22 Februari 2015

Ketika Kebaikan Menjadi Investasi

Pemandangan di kaki gunung Ciremai

Setiap kali ke Kuningan, aku dan suamiku si Akang, tak pernah melewatkan kesempatan mengunjungi desa Setianegara,  tempat asal kakek  dan ayah mertuaku. Di kesempatan touring ke Kuningan kali ini, kami tak punya banyak waktu  menikmati suasana desa cantik  di kaki gunung Ciremai tersebut. Setelah nyekar ke makam kakek, kami memanfaatkan waktu yang sedikit sebelum melanjutkan perjalanan ke Baturraden untuk mengunjungi Wak Eno dan istrinya, Wak Eroh.

Aku dan Akang

Wak Eno adalah saudara ayah mertuaku. Meskipun bukan saudara kandung tapi hubungan mereka sangat dekat. Wak Eno dan istrinya baik, ramah dan tulus. Pertama kali aku dikenalkan pada mereka saat Akang mengajakku ke Kuningan di masa bulan madu kami tahun 1998.

Beberapa tahun yang lalu Wak Eno pernah datang ke Bogor.  Ayah mertuaku mengabari lewat telepon  kalau Wak Eno akan tiba sekitar jam 14.00- 15.00 di terminal Baranangsiang . Aku diminta menunggu telpon Wak Eno mengabarkan kedatangannya, lalu aku akan  menjemputnya di terminal itu.

Hingga lewat pukul 15.00 aku menanti, tak juga ada kabar dari Wak Eno. Aku tak punya nomor telpon Wak Eno. Saat bingung memutuskan langsung berangkat ke terminal atau menunggu saja, terdengar suara ketukan di pintu rumahku. Ternyata yang mengetuk adalah satpam cluster.

“Ibu, itu ada tamu katanya saudara Bapak. Apa betul, Bu?” Kata satpam sambil menunjuk keluar.

Diluar pagar  kulihat Wak Eno dengan susah payah turun dari ojeg. Yang membuat dia susah turun adalah barang bawaannya yang berjibun. Dia berselempang tas berisi pakaian, sementara kedua tangannya dipenuhi kantung plastik super besar berisi kaleng  persegi yang penuh rempeyek, kardus-kardus yang membungkus kripik pisang dan satu ember hitam besar berisi tape ketan khas Kuningan.

“Iya, betul itu saudara Bapak .  Wak eno. “ Sahutku. Aku langsung berlari menyambutnya. Satpam pun kembali ke pos jaga setelah membantu mengangkut barang-barang bawaan Wak Eno.

“Wak Eno, kenapa tidak telepon?  Wak sudah punya nomor ponsel Dewi kan? Kalo Wak telpon pasti dijemput ke terminal. Nggak perlu repot naik ojeg, Wak. ” Seruku.

Wak Eno terkekeh, menunjukkan deretan gigi yang sudah jarang-jarang.

“Wak nggak bisa nelpon, Wi. “ Sahutnya.

“Kenapa tidak bisa? Batrai ponselnya habis atau tidak ada pulsa, Wak?” Tanyaku.

Wak Eno mengeluarkan sebuah ponsel dari kantungnya.

“Ini ponsel anak Wak. Kalau terima telpon Wak bisa. Tapi kalau menelpon, Wak nggak ngerti caranya. Pencet yang mana ya?” Tanyanya lugu.

Oalah Wak....

Setiap kali berkunjung ke Kuningan, aku dan Akang tak pernah absen mampir ke rumah Wak Eno.  Sering dia menawari kami menginap di rumahnya, tapi karena takut merepotkan kami memilih menginap di hotel. Bagaimana tak merepotkan, bila tahu kami akan berkunjung Wak Eroh selalu memasak untuk kami. Saat kami tiba dirumahnya sudah tersedia berbagai makanan.

Wak Eroh, Wak Eno, Tety dan Opi

Biasanya Wak Eroh  berpesan agar kami makan siang atau makan malam di rumahnya. Jadi meskipun menginap di hotel, kami wara-wiri ke rumah Wak Eno. Kalau tidak, dia akan kecewa, masakannya tak disantap.

Bukan hanya itu, ketika kami akan pulang, Wak Eroh telah siap dengan bungkusan-bungkusan besar berisi keripik pisang, rempeyek,  dan kue-kue tradisional lainnya untuk dibawa sebagai oleh-oleh.  Aku sering merasa tak enak hati merepotkan mereka. Kalau kami berkunjung membawa kendaraan mobil tentu tak masalah membawa bungkusan besar itu. Tapi kalau kami naik motor, mau ditaruh dimana oleh-oleh sebanyak itu? Di box motor tak akan muat karena sudah dijejali pakaian dan perlengkapan touring. Kalau kami menolak oleh-oleh pemberiannya Wak Eno dan Wak Eroh kecewa, jadi serba salah. Hehehe..

Karena itu sekarang tiap ke Kuningan kami sengaja tak mengabari dulu, sehingga Wak Eroh tak perlu repot-repot bikin keripik pisang, rempeyek dan kue-kue tradisional. Paling-paling Wak Eroh mengomel.

“Kenapa nggak kasih kabar dulu kalau mau ke sini. Wak kan bisa masak dulu kalau tahu kalian mau ke sini.” Ujarnya.

Kami cengengesan.

Wak Eno seorang pekerja keras. Dia membiayai keluarga dengan menjadi buruh bangunan dan tukang kayu. Dia mengerjakan pesanan kusen pintu dan jendela kayu. Wak Eroh sering membantu dengan berjualan makanan.

Apa bedanya buruh bangunan di desa dengan buruh bangunan di kota ? Kalau di kota, pendapatan buruh bangunan sering kali kurang mencukupi kebutuhan sehari-hari. Biaya untuk makan tinggi. Beda dengan buruh di desa. Sesulit-sulitnya, mereka masih cukup makan dan minum. Alam subur seperti desa  Setianegara tampaknya masih ramah  menunjang kehidupan warganya.

Ada yang berbeda dari kunjungan kami ke rumah Wak Eno kali ini. Dan hal itu membuatku sangat senang dan bersyukur. Sebuah  mobil baru mungil tampak terparkir disamping rumah, berdampingan dengan motor bebek yang  kinclong.

Wak Eno dan Wak Eroh tampak gembira melihat kami turun dari motor. Dia sibuk memintaku tak usah membuka sepatu boot untuk masuk ke rumahnya. Tentu saja sepatu itu tetap kubuka.

Tety dan Opi, putri sulung dan bungsunya ikut menyambut kami dengan senyum lebar. Kami berbincang-bincang melepas rindu dan bertukar kabar.

Seperti biasa Wak Eno menanyakan kabar ayah dan ibu mertuaku, juga anak-anak kami. Senyum di wajahnya mengembang kala mendengar semua baik dan sehat.

Tak lama Opi menghampiri kami dengan membawa baki berisi dua cangkir white coffe, dan toples-toples berisi keripik pisang dan rempeyek. Nikmat sekali rasanya. Keripik pisang buatan Wak Eroh renyah dan gurih,  membuat aku ingin terus mengunyah.

Kripik pisang dan rempeyek ala Wak Eroh

“Bagaimana perkembangan usaha warungnya, Tety? Tambah maju ya?” Tanya Akang pada Tety.

Wajah Wak Eroh, Wak Eno dan Tety berseri-seri.

“Alhamdulillah. Perputaran uangnya cepat. Jadi Tety harus setiap hari belanja  sembako. Puncaknya bulan puasa dan lebaran. Beras saja bisa berton-ton habis dibeli orang. Itu si Abah sudah dibelikan motor baru. Dia yang bertugas mengantar pesanan pembeli. “ Sahut Tety riang.

Wak Eno terkekeh-kekeh.

“Dan mobil baru juga ya? Alhamdulillah.” Tukasku.

“Iya.” Tety tersipu-sipu.

“Itu mobil salah beli. Sudah  kebelet punya mobil, jadi beli mobil kecil.  Belinya mencicil. Padahal kalau sabar sedikit bisa beli yang agak besar.” Tety berkata dengan wajah sumringah.

Beberapa tahun yang lalu Tety bekerja menjaga warung tetangganya. Dia tabah bekerja seharian penuh setiap hari dengan gaji Rp. 300.000,-. Warung itu maju karena usaha Tety, tapi Tety tak kunjung memperoleh kenaikan gaji hingga akhirnya dia berhenti bekerja. Usaha kerasnya tak sebanding dengan gaji yang diperoleh.

Tak  ada yang sia-sia.  Beberapa tahun bekerja mengurus warung  dilalui Tety dengan usaha keras dan belajar.  Tety jadi mengerti cara mengelola warung sembako. Dengan modal pinjaman sebesar 5 juta dari koperasi, Tety akhirnya membuka usaha warung sendiri di sebuah ruang di samping rumah Wak Eno.

Usahanya berjalan mulus. Tety menemukan bahwa pelayanan ramah, harga yang lebih murah dan layanan mengantar belanjaan kepada pelanggan merupakan kunci sukses usahanya. Warung pun bertambah besar, demikian juga dengan omzet penjualan.

“Tety sudah 3 kali diberi pinjaman sama koperasi, karena bayarnya lancar. Tapi sekarang sudah tidak pinjam lagi. Alhamdulillah..” Ucapnya.

Perbincangan mengalir.

“Opi sudah kuliah ya? Kuliah dimana? ” Tanya Akang pada anak bungsu Wak Eno.

“Iya,Ak. Opi kuliah. “ Sahut Opi  sambil menyebut nama sebuah Universitas Negri.

“Jurusan Teknik Informatika. Sekarang lagi libur kuliah. “ Lanjut Opi.

“Opi dibiayai orang Jepang, Dja.  Wak Eroh dan Wak Eno tak  mampu membiayai Opi. Biaya kuliah kan mahal. Uang dari mana?“ Wak Eroh  menutup kalimatnya dengan pertanyaan retoris.

 “Wah hebat.. Kok bisa begitu, Wak? “ Tanyaku penasaran.

“Orang Jepang itu majikan Wak Eroh dulu. Dulu kan Wak kerja membantu di rumah mereka waktu tinggal di Indonesia. Entah kenapa mereka bisa sangat baik. Wak Eroh juga heran. Waktu bekerja dulu Wak memang sayang sama mereka. Wak sabar menghadapi keinginan mereka. Orang Jepang kan punya standar kebersihan dan kerapian yang tinggi. Ya,Wak  jalani saja. Wak kan harus bersikap baik pada semua orang, apalagi orang yang memberi pekerjaan. Mereka juga akhirnya menganggap Wak Eroh seperti saudara. Meski sudah kembali ke Jepang bertahun-tahun yang lalu, tapi setiap  ke Indonesia mereka selalu mampir ke sini. Mereka memberi Wak uang, lalu minta dibuatkan masakan. Tidak susah. Semua masakan Wak Eroh dimakan. Mereka suka  makanan kampung. Hahaha... “ Wak Eroh tergelak.

“Dua tahun lalu anak mereka menikah. Wak ditelpon, disuruh datang ke Jepang. Sepertinya kehadiran Wak sangat penting, karena Wak yang dulu mengasuh anaknya. Mereka mau membelikan tiket ke Jepang supaya Wak bisa berangkat. Tapi Wak terpaksa tidak berangkat.” Sambung Wak Eroh sambil melirik Wak Eno.

“Kenapa Wak tidak berangkat? Asyik kan Wak Eroh bisa jalan-jalan ke Jepang.” Tanyaku sambil mengunyah keripik pisang.

“Tidak boleh pergi sama Wak Eno. Takut Wak Eroh tidak kembali lagi ke sini.” Sahut Wak Eroh.

Aku, Akang dan Wak Eno tertawa tergelak-gelak  mendengar ucapan Wak Eroh.

“Mereka sering mengirim uang untuk Wak Eroh. Padahal Wak tidak pernah meminta. Kiriman mereka seperti rezeki yang tak terduga. Tahu-tahu sudah masuk rekening tabungan. Suatu hari mereka menelpon menanyakan kabar. Wak Eroh cerita panjang lebar, termasuk tentang Opi yang baru tamat SMA. Lalu mereka menawarkan untuk membiayai kuliah Opi.” Wak Eroh berhenti sejenak, berusaha menata perasaan haru, lalu  melanjutkan kisahnya.

“Wak ragu, rasanya tak enak hati. Biaya kuliah kan mahal. Tapi ternyata mereka tak main-main. Tiba-tiba uangnya sudah masuk rekening tabungan. Jumlahnya, Masya Allah.... Wak sangat terharu dan bersyukur pada Allah. Lalu mereka telpon lagi, katanya kalau uang itu kurang, Wak harus katakan pada mereka.” Mata Wak Eroh berkaca-kaca.

Bersama Wak Eno, Wak Eroh, Tety , putra Tety dan Opi


Aku terhenyak. Kisah Wak Eroh yang  sungguh menyentuh hati. Ketulusan hati dan kebaikan Wak Eroh ternyata  menjadi investasi mengagumkan yang kini dituai hasilnya.

Selalu ada hikmah  dan kisah tersendiri dalam setiap touring yang kami lakukan . Aku dan Akang mengucap syukur. Kami melihat betapa roda kehidupan telah digerakkan Allah  mengangkat kesejahteraan keluarga Wak Eno. Aku yakin apa yang tengah terjadi saat ini adalah buah dari perbuatan baik mereka.

Wak Eno dan Wak Eroh adalah pasangan suami istri yang sangat baik dalam membina hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas). Yang aku tahu mereka jujur, tulus, ramah, berkata lembut dan santun, peduli pada sesama, tidak mengganggu dan menyakiti orang,  dan tidak mengambil hak orang lain.

Usaha warung  Tety yang kini menuai sukses adalah buah dari kesabaran, kejujuran,  dan pelayanan yang ramah pada para pelanggannya. Lalu rezeki tak terduga berupa beasiswa untuk Opi juga merupakan buah prilaku Wak Eroh yang baik, jujur, dan  tulus tanpa memandang perbedaan suku bangsa dan kepercayaan. Siapa sangka sikap baik itu bisa demikian mempesona hingga keluarga Jepang itu ikhlas menggelontorkan dana yang tak sedikit untuk membiayai kuliah putri Wak Eroh..

Aku jadi ingat sebuah kalimat bijak yang mengatakan “Siapa menabur kebaikan, dia akan menuai kebaikan. Dan juga sebaliknya.”

Sungguh, perbuatan baik adalah investasi yang hasilnya bisa dinikmati baik di dunia maupun di akhirat. Mari, jangan ragu  menjadikan perbuatan baik sebagai lifestyle yang membawa kita kedalam berkahNya.

21 Februari 2015

Touring Bogor- Kuningan

Setelah libur  touring selama beberapa bulan menunggu kondisi kesehatan suami  pulih pasca operasi tulang belakang di bulan November 2014 lalu, akhirnya aku dan suamiku, si Akang, bisa touring lagi.Yihaa! Alhamdulillah...

Mungkin bagi orang lain, touring  bukan sesuatu yang berarti. Tapi aku  mengerti bagaimana perasaan Akang yang sangat menggemari kegiatan ini. Lama tak touring membuat perasaannya hampa. Touring  menjadi sebuah ajang penyegaran atau refreshing bagi Akang, dan juga salah satu  sarana merekatkan kedekatan kami  sebagai pasangan suami istri.

Tujuan touring kali ini adalah Kuningan dan Baturraden. Hari Sabtu 7 Februari 2015, kami memulai perjalanan pukul 5.09 WIB.  Meluncur diatas Kawasaki Versys, kuda besi berkapasitas 650 CC, kami membelah udara pagi yang dingin. Desain tempat duduk yang mencapai tinggi 33 Inchi membuat pengendara dan “boncenger” motor  mampu menjangkau pandangan  luas. Bentuk ramping berdesain futuristik, setang lebar dan  posisi riding yang tegak membuat Akang merasa nyaman mengendarai motor ini di segala kondisi jalan.

Kami melaju menuju puncak. Udara dingin menampar wajah saat kubuka penutup helm. Dingin  terpaksa kutahan demi melihat lebih dekat jurang hijau, lereng berlapis pohon teh bertaut bukit-bukit yang tampak samar tertutup kabut. Indah. Aku tak pernah bosan menikmati kecantikan  yang tercipta dari perpaduan bentang alam berupa gunung, bukit, lembah, lereng, dan pepohonan hijau. Ada rasa tersendiri yang timbul setiap kali menatap pemandangan hijau asri seperti itu. Segar. Terasa tumbuh  semangat baru menghadapi hari.




Kami terus menelusuri jalan, melewati Cianjur, dan Padalarang. Jalan yang lumayan mulus dan masih lengang membuat laju si Kuning lancar. Kami berbagi jalan dengan para pengendara motor lainnya. Diantara mereka ada  yang membawa motor sarat dengan kardus-kardus makanan kecil. Di sisi jalan, sesekali tampak truk yang sedang dimuati pasir, warung yang baru dibuka, dan pedagang sayuran  memacu sepedanya. Sungguh terasa denyut nadi kehidupan telah dimulai pagi ini.



Aku berusaha sebanyak mungkin mengabadikan perjalanan kami lewat foto. Sungguh tak mudah memotret di atas motor yang melaju kencang. Kadang aku harus setengah berdiri menahan berat tubuh pada pijakan kaki untuk bisa memotret angle yang diinginkan. Kadangkala hasilnya kabur karena laju motor  tak kompak dengan camera yang   lambat menetapkan fokus. Atau hasil foto terlihat “miring” searah  posisi motor  yang tengah menikung di kelokan jalan.

Langit berwarna biru cantik menghias angkasa. Di depan sana aku melihat sebuah bukit hijau menyembul indah. Hijau bukit dan biru langit, perpaduan yang nyaman dipandang mata.




Pukul 8.23 kami melewati gapura Indung Rahayu, Purwakarta. Kami berjanji dengan Pak Yugen dan istrinya untuk bertemu di Purwakarta. Titik pertemuan yang dijanjikan adalah di dekat sebuah mall yang terletak di jalan menuju Subang.

Setelah bertanya pada beberapa pengendara motor, kami tiba disebuah perempatan jalan di mana mall yang menjadi titik temu terletak di sudut jalan. Kami mencari-cari beberapa saat sambil menghubungi Pak Yugen lewat ponsel. Aku sempat makan nasi dan minum teh panas di sebuah warung kecil, sementara Akang sibuk mencari-cari Pak Yugen. Belum selesai makanan kuhabiskan, Akang buru-buru mengajakku pergi.

“Ayo, Neng cepat. Kita salah arah, ternyata bukan di sini arah menuju Subang. Pak Yugen sudah menunggu di sana.”Seru Akang.

Setelah membayar makanan yang ternyata murah sekali, hanya 10 ribu rupian dengan dua macam lauk dan sayur, aku cepat-cepat menyusul Akang yang sudah siap di motornya. Kami berbalik arah lalu belok kiri. Di depan sebuah rumah makan Padang, Pak Yugen, istrinya dan seorang pria teman Pak Yugen,  sudah menanti kami.

Pak Yugen memperkenalkan temannya. Pria bertubuh langsing itu bernama Pak Anton. Dia membawa motor Harley Davidson tipe softails yang kinclong dan mulus. Motor ini berbentuk cukup unik, terlihat “kaku” seperti model motor pegunungan. Meskipun demikian bentuk motor tetap cantik, dengan shockbreaker yang tersembunyi di bagian belakang untuk menjamin kenyamanan pengendaranya. Motor ini berbobot lebih ringan dibandingkan  Harley Davidson type cruiser dan touring yang  memang berukuran lebih besar.

Senang bisa kembali touring bersama Pak Yugen dan istrinya. Terakhir kami touring bersama di bulan September 2014 ke Guci Tegal. Seperti touring yang lalu, Pak Yugen membawa motor BMW GS 1200-nya. Tampaknya sama seperti Akang, dia lebih suka membawa  motor bertipe adventure untuk touring berjarak jauh, dibandingkan membawa Harley Davidson. Motor adventure lebih bisa diandalkan menghadapi kondisi jalan di Indonesia yang tak selalu mulus.

Perjalanan berlanjut. Kami  menyusun barisan. Pak Yugen yang paling senior menjadi leader, disusul Pak Anton dan  Akang paling belakang. Touring paling ideal adalah  dengan rombongan kecil antara 2-5 motor. Dengan rombongan yang tak terlalu banyak, lebih mudah mengatur kecepatan dan kekompakan saat berkendara di jalan. Rombongan yang besar berpotensi mengganggu pengguna jalan  lain, dan lebih rawan terjadi kecelakaan. 

Pukul 9.10 WIB kami melaju menuju arah Subang  melewati pasar yang ramai dengan jalan penuh kendaraan. Lalu lintas padat merayap. Sesaat setelah melewati pasar, lalu lintas kembali lancar. Kami melewati jalan yang dinaungi pohon-pohon hijau dan rimbun. Geliat aktivitas warga makin kental terasa ketika kami berbagi jalan dengan rombongan sapi yang digiring  penggembala, pengendara motor yang memadati jok belakangnya dengan rumput gajah untuk pakan ternak, serta pedagang buah-buahan yang mengangkut rambutan dan durian di bak belakang motornya.



Pemandangan berganti menjadi  sawah yang tampak seperti  hamparan karpet hijau. Sementara jalan aspal pun berganti menjadi jalan beton. Setelah melewati jembatan  yang terbentang di atas sungai berair  coklat keruh,   kami menghadapi  jalan becek dan licin karena aspal yang mulai rusak. Kemudian jalan kembali mulus.



Kami istirahat shalat zuhur di sebuah SPBU di Indramayu. Rasanya lega bisa sejenak melepaskan pelindung siku dan lutut, sepatu boot, helm, masker dan jaket lalu membasuh wajah dengan air yang sejuk. Rasanya tentram bersujud mengungkapkan  segenap syukur dihadapanNya. Beberapa saat aku duduk santai di bawah pohon, mengobrol sambil makan tahu sumedang dan minum air putih yang banyak.

Sangat penting mengkonsumsi air yang cukup karena tubuh kehilangan banyak cairan lewat keringat saat touring.

Cara Paling Asyik Menikmati Hujan

Setelah melepas lelah, kami melanjutkan perjalanan. Memasuki Majalengka, langit  berangsur kelabu. Matahari tertutup mendung yang menggulung di langit. Menyaksikan sawah hijau dengan bukit yang membayang samar dan langit buram kelabu menimbulkan perasaan yang sulit kuungkapkan. Antara romantis, syahdu, sendu,   tapi juga nyaman.




 Aku suka mendung. Cuaca ini membawa kesejukan. Matahari tak mampu menyorot dengan sinar garangnya karena terbelenggu awan kelabu. Dengan pakaian tertutup, bermasker dan full face helm, lebih nyaman rasanya melaju di jalan  bernaung langit mendung dibandingkan bertualang di bawah langit terang dengan sinar matahari yang mencorong panasnya. Setidaknya aku tak perlu resah apakah krim tabir surya yang kuoleskan  sudah cukup melindungi kulit dari terjangan matahari. Hehehe... sebagai cewek tetap harus memperhatikan  perawatan kulit.

Langit mendung berarti tak lama lagi hujan  turun. Dan dugaanku benar. Kami menghentikan motor di kawasan pasar Talaga, Majalengka. Butir-butir hujan berukuran besar menghantam bumi bagai tercurah dari langit. Aku berlari ke sebuah emperan toko,  berteduh sambil  duduk di bangku kayu.  Akang  terpaksa hujan-hujanan membuka box  motornya. Box itu dilengkapi kunci di dua sisinya hingga tak bisa cepat dibuka. Tak lama kemudian dengan baju basah dia berlari menghampiriku.

Akang mengangsurkan jas hujan ungu dan sepatu boot karet padaku. Kami cepat-cepat mengenakan jas hujan itu. Agak repot , karena aku harus melepas sepatu boot kulit terlebih dahulu dan menggantinya dengan sepatu boot karet. Pelindung lutut harus dibuka lalu dipasang lagi dengan posisi sebagian masuk kedalam boot karet. Ukuran jas hujan sengaja dipilih yang agak besar sehingga pelindung siku dan lutut  muat dikenakan di dalam jas hujan. Aku tak memakai masker karena  debu jalanan tak akan mengganggu kala hujan seperti ini.

Pak Yugen, istrinya dan Pak Anton tampak berteduh di sebuah warung tenda. Mereka juga mengganti jaketnya dengan jas hujan. Ketika semuanya telah siap, kami melanjutkan perjalanan menerjang hujan.
Butir-butir hujan makin menderas. Jarak pandang menjadi terbatas sehingga kami mengendarai motor lebih lambat.

Tahukah, kawan? Ada banyak cara menikmati hujan. Aku sudah mencoba berbagai cara menikmati romantisnya  derai bening hujan yang berjatuhan menyerbu bumi.

Di masa kecil, aku sering berlari-lari merayakan kegembiraan turunnya rahmat Tuhan berupa curahan air dari langit bersama anak-anak kampung di sekitar rumah kakekku di Bandar Lampung. Tapi cara itu seringkali berakhir lara, karena Mami, Nenek dan Kakekku marah. Mereka bilang aku akan demam bila main hujan-hujanan, dan kata-kata mereka terbukti benar. Tak heran,  tubuh kecilku lemah dan mudah sakit. Salah satu penyebabnya karena aku dulu susah makan, hingga daya tahan tubuhku pun lemah. Akhirnya aku lebih sering mengintip ulah teman-temanku mandi hujan dari balik jendela dengan perasaan tak berdaya.

Cara menikmati hujan yang lebih damai adalah berkumpul di kamar, uyel-uyelan di tempat tidur bersama Mami, alm. Papi dan adik-adikku.  Hujan deras disertai petir dan geledek sekali pun tak membuat hatiku ciut karena aku bisa “nyungsep” dalam pelukan Papi yang hangat. Sedih bila mengenang saat itu, karena Papi kini sudah berada dalam pelukan Penciptanya.. Semoga Papi bahagia di sana, Aamiin..

Ketika menginjak remaja, aku sering menikmati suasana hujan sambil mendengarkan lagu lama yang romatis  “You’re my everything “ –nya Santa Esmeralda sambil membayangkan seperti apa jodoh dan cinta sejatiku kelak.

Cara menikmati hujan yang standar juga sudah pernah aku lakukan. Memandang keluar jendela, mengawasi rintik hujan yang membasahi tanaman sambil minum teh panas dan ngemil makanan kecil lalu  membiarkan lamunan melayang jauh.

Setelah bertemu jodoh, tentu berbeda lagi cara menikmati hujan. Di awal masa pernikahan, kami masih tinggal terpisah  karena aku dan Akang bekerja di perusahaan yang berbeda. Kami mengerjakan proyek pembangunan Asamera Corridor Block Gas di tengah hutan Sumatera. Tempat tinggalku di mess perusahaan yang terletak di pinggir jalan lintas Sumatera, sementara Akang tinggal di mess perusahaannya yang berada di tengah hutan. Akang biasanya datang ke mess-ku dengan mengendarai motor, menjemputku. Lalu kami melewati malam romantis di sebuah penginapan di Simpang Tungkal. Pagi-pagi akang mengantar aku ke mess dan dia kembali ke kantornya.

Hujan adalah peristiwa yang sangat menyedihkan bagi kami saat itu. Turunnya derai hujan menghapus kesempatan kami bertemu. Tumpahan air dari langit  membuat jalan tanah merah  yang terbentang dari mess Akang di tengah hutan  menuju jalan raya berubah menjadi  becek, lengket,  licin dan bonyok melebihi bumbu pecel atau gado-gado. Kondisi jalan seperti itu tak bisa dilalui  motor atau mobil biasa. Hanya jenis mobil yang dilengkapi double gardan yang bisa terus melewati jalan. Itu pun masih beresiko mengalami terbalik karena licinnya jalan. Dan Akang tak punya mobil seperti itu. Jadi,ya begitulah. Bila hujan turun,  ada sepasang hati pengantin baru yang pedih dan pilu menatap hujan, tersiksa rindu tanpa daya menuntaskannya. Hehehe...

Tapi dari semua cara menikmati hujan, yang  paling terasa spektakuler adalah yang kini aku alami. Tubuhku terbalut pakaian berlapis jas hujan. Sepatu karet sempurna melindungi dan  menghangatkan kaki sementara kepala terlindung full face helm. Hatiku terasa melayang dibuai laju si Kuning yang tak kencang. Aku terduduk nyaman diboncengan pria separuh jiwa, menerjang rintik  yang derasnya tak tanggung-tanggung. Meski bulir air  menghujam ke arah wajah tapi butir-butir dingin itu tak mampu menyentuhku. Butiran bening   silih berganti  pecah di lapis transparan penutup helm, kemudian mengalir dan tumpah ke bawah. Bunyi rintik yang mengetuk-ngetuk helm, dan sepatu karetku terdengar seperti ritme yang menentramkan jiwa. Aku merasa “masuk” ke dalam hujan, menikmatinya secara maksimal  tanpa tersiksa dingin. Terpaan air dari genangan yang tergilas roda mobil dari arah yang berlawanan pun tak menggangguku, malah rasanya seperti kejutan-kejutan yang menyenangkan. Sungguh aku sangat menikmati touring dalam suasana hujan.

Aku tersenyum-senyum menatap hujan. Seandainya saat kecil dulu aku punya jas hujan, helm dan sepatu karet, tentu aku bisa selalu bergabung bersuka ria bersama anak-anak kampung teman masa kecilku. Menikmati setiap tetes hujan dengan keriangan tiada tara.  Aku tak akan terserang demam, meskipun dengan segala perlengkapan ini   penampilanku paling aneh sendiri.

Kueratkan pelukan ke pinggang Akang. Ada perasaan hangat yang mengaliri hatiku.  Menatap gulungan awan kelabu  tebal, hatiku bersyukur atas segala romantisme yang tercipta dari peristiwa alam  ini. Betapa hujan telah membawaku mengenang masa lalu yang berkesan, dan  membuatku merasa jatuh cinta lebih dalam lagi pada jodoh pilihanNya, Akang.

Melintas di Cikijing, hujan belum juga reda. Tampaknya hujan seperti ini akan terus berlangsung hingga malam, bahkan hingga berganti hari.

Tiba-tiba sebuah genangan air yang luas terpampang di depan kami. Jalanan banjir! Akang makin memperlambat laju si Kuning. Perlahan Pak Yugen melaju, dia memilih melewati bagian tengah jalan. Kami menunggu dengan hati berdebar. Jalan banjir seperti ini menyimpan potensi bahaya. Air menutup semua  permukaan jalan hingga tak terlihat apakah jalan  mulus, berlubang atau berbatu. Tak tampak pula  batas parit di pinggir jalan, karena itulah Pak Yugen memilih jalan dibagian tengah untuk menghindari motor terperosok ke parit.

Pak Yugen berhasil melewati genangan  dengan mulus. Sekarang giliran Pak Anton. Kami sedikit khawatir karena motornyalah yang paling rendah dibandingkan BMW dan Versys. Kami takut air yang lumayan tinggi membuat mesin motor padam.

Mesin motor  menggeram-geram, lalu Pak Anton bergerak perlahan  melewati setiap inchi genangan dengan hati-hati. Alhamdulillah motornya bisa lewat. Dan kami pun lewat tanpa masalah.

Akhirnya, diiringi hujan rintik-rintik kami tiba di Kuningan. Kami sempat salah jalan ketika bermaksud menuju kawasan Sangkanhurip. Setelah bertanya pada penduduk, kami berbalik arah dan akhirnya menemukan jalan yang tepat.

Di Kuningan, ada sebuah desa bernama Sangkanhurip yang menjadi lokasi berbagai tempat penginapan, mulai dari hotel berbintang, hotel melati  hingga penginapan sederhana. Desa Sangkanhurip memiliki sumber mata air panas alami. Ada tempat  pemandian air panas untuk umum, seperti kolam renang Cipanas. Tapi ada juga beberapa hotel berbintang yang memiliki fasilitas  spa dan kolam air panas alami, misalnya hotel Grage dan Hotel Tirta Sanita.

 Resort Prima Sangkanhurip 

Kali ini kami memilih menginap di Resort Prima. Resort ini terletak di kaki gunung Ciremai tepatnya di Jl. Panawuan no 121 Sangkanhurip, Kuningan. 



Hotel ini menyediakan kamar  deluxe, standard, superior, new superior dan bungalow yang berbentuk rumah kayu tradisional. Di bagian belakang hotel, deretan bungalow ditata seperti sebuah perkampungan dengan setting tahun 1928.  




Areal resort ini sangat luas, dilengkapi convention hall, lapangan tenis, kolam renang, masjid, areal bermain anak-anak, restaurant, tempat perkemahan, jogging track, fasilitas outbond, fishing dan taman yang luas. 



Ternyata kamar yang tersedia hanya ada satu bungalow yang terdiri dari dua kamar, dan satu kamar deluxe. Pas sekali. Bungalow untuk Pak Yugen, istrinya, aku dan Akang. Sedangkan Pak Anton mendapat kamar Deluxe .



Jam menunjukkan pukul 14.53 ketika kami memasuki bungalow yang berbentuk rumah kayu tradisional. Ada dua kamar, satu kamar mandi, satu dapur,  dan ruang tamu yang menjadi satu dengan  ruang makan.
Rasanya lega bisa melepas jas hujan, lalu mandi dan istirahat.

“Malam ini kita ke rumah Wak Eno yuk.”

Ajakan Akang itu kubalas dengan anggukan.

Almarhum kakek-nenek Akang dan ayah mertuaku berasal dari desa Setianegara yang letaknya di kaki gunung Ciremai tak jauh dari Sangkanhurip. Wak Eno adalah salah satu kerabat yang paling dekat dengan ayah mertuaku.

Tujuan kami touring ke Kuningan sebenarnya  ingin berziarah ke kubur almarhum kakek. Dimasa hidupnya, kakek dan nenek  yang dipanggil Abah dan Emak  sangat dekat dengan Akang . Desa Setianegara pun menyimpan banyak  kenangan manis saat Akang berkunjung ke rumah Abah dan Emak.

Sayang sekali hingga malam, hujan tak kunjung berhenti. Kami akhirnya mengurungkan niat pergi ke Setianegara sambil berharap esok pagi cuaca akan cerah.

Tempat Pemakaman Terindah

Tampaknya  awan mendung yang kemarin menggantung  tebal di langit telah tuntas dicurahkan seluruhnya ke bumi. Pagi yang cerah menyapa kami. Aku dan Akang siap berangkat menuju desa Setianegara.

Si Kuning melesat menelusuri jalan yang menanjak ke arah gunung Ciremai. Kami melewati gedung bersejarah tempat diselenggarakan perjanjian antara Republik Indonesia dengan pemerintahan Belanda tanggal 11-12 November 1946 yang disebut gedung perjanjian Linggarjati.


Rumah model Belanda itu pada tahun 1918 hanyalah sebuah gubuk sederhana milik seorang wanita bernama Jasitem. Kemudian di tahun 1921 gubuk tersebut dirombak menjadi bangunan semi permanen oleh seorang Belanda. Tahun 1930 rumah itu dirombak lagi menjadi bangunan permanen dan menjadi rumah tinggal  keluarga Van Os. Banguan itu pernah dijadikan hotel Rustoord, hotel Hokay Ryokan,  dan hotel Merdeka pada tahun 1945. Lalu pada tahun 1946 menjadi saksi sejarah dilaksanakanya perjanjian Linggarjati yang menghasilkan naskah Linggarjati. Sejak tahun 1976 bangunan ini ditetapkan sebagai museum memorial.

Kami tiba disebuah areal persawahan di mana ditengahnya terdapat  pemakaman penduduk. Beberapa pohon kamboja tumbuh di kiri-kanan jalan masuk seolah menjadi pintu gerbang. Di sinilah terdapat makam Abah.

Alhamdulillah hujan deras yang mengguyur hingga malam ternyata tak membuat tanah pemakaman becek.
Aku dan Akang segera menelusuri deretan batu nisan yang tersusun rapi, menuju makam Abah. Kami menemukan makam Abah terletak di undakan yang lebih rendah, tapi masih berada lebih tinggi dari persawahan. Makam Abah terlihat bersih dan terawat.



Aku dan Akang kemudian mendoakan Abah.  Aku tak sempat mengenal sosok Abah, karena Abah meninggal saat aku baru mengenal Akang. Tapi aku kenal Abah dari kisah-kisah yang mengalir dari mulut Akang, juga dari kedua mertua dan ipar-iparku. Lelaki bertubuh tinggi besar itu telah berjasa membuka jalan bagi anak cucunya meraih kehidupan yang baik. Kalau saja dia tak punya pikiran untuk pergi merantau sampai ke Palembang, mungkin kehidupan anak cucunya tak akan jauh berbeda dari penduduk desa Setianegara, menjadi petani yang menggarap kebun dan  sawah.



Abah yang tak pernah mengenyam bangku sekolah ternyata memiliki pemikiran yang maju. Dia sangat mementingkan pendidikan anak satu-satunya yaitu ayah mertuaku. Dia bekerja keras membiayai ayah mertuaku sekolah. Harapannya, ayah mertua bisa menjadi seorang insiyur. Tapi sayang sekali harapan itu pupus. Karena keterbatasan biaya, ayah mertuaku tak bisa kuliah di ITB meskipun sudah dinyatakan lulus ujian masuk perguruan tinggi teknik tersohor itu. Abah menangis  pilu karena biaya masuk ITB seharga motor vespa zaman itu tak mampu dipenuhinya.

Harapan Abah untuk memiliki keturunan yang menjadi insinyur terwujud ketika Akang menjadi sarjana teknik mesin. Betapa bangga Abah pada cucunya.

Bila mengenang kisah itu aku pun larut dalam haru. Di dalam  hati aku berterimakasih pada Abah. Tak lepas dari perjuangannya Abah juga, kami bisa memperoleh penghidupan yang jauh lebih baik.

Sepanjang hidup sudah lumayan banyak aku mengunjungi komplek pemakaman. Kebanyakan area pemakaman di Lampung,  Palembang dan Bogor terlihat semrawut. Apalagi di Palembang. Seringkali sulit menemukan lokasi makam tempat saudara atau kerabat dikuburkan, karena letak nisan seolah tumpang tindih tak beraturan. Belum lagi aura yang melingkupi area pemakaman membuat perasaan tak nyaman.

Berbeda dengan kompleks pemakaman yang lain, lokasi makam Abah adalah kuburan paling indah yang pernah aku kunjungi. Deretan nisan tersusun rapi tak semrawut. Lingkungan bersih terawat, ditambah lagi latar belakang gunung dan sawah yang cantik. Udara segar dan pemandangan indah membuat tak ada rasa ngeri atau perasaan tak enak. Semoga Abah tenang di alam sana. Aamiin..

Kemudian kami kembali meluncur, menyisir jalan mendaki ke arah gunung Ciremai hingga sampai di desa Setianegara. Kami mampir ke rumah Wak Eno.


Wak Eno dan istrinya,  Wak Eroh tengah duduk santai. Anak-anaknya, Tety dan Opi juga ada disana. Kami disuguhi white coffe dan makanan kecil tradisional, rempeyek dan keripik pisang.



Wak Eno dan Wak Eroh membagi kisah hidupnya yang sangat menarik. Ketika kebaikan menjadi investasi, seorang buruh bangunan dan tukang kayu seperti Wak Eno pun bisa meraih kesejahteraan hidup. Kisahnya ada di sini
Kami tak bisa terlalu lama ngobrol, karena sudah berjanji pada Pak Yugen dan Pak Anton, pukul 9 akan melanjutkan perjalanan ke Baturraden – Purwokerto.

Kami kembali ke bungalow, menikmati makan pagi di warung kopi 1928 bersama Pak Yugen, istrinya dan Pak Anton.

Pukul 9.08 WIB, setelah packing dan selesai mengurus administrasi hotel, kami berangkat menuju Baturraden.

04 Februari 2015

Roti Gandum dan Manfaatnya Bagi Program Diet

Roti Gandum

Dulu aku terbiasa mengkonsumsi  roti-roti putih lembut, wangi mentega, lezat dengan topping keju, selai, coklat dan lain-lain. Tapi sejak akrab dengan diet penurunan kadar lemak tubuh, roti gandum menjadi  sebuah bagian penting dalam menu  makananku. Awalnya roti itu terasa tidak enak, keras, dan asing di mulut.  Sungguh kontras rasanya, antara roti enak dengan roti sehat.  

Untuk sehat memang butuh perjuangan. Termasuk juga perjuangan membiasakan makan roti gandum. Sejak mencicipi roti gandum bertabur jintan hitam saat menunaikan ibadah haji, lidahku sudah mulai bisa menemukan kelezatan pada makanan itu.

Untungnya aku sudah menemukan beberapa tempat yang menjual roti gandum dengan beberapa variasi. Ada yang bertabur biji-bijian, diisi kismis, kacang hijau, kacang merah, buah-buahan kering, bahkan ada yang beraroma kayu manis. Roti gandum itu dibuat dengan campuran minyak zaitun sehingga lebih sehat dibandingkan roti biasa yang dimasak dengan mentega atau margarin.

Lalu apa yang membuat roti berwarna coklat, agak keras  dan bertekstur kasar ini istimewa? Tak lain karna kandungan gandum utuh yang dicampurkan pada adonannya. Kandungan dan manfaat roti gandum adalah sebagai berikut :

1.       Serat.

Biji gandum utuh yang dicampurkan pada adonan roti gandum membuat makanan ini kaya serat. Roti putih biasa hanya mengandung 0,5 gram serat tiap lembarnya, sedangkan roti gandum mengandung 2 gram serat. Kandungan serat ini baik untuk pencernaan.

Serat membantu meningkatkan gerakan peristaltik usus, yaitu gerakan serupa gelombang untuk menjaga pergerakan makanan saat melewati saluran pencernaan. Makanan berserat tinggi membuat dinding usus lebih mengembang, sehingga sisa-sisa makanan bisa melewatinya dengan mudah dan tidak berlama-lama singgah di dalam usus.

Berdasarkan jurnal study penelitian yang dipublikasikan American Journal of Clinical Nutrition, menemukan bahwa orang-orang yang mengkonsumsi makanan berserat tinggi seperti gandum, jewawut,  dan sayur-sayuran mengalami penurunan kadar kolesterol mendekati 30 persen setelah 4 minggu.

Makanan tinggi serat juga membantu mengurangi resiko  penyakit jantung dan diabetes serta menjaga dan mempertahankan berat tubuh yang  terkontrol.

2.       Protein

Roti gandum biasanya lebih keras dibandingkan roti putih, itu karena kadar gluten atau protein dalam roti gandum lebih tinggi dibandingkan roti putih. Makin keras roti gandum, makin banyak kandungan proteinnya. Rata-rata kandungan protein dalam selembar roti gandum adalah 5 gram.

Fungsi protein adalah membentuk sel dan semua jaringan tubuh. Tapi ada satu manfaat protein yang sangat penting terutama untuk program diet yaitu membantu proses metabolisme terutama pembakaran lemak.  Karena itulah saat diet disarankan mengkonsumsi makanan berprotein tinggi.

3.       Karbohidrat

Meskipun kadar karbohidrat pada roti gandum lebih tinggi dibandingkan pada roti putih, tapi karbohidrat dalam roti gandum memiliki kandungan glikemik rendah, sehingga aman dikonsumsi oleh orang yang memiliki kadar gula tinggi misalnya penderita diabetes.

Makanan yang memiliki indeks glikemik rendah menciptakan rasa kenyang yang lebih besar dan bertahan lama, sehingga jenis makanan ini sangat membantu dalam program diet.

4.       Bibit Gandum

Bibit gandum yang terkandung dalam roti gandum  mengandung vitamin E yang baik bagi kulit dan juga omega-3 yang baik bagi perkembangan otak.

Program diet tidak hanya bertujuan untuk menurunkan berat badan atau mendapatkan tubuh yang langsing. Namun manfaat diet yang sebenarnya adalah untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. 

Dengan banyaknya manfaat roti gandum yang baik untuk menunjang program diet, tak salah rasanya bila menjadikan roti gandum sebagai alternatif sumber karbohidrat pengganti nasi.

Yuk makan roti gandum!


03 Februari 2015

Manfaat Wakame

Tumis wakame
Ceritanya hari ini aku masak soup sea food buat anak-anak. Tapi entah karena  melamun atau  sedang tidak fokus, ternyata aku terlalu banyak merendam Wakame.

Ada yang belum tahu Wakame? Yang akrab dengan masakan Jepang dan Korea pasti sudah tahu. Wakame adalah sejenis rumput laut dari spesies Undaria pinnatifida yang hidup di peraian Jepang. Rumput laut ini umumnya digunakan sebagai sayuran hijau oleh masyarakat Jepang.

Wakame yang dikeringkan  dijual dalam kemasan plastik. Biasanya dijual di supermarket besar. Sebelum dimasak, wakame direndam selama beberapa saat dengan air biasa hingga mengembang.

Wakame kering, wakame segar dan wakame dalam kemasan


Wakame biasa digunakan dalam masakan sup dan salad. Rasa dan aromanya khas. Menurutku aromanya mengingatkan aku pada  laut. Rasanya segar dengan sedikit asin  khas rumput laut.Tekstur wakame juga khas, licin dan “kres-kres” saat dikunyah. Dalam masakan miso sup, wakame menjadi pelengkap bumbu yang menghasilkan paduan rasa khas miso sup.

Miso Sup

Kembali lagi ke dapurku. Wakame yang terlalu banyak ini tentu sayang bila dibuang. Akhirnya aku memutuskan menumis wakame dengan sedikit minyak zaitun, bawang putih dan bubuk cabai. Aku tak menambah garam karena wakame sudah mengandung garam.

Rasanya? Enak juga... Hehehe... dan yang jelas makan tumis wakame untuk makan siang ini membuat aku merasa  cepat kenyang. Kandungan seratnya yang tinggi membuat perut tak cepat lapar.

Kandungan gizi wakame sangat baik. Rumput laut ini memiliki kadar Kalsium, Iodin, Thiamin, Niacin yang tinggi. Tak heran di Korea sup ini banyak di konsumsi oleh wanita hamil dan menyusui karena kandungan Kalsium dan Iodin yang baik bagi pertumbuhan bayi.

Dalam pengobatan tradisional, wakame digunakan untuk membersihkan darah, memperbaiki pertumbuhan rambut dan kulit, menguatkan sistem pencernaan, baik untuk organ reproduksi dan membantu melancarkan datang bulan.

Manfaat lain wakame adalah sebagai salah satu makanan yang bisa mencegah penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, kanker dan obesitas. Yang sangat penting diketahui bagi teman-teman yang sedang diet adalah sebuah senyawa yang terkandung dalam wakame mampu  membantu pembakaran lemak. Wakame juga rendah lemak dan rendah kalori sehingga ideal  bagi orang yang  tengah menjalani   diet rendah lemak dan rendah kalori. Cihuy kan? Catat!

Begitu banyak manfaat yang terkandung dalam rumput laut ini bagi kesehatan. Karena itu mari kita sering-sering makan wakame!