekali kami berhenti di pinggir jalan untuk berfoto dengan latar belakang pemandangan cantik pegunungan di Garut. Di jalan daerah Cipanas itu banyak delman lalu lalang. Aku dan anak-anak memutuskan keliling Cipanas naik delman. Asyik juga jalan-jalan dengan delman. Udara sejuk, bunyi langkah kaki kuda dan pemandangan cantik di kiri-kanan jalan mengiringi kami. Sebenarnya jarak tempuh bisa lebih jauh bila kami kehendaki, tapi suamiku yang tak betah menunggu meminta kami segera melanjutkan perjalanan. Setelah anak-anakberfoto dengan kuda delman itu, kami melanjutkan jalan-jalan.

LAYANG-LAYANG PARASUT


Saat melintas di depan sebuah toko sovenir, Dea berteriak,” Itu layang-layang! Dea mau beli!” Kata si tomboy itu. Suamiku memarkir mobil dan kami turun melihat-lihat. Layang-layang itu berbentuk burung dengan bahan parasut. Kerangka dari bambu tipis dan bisa dilipat, bisa juga dicuci untuk digunakan lagi. Benang yang dipakai adalah benang kasur. Ada berbagai warna, merah, biru, hitam dan hijau. Harganya Rp. 16.000,- per buah. Selain layang-layang, toko itu juga menjual oleh-oleh dodol, makanan kecil , barang-barang etnik dari kayu seperti wayang, congklak, gendang kecil, pensil yang berbentuk boneka kayu dan lain-lain.Dea memilih layang-layang warna hitam, sementara Rafif memilih yang berwarna biru.

JAKET DAN TAS KULIT SUKAREGANG

Saat di hotel, kami sempat bertanya-tanya pada petugasnya, tentang kekhasan lain dari Garut selain dodol Garut-nya. Sang petugas hotel memberi tahu bahwa di Garut ada suatu tempat yang menjual barang-barang dari kulit asli, seperti jaket, sepatu, sandal, tas, dan sovenir. Pusat penjualan kerajinan kulit tersebut ada di daerah Sukaregang, yang terdapat di pusat kota Garut. Sang petugas hotel juga menjelaskan bahwa kami harus menuju pusat kota, lalu menyusuri Jl. Ahmad Yani.

Sukaregang itu rupanya terletak diujung Jl. Ahmad Yani. Disana banyak toko yang berderet, ada yang besar dan ada yang kecil, semua menjual barang-barang dari kulit.Dan, jadilah kami hari itu berburu jaket kulit. Suamiku yang hobi touring dengan motor besarnya, paling semangat mencari jaket yang cocok untuk dipakai saat touring. Anak-anak yang tak suka shopping, memilih menunggu di mobil.


Harga jaket kulit berkisar antara Rp. 700 ribu sampai jutaan, tergantung model, dan kualitas kulitnya. Sementara harga tas bervariasi, ada yang Rp. 250-ribuan, Rp. 350-ribu, Rp. 400 ribu dan seterusnya tergantung kualitas kulit dan modelnya. Akupun ikut melihat-lihat tas, dan sendal. Sayangnya, tak ada sendal dan sepatu yang membuatku tertarik. Akhirnya aku hanya membeli satu buah tas kulit warna hitam. Suamiku setelah melihat kesana-kemari akhirnya membeli satu buah jaket kulit berwarna coklat. “Model Soekarno”, begitu kata sang pemilik toko mengomentari jaket pilihan suamiku.

SAMBAL CIBIUK

Saat tiba waktu makan siang aku teringat teman yang merekomendasikan restaurant Cibiuk. Katanya kalo ke Garut, makannya di Cibiuk saja. Enaaak. Begitu katanya. Jadi tak mau coba-coba seperti hari sebelumnya, akhirnya kami mengikuti saran sang teman. Saat tiba di restaurant yang dimaksud, kami jadi agak ragu melihat banyaknya pengunjung. Penuh. Hampir saja kami tak kebagian tempat parkir.

Begitu memasuki ruangan, kami jadi bingung. Hampir tak ada tempat kosong. Padahal rumah makan itu besar sekali. Ada saung-saung yang banyak di bagian belakang, dan ruangan restaurantpun terbagi dua dan luas. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ada juga tempat yang kosong, kami langsung duduk. Tapi lagi-lagi bingung. Pelayan restaurant yang wara-wiri tampak “keteteran” melayani banyaknya pengunjung. Meski beberapa kali dipanggil, pelayan-pelayan itu Cuma bisa bilang,” Sebentar ya,Bu”. Weleh...weleh.... Akhirnya ada juga seorang pelayan menghampiri kami, membawa buku menu. Yang pertama kupesan adalah Sambalnya. Restaurant ini memasang slogan “RAJANYA SAMBAL”, jadi aku makin penasaran dengan Sambal Cibiuk yang katanya kesohor itu. Anin memesan sop buntut, Rafif memesan Sop Gurame, aku dan suami memesan nasi bakar komplit. Dea yang mengatuk memilih tidur saja di mobil, jadi makanannya dibungkus untuk dimakan nanti.

Lama menunggu akhirnya datang juga pesanan kami satu persatu. Suamiku yang sudah mulai emosi karena menunggu kelamaan jadi kurang bergairah makannya. Saat makanan sudah hampir habis, aku baru sadar kalo sambel yang bikin penasaran itu belum terhidang di meja. Aku panggil pelayannya dan mengingatkan pesananku: Sambel Cibiuk Hijau. Saat nasi sudah tinggal sedikit lagi, datang juga si sambel hijau itu. Dihidangkan diatas cobek kecil dilapisi daun pisang, penampilan sambel itu cukup menggoda. Potongan tomat hijau yang segar berbaur dengan sambel kecoklatan yang mungkin mengandung terasi, lalu ada sedikit potongan kemanginya. Langsung saja aku makan dengan dicocol tahu, tempe, dan ayam. Sedap juga... aku makan sampe licin tandas, sampai perut terasa panaaas... sh...shh...sh..shh...

Pelajaran yang diambil : Jangan memilih restaurant yang sangat sepi karena bisa jadi masakannya tidak sedap, dan jangan pula memilih restaurant yang sangaaat ramai, meskipun masakannya enak, karena menunggu terlalu lama bisa bikin emosi, akibatnya makanan tak lagi terasa enaknya. Ha...ha...ha.

Jalan-jalan kami kali ini sangat berkesan. Next time, rasanya masih ingin mengunjungi Garut lagi. Masih banyak tempat indah di Garut yang belum sempat kami kunjungi. Insya Allah nanti...

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Senang membaca ceritamu....
kemasan cantik,jelas dan tdk bertele2 say
Good.....
ditunggu cerita berikutnya yaaaa....

Anonim mengatakan...

lagi cari2 tempat liburan, eeh ketemu ini ..makasih yah foto2nya...
boleh tanya, berapa harga nya nginep semalam di tempat ini...????

makasih n ass.mu.kum.. nurul/jakarta/cilandak

Juliana Dewi Kartikawati mengatakan...

Tuk Nurul/Jakarta/Cilandak, info room rate Danau Dariza bisa di lihat di link ini http://www.danaudariza.com/roomnrates.htm