29 Januari 2015

Risoles untuk Pasukan



Punya seorang tante yang baik hati, periang,  hobi masak dan senang mengundang makan-makan merupakan sesuatu yang istimewa bagi Felli.  Tante Mira, lengkapnya Mira Coryati, adalah  satu-satunya adik mama Felli. Dia seorang ibu rumah tangga, yang benar-benar menikmati perannya.  Dua orang anak  Tante Mira tengah kuliah di Singapore dan Belanda. Suaminya, Om Danang, adalah pengusaha sukses yang sibuk  mengurus bisnisnya.

Bagi Felli, cara Tante Mira menikmati hidup  sangat berkesan. Dia suka masak, lalu mengundang teman, saudara, kenalan, dan tetangga, datang ke rumah menikmati masakannya.  Dia senang menyusun menu masakan, mencoba resep baru,  berbelanja bahan-bahan makanan, dan bersibuk ria di dapur.  Dari sekian banyak masakan lezat hasil racikan Tante Mira, yang paling istimewa adalah risoles mayones. Tak seperti risoles yang dijual di toko kue, rasa risoles buatan Tante Mira jauh  lebih istimewa.

Keluarga dan teman-teman dekat Tante Mira sangat suka dengan cemilan istimewa itu. Setiap kali berkumpul, mereka selalu minta Tante Mira menyediakan risoles.

“Tante buat sendiri mayones-nya. Bukan mayones yang beli di supermarket. Itu rahasianya.” Ucap Tante Mira saat  Felli menanyakan keistimewaan rasa risolesnya.

Hal yang paling membuat Tante Mira bahagia adalah ketika orang-orang menyukai masakannya.  Felli sering  tersenyum sendiri melihat ekpresi wajah Tante Mira dengan mata kejora serta  pipi cubby   kemerahan tertarik ke atas , terdesak oleh senyum lebar yang mengembang dibibirnya. Ekspresi itu selalu menghias wajah Tante Mira  kala melihat semua hasil masakannya, terutama risoles, ludes disantap tamu.

Di akhir minggu, seringkali Felli menginap di rumah Tante Mira , terutama saat Om Danang harus keluar kota mengawasi bisnisnya.  Hubungan Felli dengan Tante Mira sangat dekat. Gadis muda itu  tak ingin Tante kesayangannya kesepian apalagi sejak anak-anak sang Tante melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Suatu pagi di akhir minggu, Felli menemani Tante Mira  sarapan. Di tengah obrolan seru, telepon selular sang Tante berdering. Dia mengangkatnya. Felli melihat mata tante kesayangannya  berbinar-binar.

“Oya, kamu sama siapa? Jam berapa datangnya? Siang ini?  Iya deh,  Tante buatkan risoles  kesukaanmu dan juga makan siang. Tante tunggu ya!” Ujarnya.

Ketika menutup telepon, Tante Mira terlihat panik. Dipandanginya jam dinding di ruang duduk, lalu setengah berlari dia  menuju ruang makan, dan membuka lemari es .

“Ada apa, Tante? Siapa yang mau datang?” Tanya Felli.

“Ricky. Siang ini dia mau mampir ke sini. Sama pasukan,lho.  Ramai. Aduh, ini sudah agak siang, takut tidak sempat bikin  risoles!” Ujarnya panik.

Ricky adalah salah satu keponakan Om Danang yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta. Sudah 2 tahun Tante Mira dan Om Danang  tidak bertemu Ricky. Karena sibuk kuliah, Ricky jarang berkunjung.

Felli mengerti mengapa Tante agak panik. Tentu dia ingin menjadikan pertemuan ini  terasa istimewa dengan menyediakan  masakan yang lezat kesukaan Ricky.

“Untung saja mbak-mbak sudah masak nasi dan lauknya. Tinggal   menambah beberapa macam lauk saja, sudah beres. Kamu bisa mengawasi mereka kan, sayang?” Tante Mira memandang Felli dengan tatapan memohon. Yang dipanggil Tante Mira dengan sebutan “mbak-mbak” adalah dua orang asisten rumah tangga yang biasa membantu memasak dan mengurus rumah.

“Bisa, Tante. Kan lauknya sudah dibumbui, tinggal dipanggang atau digoreng. Ada di lemari es kan ?” Felli balik bertanya.

“Iya. Tolong ya, sayang.Tante harus bikin risoles. Ricky tadi bilang dia rindu makan risoles. Terakhir main ke sini dia makan 10 potong sendiri! Apalagi dia akan datang bersama pasukan. Tante harus bikin yang banyak. Waduh, harus cepat-cepat belanja bahan-bahannya, nih!”

Detik selanjutnya Tante Mira bergegas berangkat ke supermarket. Tak lama kemudian dia kembali lagi. Dibantu dua orang asisten, dia “berjibaku” di dapur membuat risoles istimewa.

Menjelang jam makan siang, di meja telah tertata nasi panas , pindang ikan, ayam panggang, tempe goreng, tahu goreng, cah kangkung, lalapan dan sambal.  

Felli melihat wajah Tante Mira masih terlihat cemas ketika si mbak meletakkan sepinggan besar risoles hangat di atas meja.

“Cukup tidak ya risolesnya? Ricky datang sama pasukan lho. “ Ujarnya cemas.

Felli   bengong melihat kepanikan Tante Mira. Risoles dan hidangan di meja makan ini kelihatannya cukup untuk menjamu sekitar 20 orang yang gembul-gembul alias makannya banyak. Memangnya pasukan yang mau datang berapa orang sih?

 “Coba kalau Ricky memberitahu kedatangannya dari kemarin, tidak mendadak seperti ini. Tante bisa buat risoles lebih banyak lagi.” Ujar Tante Mira.

Saat itu terdengar bunyi klakson mobil,  disusul suara pintu gerbang dibuka.

“ Itu pasti Ricky!” Seru Tante Mira.

Felli dan Tante Mira  berlari ke depan rumah untuk menyambut Ricky.

Sebuah mobil biru mungil memasuki halaman rumah. Setelah terparkir, Ricky turun dari mobil diikuti seorang laki-laki  kurus  setengah baya .

Ricky tersenyum lebar, pemuda gagah itu menghampiri Tante Mira dan menyalaminya.

“Apa kabar, Ricky? Mana teman-temannya yang lain?” Tanya Tante Mira.

Ricky bengong.

 “Kabar baik, Alhamdulillah. Teman-teman yang mana ya, Tante?”

“ Lha, katanya tadi mau datang sama pasukan.” Sahut Tante Mira.

“O iya, ini lho Tante. Kenalkan, ini Pak Sukan. Dia akan menjadi mentor Ricky  selama  belajar bisnis di sini.” Ujar Ricky sambil menunjuk pria kurus setengah baya yang datang bersamanya. Pria itu membetulkan letak kaca matanya dan tersenyum memandang Felli dan Tante Mira.

“ Jadi, kalian hanya berdua saja?” Tante Mira masih tak percaya.

“ Iya, Tante.” Ricky menjawab sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Felli dan Tante Mira saling berpandangan, sejurus kemudian pecahlah derai tawa mereka. Ricky dan Pak Sukan berdiri kebingungan melihat Felli dan Tante Mira tergelak-gelak.

Ketika  Felli menjelaskan kesalahpahaman itu, Ricky dan Pak Sukan pun ikut tertawa. Ternyata Tante Mira salah kaprah. Di telepon tadi Ricky bilang akan datang ke rumah bersama Pak Sukan.  Sementara yang “ tertangkap” oleh Tante Mira, Ricky akan datang bersama pasukan, yang diartikannya sekumpulan orang yang ramai. Seperti teman-teman sekolah  yang dua tahun lalu diajak Ricky berkunjung ke rumahnya.

Hari itu Felli dan Tante Mira  tak berhenti mentertawai diri mereka sendiri. Betapa konyolnya bersibuk-sibuk masak dan menyiapkan makanan yang banyak, mengira akan diserbu segerombolan anak muda lapar, padahal yang datang hanya dua orang saja.

Lalu bagaimana nasib masakan Tante Mira ? Setelah Ricky dan Pak Sukan pulang, Felli memandang meja yang penuh makanan. Risoles istimewa masih bersisa sangat banyak. Gadis cantik berhijab pink itu memasukkan risoles dan makanan lainnya ke dalam plastik dan kotak. Lalu dia mengajak Tante Mira pergi.
“Kita mau kemana? “ Tanya Tante Mira bingung. Dia memandang Felli yang tengah mengemudikan mobil.

“Tenang, Tante. Sebentar lagi  kita sampai.” Felli melirik Tante Mira sambil tersenyum.

Felli memarkir mobil di depan sebuah bangunan tua yang suram.  “ Panti Asuhan  Kasih Ibu “ demikianlah tulisan yang terpampang pada papan  yang terpasang di dinding luar bangunan itu.

Suara tawa dan teriakan anak-anak balita terdengar dari luar. Felli mengetuk pintu. Seorang wanita setengah baya membuka pintu dan tersenyum ramah.

“Ibu, kami mau memberi makan siang buat anak-anak disini.” Ujar Felli pada wanita itu.

“Oh, Alhamdulillah... Terimakasih banyak untuk sedekahnya. “ Wanita itu tersenyum lebar lalu mepersilahkan masuk.

Adegan selanjutnya membuat Felli dan Tante Mira tenggelam dalam haru .  Puluhan anak-anak  dan balita yang kebanyakan bertubuh kurus  berbaris  menyalami mereka dengan tertib. Mereka lalu duduk di lantai  mendoakan Felli dan Tante Mira. Setelah selesai, Tante Mira mempersilakan anak-anak itu makan. Mereka menyambut  dengan antusias.

Bagaimana nasib risoles istimewa? Tentu saja habis tak bersisa. Sekali lagi Felli menangkap ekspresi wajah khas Tante Mira. Pipi cubby kemerahan yang tertarik ke atas, terdesak senyum lebar yang mengembang di bibirnya. Tapi kali ini mata kejora-nya berkaca-kaca, melihat anak-anak yatim-piatu berusia 3 sampai 12 tahun itu makan masakannya dengan lahap.

 “Seandainya Tante tidak salah mengartikan kata-kata Ricky, kita mungkin tidak sedekah dan silaturahmi ke sini ya. Sepertinya Tante harus rutin membuat risoles dan masakan yang banyak untuk menjamu pasukan yang sesungguhnya. “ Ujar Tante Mira sambil memandang  anak-anak panti asuhan itu.

Felli merangkul bahu Tante Mira. Ternyata salah kaprah pun ada hikmahnya. Felli tak mampu menyahut perkataan sang Tante, tangannya sibuk menghapus butiran hangat yang mengalir dipipinya.


26 Januari 2015

Panono, Kamera Bola yang Menakjubkan

Hobi jalan-jalan, berfoto dan menulis  membuat  kamera menjadi barang yang sangat penting  bagiku. Seringkali saat  jalan-jalan aku  melihat pemandangan  alam yang indah atau  arsitektur menakjubkan ciptaan manusia yang   membuat hati melonjak-lonjak kegirangan. Pemandangan yang terpampang di depan mata itu membangkitkan rasa syukur dan kekaguman pada Tuhan, karena dari Dialah segala keindahan berasal.
Selalu  tumbuh keinginan untuk mengabadikan kecantikan yang tertangkap mata saat itu.  Cara yang paling tepat mengabadikan keindahan panorama alam   tentu saja dengan memotret. Foto-foto hasil jepretan itu bisa menjadi pengobat rindu. Memandang foto bisa membangkitkan lagi kenangan indah saat mengunjungi suatu tempat. Lalu tentu saja foto-foto itu akan menjadi pelengkap tulisan yang kubagikan di blog atau media lain. Sebuah foto bisa memberi informasi lengkap karena pada hakikatnya foto mampu “berbicara” menyampaikan gambaran detail suatu tempat atau benda.

Memandang sebuah landscape cantik, ingin rasanya merekam semua dengan sempurna seperti layaknya apa yang tertangkap mata. Aku sering merasa kurang puas dengan gambar yang dihasilkan kamera biasa. Bukan masalah ketajaman gambarnya , tapi masalah sudut pandang terbatas yang bisa direkam kamera biasa.

Ada sebuah cara dalam fotografi yang dapat diterapkan demi memperoleh gambar landscape secara lebih lengkap.  Cara itu disebut panoramic fotografi . Sudut gambar yang dihasilkan dengan cara ini sangat lebar mendekati sudut pandang mata manusia. Memandang hasil foto panoramic membuat kita seolah-olah berada di tempat itu. Untuk menciptakan sebuah foto panoramic, fotografer biasanya memotret beberapa gambar dengan memutar posisi camera  demi merekam gambar dari berbagai sudut. Lalu hasil foto akan disatukan melalui proses “ image stitching”. Sayangnya, dengan camera biasa dibutuhkan waktu dan ketepatan, lalu bila ada objek yang tengah bergerak akan timbul efek  “ghosting” atau motion blur pada hasil foto. Selain itu, kamera juga tak mampu menghasilkan gambar panorama “bulat penuh” karena kamera terpasang di tripod. Hal ini menyebabkan kamera tak mampu menangkap gambar atau objek yang terpampang dibawahnya.

Ketika mendengar seorang insinyur komputer  lulusan Technische Universit├Ąt Berlin menciptakan sebuah camera 360 derajat yang mampu mengabadikan gambar seperti apa yang tertangkap mata manusia, aku jadi tertarik menuliskannya di sini.


Sang pencipta camera bernama Jonas Pfeil. Pemuda  ini menciptakan sebuah camera yang berbentuk bola dilengkapi 36 camera-fix focus 2 megapixel. Kamera ini dinamakan “Panono”.  Panono dioperasikan dengan cara dilemparkan keatas seperti melempar bola. Benda itu mampu menangkap gambar di semua arah secara bulat penuh.



Kamera Panono seolah menjawab semua kesulitan yang dihadapi saat melakukan panoramic fotografi.
Tampilan Panono benar-benar mirip bola. Ada lapisan busa yang melindungi camera. Cara penggunaannya pun tak berbeda dengan melempar lalu menangkap bola.

Ketika Panono dilemparkan, saat mencapai titik tertinggi, camera-camera pada Panono menangkap gambar panorama secara bulat penuh. Panono dapat menangkap adegan dengan banyak objek bergerak tanpa menghasilkan efek ghosting dan menciptakan gambar yang unik.


Sumber Foto :  dari Internet


Setelah sang fotografer menangkap bola, saat itu gambar bisa langsung di download dengan menggunakan USB dan secara otomatis ditampilkan  pada panoramic viewer. Sangat mudah. Hal ini membuat sang pengguna kamera bisa mengeksplorasi dan merekam  secara utuh pemandangan yang ada di suatu tempat.
Sayang sekali, Panono belum dipasarkan. Sang pencipta masih belum berpikir untuk membuat produk ini secara massal.


Aku sudah mulai bermimpi bisa punya Panono suatu hari nanti. Mudah-mudahan harganya tidak  terlalu  mahal sehingga bisa terjangkau kantungku.  Kapan dipasarkannya ya? Mari kita tunggu...

25 Januari 2015

Udang Telor Asin

Udang Telor Asin

Bahan :

-          Udang  ukuran sedang 1 kg, buang kepalanya. Jangan buang kulitnya. Cuci bersih.
-          Setengah sendok teh garam halus
-          Bubuk lada hitam secukupnya
-          Bubuk pala secukupnya
-          Bubuk kayu manis secukupnya (sejumput kecil dengan ujung jari)
-          Tepung terigu  100 gram
-          Saus tiram 2 sdm
-          5 siung  bawang merah  dan  4 siung bawang putih, haluskan.
-          Bubuk oregano secukupnya
-     1 sdt minyak wijen
-          3 butir telor asin matang, keluarkan isinya, haluskan.
-           minyak  goreng

Cara :

1.       Masukan udang kedalam wadah
2.       Taburi dengan garam, bubuk lada hitam, bubuk kayu manis, bubuk pala, aduk rata.
3.       Tambahkan saus tiram, aduk rata.
4.       Masukan tepung terigu, aduk rata.
5.       Goreng udang hingga matang, tiriskan.
6.       Tumis bawang merah dan bawang putih dengan 3 sdm minyak goreng.
7.       Masukan oregano dan minyak wijen
8.       Masukan telur asin, aduk-aduk.
9.       Masukan udang, aduk rata.
10.   Angkat dan letakkan di piring.

Catatan :
Kulit udang tidak dibuang karena fungsinya " mengikat " bumbu sehingga rasa masakan ini  spicy dan memanjakan lidah.


SELAMAT MENCOBA




24 Januari 2015

Kata Adalah Doa


Saat itu tahun 2005. Aku dan suamiku, si Akang, menikmati pagi yang cerah sambil menatap kecantikan Pagar Alam. Pagar Alam adalah sebuah wilayah dataran tinggi  di propinsi Sumatera Selatan yang berjarak 298 km dari kota Palembang.   Cantiknya Pagar Alam berwujud  kebun teh hijau terbentang dengan latar gunung Dempo yang berselaput  kabut tipis.  Vila-vila cantik bergaya tradisional  demikian serasi dengan alam. Kecantikan yang  membuai mata. Kami diam terbius indahnya alam.




“Enak ya, Neng kalau kita punya rumah dekat gunung seperti ini. Akang suka pemandangan gunung. Tapi kapan bisa tinggal di dekat gunung? Kalau kita tinggal di sini, ya tidak mungkin. Tempat ini terlalu jauh dari lokasi kerja Akang. Kemungkinan lain kita bisa bangun rumah di Kuningan Jawa Barat, di kaki gunung Ciremai kampungnya Babe. Tapi itu juga jauh dari lokasi kerja. Repot kalau kita paksakan  “

“Neng juga suka alam pegunungan. Sejuk. Bikin hati tentram. Mungkin kita harus panjang sabar. Kemungkinan kalau Akang sudah pensiun baru kita bisa tinggal dekat gunung. Lucu ya. Kita akan seperti tokoh  dalam cerita anak-anak. Sepasang kakek-nenek yang tinggal di kaki gunung. “ Sahutku sambil terkekeh.  

Perkiraan manusia   tak sejalan dengan skenario Tuhan. Itu karena manusia tak mampu menyibak misteri kehendakNya.

Tahun 2007, keadaan di perusahaan tempat suami bekerja mulai tak nyaman.  Akang merasa sulit menjalankan kebijakan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Dia ingin suasana kerja  baru yang lebih nyaman dan banyak tantangan. Hingga tahun 2008 setelah melalui rangkaian doa dan pertimbangan panjang, dia memutuskan untuk meninggalkan perusahaan itu di saat kariernya kian meroket.  Apa boleh buat, hati nurani tak bisa dipungkiri. Di saat genting, sebuah tawaran untuk pindah ke perusahaan lain menghampirinya. Sungguh pertolonganNya hadir di saat yang  tepat.

Meskipun perusahaan yang lama berusaha menahannya, tapi keputusan telah diambil. Akang hijrah ke perusahaan baru, yang juga bergerak dibidang minyak dan gas bumi.

“Kami beri waktu satu tahun. Tahun 2009 keluarga Pak Sutedja sudah harus bertempat tinggal di Jabodetabek. Tidak boleh diluar itu. “ Demikianlah ketentuan  dari perusahaan yang baru.

Setelah menunaikan ibadah haji tahun 2008, kami harus bergegas pindah dari Palembang ke wilayah Jabodetabek.

Selanjutnya, kami seperti setrikaan. Bolak-balik dari Palembang menelusuri Jakarta, Bintaro, Bumi Serpong Damai, Cibubur dan wilayah lain yang kira-kira nyaman untuk ditinggali.  Di saat waktu kian menyempit, penelusuran kami tiba di Bogor.

Salah seorang teman Akang menyarankan kami melihat sebuah perumahan di Bogor. Ketika akhirnya aku bisa mengunjungi tempat itu, aku langsung suka. Udara Bogor sejuk dan orang-orangnya ramah. Lalu mulailah pencarian kami berburu rumah di Bogor.

Satu hari tersisa dari batas akhir kunjungan kami ke Bogor. Aku sudah mulai putus asa. Tak mudah mencari rumah yang tepat.  Mencari rumah ibarat mencari jodoh. Harus ada  chemistry yang terbangun antara kami dengan rumah idaman itu. 

Hingga sore menjelang maghrib, kami tiba di depan sebuah rumah. Penampilan rumah itu membuat aku ragu. Ini masalah  kemampuan kami membelinya. Jangan-jangan kami tak sanggup membayar harga rumah ini.

“Coba saja tanya, siapa tahu harganya masuk akal.” Nada suara Akang terdengar tak yakin.

Jatuh cinta. Itulah ternyata chemistry yang terbangun antara aku dan rumah itu. Hati nyaman dan tentram berada di dalamnya.  Harga rumah itu pun ternyata masih  masuk akal, masih terjangkau dalam perhitunganku.

Malam itu aku tak bisa tidur. Kelakuanku persis anak muda  yang sedang jatuh cinta. Setiap sudut rumah itu terbayang-bayang sepanjang malam.  Rasanya aku akan merana bila tak bisa memilikinya.

Rencana pun disusun.  Dengan uang tabunganku ditambah menjual salah satu rumah di Palembang kami bisa membayar harga rumah idaman itu. Rumah di Palembang  sudah akan dibeli orang. Orang itu bahkan  sudah membayar uang muka sejumlah 100 juta rupiah.  Tampaknya semua akan berjalan lancar dan mudah.

 Tapi perjuangan meraih rumah idaman tak semudah itu. Tiba-tiba orang yang berniat membeli rumah di Palembang mengurungkan niatnya. Aku dan Akang tak sampai hati memotong uang yang telah ditransfer ke rekeningku. Kemudian kami mengembalikan semua uang muka itu.

Kini kami menghadapi masalah besar. Tak jadi menjual rumah artinya kami kekurangan dana untuk membayar rumah idaman. Jumlah kekurangan itu tidak sedikit. Mau bagaimana? Pinjam di bank? Pinjam ke teman-teman? Tak semudah itu meminjam uang dalam jumlah besar. Kalau pinjam ke bank kami bakal terkena bunga bank yang memberatkan.

Hatiku pedih. Cintaku pada  rumah idaman di Bogor  tampaknya harus layu sebelum berkembang. Aku tak tega memaksa Akang meneruskan rencana membeli rumah itu. Kenyataan pahit yang harus kutelan adalah kami tak sanggup membayar. Titik. Solusinya adalah mencari rumah lain yang harganya lebih murah.

Siang itu setelah meeting di kantornya, salah seorang atasan Akang menanyakan kesiapan kami pindah.
“Bagaimana, Pak? Kapan akan pindah ke Jabodetabek? Sudah dapat rumahnya? “ Tanya sang atasan.
Mulanya Akang ragu mengutarakan permasalahan kami, tapi sang atasan meyakinkannya. Akhirnya mengalirlah curhat Akang.

“Oh, begitu masalahnya. Baiklah, saya usahakan nanti Pak Sutedja  mendapat pinjaman  tanpa bunga dari perusahaan melalui program kepemilikan rumah. Saya usahakan secepatnya. “

Kata-kata sang atasan bagaikan oase di padang tandus.  Seperti sebuah keajaiban. Bagaimana tak takjub, Akang baru saja diterima di perusahaan itu. Baru beberapa bulan. Padahal kalau merunut dari peraturan setidaknya karyawan baru bisa memperoleh pinjaman kepemilikan rumah setelah bekerja selama beberapa tahun.  Masya Allah...

Alhamdulillah... akhirnya semua bisa berjalan lancar. Bulan Februari 2009, rumah itu resmi menjadi milik kami.

Mataku basah. Hatiku  dibanjiri rasa syukur tiada tara  kala menatap pemandangan melalui balkon rumah idamanku. Ingatanku kembali pada untaian kata yang terucap di tahun 2005, di kaki gunung Dempo Pagar Alam.


 “Nggak nyangka ya, Neng... Ternyata ucapan Akang diijabahNya. Empat tahun saja jarak waktunya. Dia bukan saja mengabulkan harapan kita ingin tinggal di dekat gunung, tapi Dia juga memilihkan lokasi yang tepat buat kita. Bukan di Pagar Alam, bukan juga di Kuningan. Tapi di sini, di kaki gunung Salak di Bogor. Jarak yang tak terlalu jauh untuk di jangkau dari kantor Akang di Jakarta.  “ Ucap Akang penuh haru.

Ya Allah. Ternyata kata adalah doa. Dan doa itu diijabahNya. Tiada yang tak mungkin bila Dia membukakan jalan.


Sebuah kata bijak memenuhi relung pikiranku. “ Berdoalah! Bukan hanya untuk hajat kita dipenuhi, tetapi karena banyak yang perlu kita syukuri.”

Kata adalah doa, bisa terwujud karena kemurahanNya. Mari kita berkata-kata yang baik, sehingga yang terwujud adalah hal-hal yang baik.


21 Januari 2015

Sebuah Renungan Tentang Rezeki


Salah seorang temanku, sebut saja namanya Milla,  senang sekali belanja barang-barang branded.  Kalau dengar kabar ada “sale” di sebuah mall besar di kawasan Pondok Indah, dia pasti hadir duluan. Tas dan sepatunya banyak, demikian juga baju-bajunya. Tapi baju, tas dan sepatu mahalnya hanya dipakai sekali-sekali saja kalau ada undangan pesta atau kumpul-kumpul dengan teman. Sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang tugasnya antar jemput anak sekolah dan les, dia pakai baju seadanya, yang itu-itu saja.

Suatu hari aku menjemputnya untuk acara arisan. Di rumahnya, kulihat Milla sedang heboh mencari-cari sepatu yang cocok dengan bajunya.

“Duuh, ntar dulu ya, say. Aku cari sepatu biru dongkerku. Di mana ya...”

Milla sibuk membongkar-bongkar kotak-kotak sepatunya. Aku juga ikut membantu membuka satu persatu kotak sepatu koleksi Milla.

Setelah beberapa saat, akhirnya Milla berseru.

“Nah.. ini dia, aku ingat merknya ini. “

Milla mengambil sebuah kotak sepatu dari sudut paling bawah. Dibukanya kotak sepatu itu lalu dia mengeluarkan sepasang sepatu kulit biru dongker.

“ Ya ampun... Kok begini?!” Teriak Milla. Tampangnya rusuh.

Sepatu biru dongker dengan merk terkenal itu tampak aneh. Kulitnya kering, keriput dan retak-retak.  Saat Milla menyentuhnya, kulit keriput sepatu itu rontok.

“Aduh...Kok begini? Sepatu ini belum pernah kupakai. Harganya mahal, aku sampai menabung 2 bulan demi beli sepatu ini. Disayang-sayang kok  malah rusak.” Milla terlihat sangat kecewa.

“Iya, sayang sekali. Sepatu mahal ini ternyata bukan rezekimu.” Sahutku.

“Lho, kok?” Milla menatapku bingung.

“Ya, iyalah. Memangnya kau mau pakai sepatu ini sekarang?” Tanyaku.

Milla menggeleng.

“Nah, terus mau diapakan? Diberikan ke orang juga siapa yang mau pakai sepatu “trondol” begini? Kalau dikasihkan ke pengrajin sepatu mungkin hak sepatunya masih bisa dipakai.” Ucapku.

Milla terduduk lesu.

“Ini bukan pertama kalinya. Kemarin aku bongkar lemari baju. Banyak baju-baju baru yang belum pernah dipakai ternyata sudah bolong-bolong dimakan rayap. Terlalu lama disimpan. “

“Aduh Milla... sayang sekali. Lagi pula kenapa tidak kau pakai baju-baju itu atau kalau tak terpakai berikan saja pada orang lain yang membutuhkan. Aku perhatikan sehari-hari kau sukanya pakai baju yang itu-itu saja. “

“Diberikan pada orang lain? Dipakai sendiri saja jarang karena sayang,  bagaimana mungkin aku berikan pada orang lain? Bajunya  mahal, lho. Anak-anakku suka makan coklat, permen, ice cream. Mereka suka manja-manjaa dipangkuanku. Kalau bajuku kena noda kotoran kan sayang...”Mila beralasan.

“Lha.. noda kan bisa dicuci. Kalau baju disimpan saja terus dimakan rayap lebih sayang lagi kan? Baju-baju itu akhirnya jadi rezeki rayap bukan rezekimu.” Sahutku.

“Mungkin  aku harus introspeksi diri ya.” Milla berkata lirih.


Perkara yang mirip dengan prilaku Milla kujumpai juga pada Abah Aep (  bukan nama aslinya).  Laki-laki sepuh itu tiap pagi rajin menyapu halaman rumahnya. Dia ramah , gemar menebar senyum lebar memamerkan gigi ompongnya.

Abah Aep dulunya bukan orang kaya. Bahkan dia pernah termasuk dalam daftar orang yang patut menerima zakat atau sedekah karena hidup di bawah garis kemiskinan. Tapi Abah Aep seorang pekerja keras. Upayanya membanting tulang  menghidupi keluarga selama puluhan tahun dan membiayai anak-anaknya sekolah kini telah terbayar lunas. Anak-anak Abah Aep   berpendidikan tinggi. Hidup mereka pun sudah mapan.  Anak sulungnya  bekerja dan menetap di Australia.  Anak keduanya bekerja di sebuah perusahaan minyak di Kalimantan. Dan si bungsu menjadi pengusaha kuliner di Surabaya.

Meskipun roda kehidupan telah bergerak  membawa Abah Aep ke posisi yang jauh lebih baik, dia tak banyak berubah. Masih tetap hidup sederhana. Rumahnya memang telah dibangun lebih nyaman, tapi penampilan Abah masih tetap seperti dulu. Masih setia mengenakan kain sarung dan singlet bututnya.
Suatu hari saat aku lewat di depan rumahnya, aku melihat Abah Aep duduk di teras dengan wajah berseri-seri. Dia tengah membongkar sebuah bungkusan, tampaknya seperti paket yang baru sampai.

“Wah, Abah kelihatan senang sekali. Baru dapat hadiah ya, Bah?” Sapaku.

“Hehehe... iya Neng. Abah dapat kiriman lagi dari anak Abah yang di Surabaya. Ini baju-baju buat Abah. Tuh.. bagus-bagus. “ Abah Aep nyengir. Dia memamerkan kemeja-kemeja, kaus dan celana kain kiriman anaknya dengan bangga.

“Iya, Bah. Bagus semuanya. Alhamdulillah ya anak-anak Abah semuanya berbakti sama orangtua.”

“Alhamdulillah, Neng.Tempo hari anak Abah yang di Australia kirim sepatu.  Lalu yang di Kalimantan juga kirim baju dari bahan kain khas Kalimantan, apa ya namanya? Saringan!” Seru si Abah antusias.

“Bukan saringan, Bah, tapi sasirangan. Itu kain khas dari Banjar.” Sahutku.

“Oh iya,iya betul Neng. Abah lupa. Hahaha....” Abah tergelak. Lucu melihat  tawa Abah dengan gigi yang ompong di sana sini.

“Kok baju-bajunya tidak dipakai, Bah? Abah malah pakai singlet butut terus. Bagaimana sih Abah..” Aku memandang singletnya yang sudah berwarna kusam dengan noktah noda di beberapa tempat.

“Sayang, Neng. Baju-bajunya kan mahal. Jadi Abah simpan saja. “ Abah melipat kemeja-kemeja yang bertebaran di hadapannya.

“Anak-anak Abah kan ingin pemberiannya dipakai. Supaya Abahnya keren, begitu lho.Kalau disimpan saja artinya baju-baju kiriman mereka jadi tak berguna.” Aku memandang Abah yang masih tersenyum-senyum.

“Nantilah, Neng. Sayang, takut bajunya cepat rusak.”

“Baju mahal kan tidak cepat rusak,Bah. Tapi ya terserah Abah deh.” Ujarku menyerah.

Beberapa tahun kemudian, di suatu sore, rumah Abah Aep mendadak ramai. Suara dari TOA masjid terdengar mengumumkan sebuah kabar duka.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Abah Aep  terkena sesak nafas dan meninggal di usia 81 tahun.

Saat aku melayat ke rumahnya, salah seorang  kerabat Abah Aep tengah menyusun bertumpuk-tumpuk baju, celana panjang, sepatu, sandal, sarung, peci, dompet peninggalan Abah Aep.

“Mau disedekahkan, Neng.. Mudah-mudahan jadi pahala buat si Abah.” Ujar kerabat Abah Aep ketika aku bertanya akan diapakan barang-barang itu.

Ternyata banyak sekali barang-barang bagus  yang menghuni lemari Abah  selama ini. Ironisnya semua barang itu tak pernah dipakai Abah. Pada akhirnya barang-barang itu seolah menjadi  rezeki yang tersia-sia.

Ah, sayang sekali. Seandainya barang-barang itu disedekahkan sendiri oleh Abah Aep semasa hidupnya, tentu pahalanya akan menjadi bekal almarhum di kehidupan abadi.

Dua kejadian itu membuat aku merenungi tentang arti rezeki. Rezeki atau ar-rizqu bisa diartikan sebagai bagian atau porsi dari pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian atau porsi yang dikhususkan untuknya. Rezeki dari Allah dapat diartikan juga  segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya oleh makhluk-Nya.

Dalam konteks kehidupan di dunia fana,  rezeki adalah segala sesuatu yang dimanfaatkan untuk memelihara kualitas hidup  yang diberikan  Allah Swt. Dalam konteks setelah kiamat, rezeki adalah surga, yaitu sesuatu yang bermanfaat bagi kita sebagai pembalasan dari perbuatan, pekerjaan, tingkah laku  dan karya kita selama hidup di dunia.



Apakah yang harus dilakukan bila memiliki barang-barang bagus yang hanya tersimpan di lemari? Disayang-sayang lalu dibiarkan  di lemari hingga rusak dan  lapuk seperti yang dilakukan Milla? Disimpan sampai ajal menjemput seperti  yang dilakukan almarhum Abah Aep? Sungguh sayang...

Idealnya rezeki itu untuk dinikmati. Di dunia fana, rezeki berupa baju, sepatu, atau barang-barang lain dinikmati dengan cara  dipakai sesuai fungsinya. Tapi manusia sering tak sadar tengah  diuji kemurahan hatinya.  Berdalih sayang pada barang baru atau barang mahal, tanpa disadari muncul sifat  pelit pada orang lain bahkan pada dirinya sendiri. 

Barang-barang yang berlebih itu sesungguhnya  bisa dijadikan investasi akhirat. Kelak pahalanya menjadi rezeki di alam baqa atau alam yang kekal. Bagaimana caranya? Ya disedekahkan pada orang yang membutuhkan. Itu jauh lebih menguntungkan daripada membiarkan barang-barang kesayangan menjadi mubazir atau sia-sia. Sejatinya, apa yang disedekahkan manusia merupakan rezeki buat dirinya sendiri kelak di kehidupan abadi. Tak ada ruginya.  Kalau ada rasa berat untuk memberikan barang-barang itu pada orang lain, disitulah letak ujianNya. 

Alangkah ruginya   bila  benda-benda yang semestinya bisa mendatangkan berkah pahala tak sempat  dimanfaatkan buat diri sendiri atau untuk disedekahkan,  karena pemiliknya  lebih dulu dijemput malaikat maut...

Mari kita renungkan, apakah harta yang kita miliki adalah   rezeki bagi  kita atau bukan...



10 Januari 2015

Waktu Bukan Milik Kita


 Melihat foto-foto yang diposting salah seorang sahabat yang sedang menjalankan umroh, hatiku diliputi rindu pada tanah suci. Tiba-tiba terlintas ingatan akan seorang sahabat masa kecil. Kenangan tentangnya  membuatku hatiku sesak oleh kesedihan.   

Sebut saja namanya Devika. Pertama kali saling kenal, saat  masih pakai seragam putih merah. Aku anak baru, pindahan dari Bandar Lampung. Bagiku Palembang masih asing. Asing adatnya, asing bahasanya.  Aku perlu menyesuaikan diri beberapa waktu untuk bisa melebur dalam pergaulan di lingkunganku.

Diantara teman-teman yang selalu berbahasa Palembang, ada satu teman yang tampak istimewa di mataku. Dia bicara dalam bahasa Indonesia. Setidaknya aku merasa punya kesamaan dengannya.

Di mataku Devika istimewa. Pipinya halus, matanya bening , kulitnya putih bersih. Cantik. Saat berbincang dengannya aku merasa nyaman karena aku bisa mengerti semua ucapannya.

Seingatku berteman dengan Devi sangat menyenangkan. Kami bisa berbincang-bincang tentang banyak hal. Tapi dia  tak pernah bercerita tentang keluarganya

Suatu hari dia mengajakku main kerumahnya.  Kami berjalan berdampingan menyusuri jalan  beraspal yang makin lama makin menyempit. Lalu disebuah pertigaan, jalan aspal itu berganti rupa menjadi jalan setapak berbatu. Aku terlarut dalam obrolan asyik bersamanya. Entah berapa lama kami berjalan hingga sampai disebuah tempat yang sepi. Ilalang tinggi di sisi kiri kanan jalan  dan suasana yang hening menyentakku.

“Bagaimana Devi bisa tinggal di tempat yang begitu sepi. Suasana di sini misterius.” Batinku.

“Itu rumahku.” Serunya.

Sebuah bangunan bergaya Belanda tampak di sisi kiri jalan. Ilalang tinggi tumbuh rapat di halamannya.  Bangunan itu berkesan dingin dan asing.  Di belakangnya tumbuh  pohon bambu tinggi menjulang dengan daun-daun yang berdesir di tiup angin. Di sekitarnya tak ada rumah lain. Rumah tetangga terdekat berjarak beberapa ratus meter. 

Seorang wanita cantik berambut sebahu tiba-tiba muncul di teras rumahnya. Wajahnya tanpa ekspresi menatap kami.

“Mama...” Ujar Devi.

“Masuk!” Sahut wanita yang dipanggilnya Mama. Wajahnya tak ramah. Dia hanya menyuruh Devi masuk, bukan aku. Aku mulai merasa tak nyaman.  Sepertinya kehadiranku tak dikehendaki.

“Maaf, Tante. Saya permisi pulang. “ Aku berusaha mengukir senyum di bibir, meski senyum itu tak berbalas.

Wanita itu bersikap dingin seperti aura rumahnya. Dia mengangguk, lalu membalikkan badan. Sekilas aku melihat raut kecewa di wajah Devi. Dia pun kemudian menghilang masuk ke rumah.

Keheningan menyergapku. Aku kini sendirian di depan sebuah rumah tua membisu,  dengan batang-batang bambu berdesir-desir dan ilalang tinggi .  Tiba-tiba   aku panik. Secepat kilat aku berlari dan terus berlari. Nafasku tersengal-sengal melintasi jalan  sepi yang seolah tak berujung. Aku terus berlari hingga sampai di simpang jalan berbatu. Ada beberapa orang disana, dan aku merasa lega.

Berada di depan rumah Devi seperti sejenak terdampar di negri antah berantah yang serba misterius. Berbagai pertanyaan menyeruak di benakku. Mengapa rumahnya berkesan dingin?  Mengapa sikap Mamanya tak ramah? Mengapa Devi tampak tegang dan takut?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak terjawab. Di perjumpaan selanjutnya Devi tak pernah mau membicarakan rumah, mama dan apapun tentang keluarganya.

Hingga suatu hari, salah seorang teman mengatakan Devi telah pindah. Aku agak kecewa karena Devi sama sekali tak memberi tahu aku, atau setidaknya berpamitan. Padahal aku merasa cukup akrab dengannya.

Kenangan tentang Devika,  teman masa kecil itu tersimpan lama sekali, lebih dari 25 tahun. Aku bahkan hampir lupa.

Tahun 2011 lalu, saat aku mudik ke Palembang. Pandanganku menangkap sebuah wajah berpipi halus, dengan mata bening berbinar dan rambut hitam sebahu tertata modis. Pemiliknya tengah sibuk memilih baju disebuah butik. Sesekali dia menempelkan  gaun di tubuh rampingnya, lalu memandang bayangan di cermin. Tak salah lagi, itu Devika. Dia makin cantik, jauh lebih cantik dibanding saat masih anak-anak dulu.

Aku agak ragu menegurnya. Takut dia lupa.

Tapi saat Devi tersadar ada sepasang mata tengah memperhatikan, dia menghentikan kesibukannya.  Si cantik itu menatapku.

Sejurus kemudian, kami menjadi pusat perhatian pengunjung butik akibat ulah  kami  berteriak-teriak kegirangan. Dia memelukku melepas rindu.

Aku bersyukur hari itu dipertemukan dengan teman masa kecil yang menyenangkan. Perbincangan kami berlanjut di sebuah caffe  cantik di sudut mall.

“Apa kabarmu? Rasanya tak percaya kita bisa bertemu lagi.” Seru Devika.

“Aku senang kau masih mengenaliku meski aku sudah berhijab. Kenapa dulu kau pindah tak bilang-bilang? Sopan sedikit kenapa sih!” Sungutku kesal.

Devika tertawa.

“Maaf... keadaanku waktu itu ...”Devika berhenti sejenak, menghela nafas.

“Aku sebenarnya malu. Aku punya mama tiri. Mama kandungku sudah meninggal karena kanker payudara. Hubunganku dengan mama tiri kurang harmonis. Kami sering ribut. Aku berusaha tahu diri, tapi tetap saja kami tak cocok. Kami pindah dulu itu juga karena keputusan Mama. Aku tak berdaya... Ayahku jarang pulang, dia pelaut. “Ucap Devi sendu.

Sedikit banyak ungkapan Devi telah menjawab beberapa pertanyaanku dulu.

“Sebenarnya Mama tiriku tidak jahat. Dia kaku, tegas  dan penuh aturan. Masih untung aku disekolahkan hingga tamat D3. “ Lanjut Devi.

“Ketidak cocokanku dengan Mama membuat aku ingin melepaskan diri.  Aku berharap bisa cepat dapat pekerjaan dan hidup mandiri, tapi ternyata malah jodoh yang datang duluan. Hahaha...” Wajah Devi berubah ceria. Bibirnya terus tersenyum saat kisah tentang suami dan anak-anaknya mengalir.

“Aku beruntung mendapat suami yang baik. Pintar cari duit. Dia juga mengajari aku berbisnis. Dan bisnisku juga lumayan sukses. Aku tak pernah kekurangan uang sejak menikah.” Ucapan Devika membuat hatiku turut bahagia. Lega rasanya mengetahui hidupnya kini sangat menyenangkan.

Kami  kembali terpekik girang saat mengetahui   sama-sama suka travelling. Devika malah sudah melanglang buana ke tempat-tempat yang masih dalam impianku, seperti Afrika Selatan dan Tibet. Bertukar kisah travelling membuat kami kian larut dalam obrolan seru.

“Kalau ke Arab Saudi sudah pernah?” Tanya Devika padaku.

“Sudah, waktu menunaikan ibadah haji tahun 2008. Memangnya dirimu belum pernah ke sana?”  Balasku.

Devika menggeleng.

Ada rasa heran menggelayut di benakku. Mengapa sudah berkeliling dunia kemana-mana, tapi menginjak rumah Allah dia belum pernah.

“Lho, kenapa Dev? Kau tak ingin menunaikan haji, atau umroh?”

“Ah, nanti saja. Tunggu usia 40 tahunan deh. Sekarang masih senang-senang dulu.” Devi terseyum sambil mengerling.

Aku baru saja akan melontarkan protes, tapi kata-kataku tercekat di tenggorokan, terkoyak dering telepon selular Devi.

“Dari suamiku.” Ujar Devi. Dia kemudian berbicara beberapa saat sambil melirik jam tangannnya. Setelah menutup telepon Devi memandangku.

“Tak terasa sudah 3 jam kita ngobrol. Sayang sekali aku harus pergi. Suamiku sudah menunggu. Ada urusan yang harus diselesaikan. “

Setelah Devi membayar makanan, kami menutup pertemuan dengan pelukan hangat. Hari itu sungguh menyenangkan. Devi memberi aku kartu namanya. Sayang sungguh sayang, karena kecerobohanku kartu nama itu hilang sebelum aku sempat mencatat alamat dan nomor teleponnya. Dan satu hal lagi, aku bahkan lupa berfoto bersama Devika. Bodohnya aku!

Di pertengahan 2013, aku menyambung kembali tali silaturrahmi lewat blackberry messenger dengan salah seorang tetangga saat masih tinggal di Palembang, teman masa kecilku juga. Setelah bertukar kabar, kami saling memberi informasi tentang teman-teman lama.

“Masih ingat Devika? Aku dapat kabar dari saudaranya, dia meninggal dua minggu yang lalu. Sakit kanker payudara katanya.”

Jantungku terasa berhenti berdetak membaca pesan  BBM itu.

Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Rasanya tak percaya!

Tak kuasa aku menahan air mata mengenang pertemuan dengan Devika yang ternyata adalah pertemuan terakhir. Aku bersyukur masih sempat menuntaskan rindu selama 3 jam,  berbagi kisah, tertawa bersama, dan memeluknya. Satu hal yang sangat aku sayangkan, Devika belum sempat menunaikan ibadah haji.  Dan aku sungguh menyesal, mengapa waktu itu tak sempat memberi nasehat agar dia  menyegerakan  ibadah haji.

Belum genap  40 tahun usianya kala maut menjemput. Devika sahabat kecilku, semoga Allah SWT mencatat niatmu untuk menunaikan ibadah haji, meski niat itu belum kesampaian. Semoga Allah menerima semua amal ibadah dan memberimu tempat yang indah di sisiNya.


Kupetik sebuah pelajaran berharga. Segerakan berhaji bagi  yang sudah mampu, jangan  sekali-kali menunda. Kita tak pernah tahu kapan waktu akan berakhir. Segeralah mendaftar untuk menyempurnakan niat itu, meskipun antrian ibadah haji saat ini sangat panjang. Menunda melakukan  kewajiban saat telah diberi kemampuan adalah sebuah kesalahan.

 Jangan menunda, karena waktu bukan milik kita...