18 Desember 2014

Menggali Manfaat Silaturahmi


Bergaul itu asyik. Sudah kodratnya manusia sebagai makhluk sosial selalu ingin menjalin silaturahmi. Secara umum silaturahmi atau silaturahim berarti  menyambungkan kasih-sayang atau kekerabatan yang menghendaki kebaikan. Secara istilah makna silaturahmi, antara lain dapat dipahami dari apa yang dikemukakan Al-maraghi menyebutkan, “Yaitu menyambungkan kebaikan dan menolak sesuatu yang merugikan dengan sekemampuan”. 
Aku pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan ada banyak “ mutiara” tersembunyi dibalik anjuran silaturahmi. Menurut Abu Laith Samarqandi ada 10 manfaat silaturahmi, yaitu :
1.      Mendapat ridho Allah SWT.
2.      Membuat orang yang dikunjungi bahagia. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW “ Amal yang paling utama adalah membuat seseorang bahagia.”
3.      Menyenangkan malaikat.
4.      Disenangi manusia.
5.      Membuat iblis dan setan marah.
6.      Memanjangkan usia.
7.      Menambah banyak dan berkahnya rezeki.
8.   Membuat senang orang yang telah wafat karena keluarga yang masih hidup tetap saling menjalin hubungan baik.
9.  Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan.
10. Menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikannya (dalam hal ini, suka bersilaturahmi) akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.
Membaca sekilas artikel itu tak mendatangkan perasaan khusus dalam hatiku.  Tapi ketika sudah melaksanakan dan mereguk banyak manfaat, aku baru merasakan betapa banyak nikmat yang kudapat  dari menjalin silaturahmi.

Berdasarkan pengalaman pribadi, manfaat silaturrahmi yang aku rasakan adalah sebagai berikut :
1.      Memberi “ pelajaran” dalam hidup.


Pergaulanku dengan tetangga, komunitas orangtua murid di sekolah anak-anak, teman pengajian, teman facebook,  teman di berbagai komunitas perempuan, teman lama, teman-teman baru yang kutemui saat travelling dan lain-lain selalu memberi hikmah yang besar. Aku tak tahu kenapa, banyak teman-teman yang percaya kepadaku sehingga  mau menceritakan pengalaman hidup mereka yang berliku. Ada yang suaminya meninggalkan dirinya dan anak-anak karena terlibat sekte sesat, ada yang bercerai karena perbedaan prinsip, ada yang berjuang melawan kanker, ada yang menemukan cinta sejatinya setelah sebelumnya mengalami cobaan hidup yang sangat berat, dan lain-lain. Pengalaman-pengalaman hidup mereka yang dahsyat itu sungguh membuat aku terkagum-kagum. Terutama pada ketegaran dan perjuangan mereka yang gigih. Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman teman-temanku. Bahwa Allah SWT tak akan memberika cobaan melebihi kekuatan hambaNya, bahwa kasih sayang yang luas serta pertolongan Allah itu selalu ada untuk hamba yang memelukNya kala diterpa badai kehidupan. Aku bisa memperoleh pelajaran dan berbagai hikmah itu karena mereka, teman-teman yang kerap aku temui,  membagi kisahnya padaku. Alhamdulillah...


2.      Membuka Pintu Rezeki


Kala menyambung kembali silaturahmi dengan seorang teman SMA, aku diajarinya ngeblog. Bukan hanya itu, dia juga menularkan ilmunya mengerjakan “ paid to review” yang membuka peluang memperoleh bayaran dalam dollar dari hasil menulis review produk dari seluruh dunia.

Rezeki dalam bentuk lain adalah  informasi dan solusi permasalahan. Sebagai emak-emak rempong setiap hari selalu berhadapan dengan masalah, yang meskipun bukan masalah besar tapi cukup mengganggu bila tak segera diatasi. Mulai dari mencari asisten rumah tangga, info dokter yang kompeten, tukang pijat urut yang piawai mengusir penat, menu masakan yang lezat, hingga informasi tempat kursus yang asyik. Semua solusinya   aku perolah dengan cara  pergi ke tukang sayur. Lho? Hehehe... Jangan pernah menganggap remeh tukang sayur.

Sebenarnya tukang sayur yang mangkal di sekitar rumah adalah sarana menjalin silaturahmi. Setiap pagi tetanggaku berkerumun di tempat mangkal tukang sayur. Dan aku pun datang ke sana, belanja sayur sekaligus bergaul dengan tetangga. Kalau sudah begini, aku tinggal melontarkan pertanyaan-pertanyaan.

”Bu, kalau dokter rehabilitasi medis di Bogor yang bagus dimana ya?”

“Labu kuning ini selain dibikin kolak, enaknya dimasak apa ya?”.

Tak lama kemudian aku pun pulang dengan wajah sumringah akibat telah mengantongi  informasi dan solusi permasalahan.

Sebuah reaksi spontan yang berlanjut silaturahmi bisa mendatangkan  buah-buahan gratis.  Lho, apa hubungannya? Hehehe....

Suatu hari aku berbelanja di mini market. Ketika mengantri di kasir, seorang ibu setengah baya berwajah oriental kebingungan karena ternyata uang yang dibawa tak cukup membayar seluruh belanjaannya. Dia terpaksa batal  membeli sebotol minyak wijen.

“Maaf, Dik. Minyak wijennya tidak jadi ya. Uangnya kurang. Nanti saja saya kembali lagi. “ Ujar si Ibu.

Aku yang mengantri dibelakangnya spontan bereaksi.

“Bu, tidak apa-apa. Ambil saja minyak wijennya. Supaya tidak repot   bolak-balik ke sini, biar minyaknya saya yang bayar.” Ucapku sambil tersenyum.

Sebenarnya aku sendiri kaget, kenapa aku bisa berkata seperti itu. Aku langsung khawatir, bagaimana kalau si Ibu marah, tersinggung karena dibayari. Soalnya dari tampangnya terlihat dia bukan orang susah. Aku hanya bereaksi spontan, karena membayangkan betapa repotnya harus balik ke rumah mengambil uang dan kembali ke mini market lagi hanya untuk sebotol minyak wijen.

Dia menatapku. Aku terus tersenyum setulus-tulusnya meski hati berdebar.

“Aduh, Bu. Jadi nggak enak nih...” Katanya tersipu.

“Tidak apa-apa, Bu. Daripada repot balik lagi ke sini. Silahkan dibawa minyak wijennya. “ Ucapku riang. Rasanya lega melihat reaksinya.

Dia mengucapkan terimakasih, dan kubalas dengan senyum dan anggukan.

Beberapa hari setelah itu, aku berbelanja di tukang sayur. Sedang asyik memilih kentang, ada seseorang berseru menyapaku. Aku agak lupa, tapi ketika dia bilang bahwa aku yang membayari minyak wijennya, jadi ingat lagi. Kami tertawa, lalu mengalirlah perbincangan seru. Ternyata dia tetanggaku, hanya berbeda cluster.  Senangnya, akhirnya kami berkenalan.

Di pertemuan-pertemuan selanjutnya, aku dapat pisang, jeruk limau, dan jambu biji hasil kebunnya. Ah...berkah silaturrahmi.

3.      Memperkaya ilmu


Keterlibatanku dengan komunitas penulis dan blogger berpengaruh besar dalam menambah ilmu dan peluang berkarya di bidang tersebut. Teman-teman di  komunitas sangat murah hati dalam berbagi ilmu dan pengalaman. Selain itu karya-karya mereka yang terus bermunculan baik  dalam bentuk buku, tulisan inspiratif di blog yang mengundang banyak pengunjung, hingga kemenangan mereka dalam berbagai kompetisi  membuat aku makin semangat ikut berkarya.

4.      Meringankan biaya travelling




Kalau kupikirkan tentang manfaat yang satu ini rasanya ingin memeluk erat sahabat-sahabat baruku yang tersebar di Asia dan Amerika. Tak bermaksud memanfaatkan pertemanan, tapi sungguh kebaikan dan kemurahan hati mereka sangat berarti untukku.

Bulan Agustus-September 2014 lalu, Aku dan sahabatku menjelajah Amerika tanpa ikut tour dari travel agent. Kami mengatur sendiri itinerary perjalanan dan segala sesuatunya. Lewat  jalinan silaturahmi di  facebook, tanpa pernah bertemu muka, sahabat-sahabat baru dari  dunia maya dengan tulus menawarkan rumahnya  menjadi tempat bernaung di sana.

Kami berdua dijamu dengan sangat baik oleh sahabat-sahabat di Detroit- Michigan, Geneva-New York, Los Angeles, Santa Monica, dan Orange County.

Bukan cuma menyediakan rumahnya untuk kami, mereka juga menjamu dengan masakan-masakan yang nikmat, mengantar kami kesana-sini, menemani aktivitas, membagi cerita dan pengalaman hidup, mengajak kami menyelami kehidupan mereka, dan memperlakukan kami sebagai saudara dekat.  

Aku sendiri heran dan takjub, bagaimana mungkin mereka percaya pada orang yang baru dikenal sepintas  di media sosial, mengizinkan tinggal dirumahnya dan memperlakukan dengan sangat baik.

Salah seorang sahabat  berkata,” Ya aku percaya saja. Sesama muslim, sebangsa dan setanah air kan ibarat saudara. Senang bisa dikunjungi saudara. Kehadiran saudara di negri yang jauh  dari tanah air  ini bagiku  sangat istimewa. Ini kesempatan langka.”

“Dan satu hal lagi. Sebelumnya aku baca profil facebook-mu. Kau senang menulis hal-hal yang baik.  Jadi aku yakin kita satu aliran. Aliran positif. Hehehe..” Tawa hangatnya langsung kusambut  penuh haru.

Satu pelajaran yang bisa dipetik, ternyata apa yang ditulis, disebar dan diposting di media sosial merupakan “branding” bagi kepribadian kita. Seandainya yang aku tulis di media sosial berupa cercaan, hinaan, fitnah, sumpah serapah, keluh kesah dan segala yang negatif, belum tentu aku bisa mereguk indahnya persahabatan dengan saudara-saudara di belahan lain bumi Allah ini.

Aku baru tahu kalau naik taksi limo dari Rochester ke Geneva-New York State yang berjarak 1 jam perjalanan itu biayanya 200 USD. Tak ada pilihan lain, tak ada bus atau kendaraan umum yang bisa digunakan untuk mencapai tempat tujuan kami di Geneva. Artinya,untuk pulang kembali ke bandara Rochester pun dibutuhkan biaya 200 USD lagi. Untung saja kami tak perlu membayarnya. Duuh... 400 USD hanya untuk 2 jam wara-wiri  itu sangat lumayan  kan?

Berkat kebaikan dan kemurahan hati sahabat-sahabat baru, banyak sekali biaya yang bisa dihemat saat travelling. Yang jelas biaya akomodasi, makan dan transportasi yang kami keluarkan hampir-hampir nol. Aku dan sahabatku hanya satu kali naik taksi dari hotel ke bandara  di Los Angeles untuk melanjutkan penerbangan ke Detroit. Selebihnya, gratis.  Ya Allah, Alhamdulillah...

5.      Memperluas Networking


Dari teman pengajian dan  dunia kepenulisan aku bisa mengenal  teman-teman lain dengan berbagai latar belakang dan dunia mereka yang sangat menarik . Ada  designer busana muslim, pengusaha batik, pengrajin tas, pemilik penerbitan, psikolog, make-up artis, fashion stylist, photographer,  pegawai kedutaan, aktivis kegiatan sosial, dan lain-lain.

Senangnya bergaul dengan manusia-manusia yang kreatif dan dinamis. Aku bisa memperoleh pengetahuan baru dari berbagai bidang yang mereka geluti.  

Selain itu manfaat networking sangat dahsyat. Bila ingin mengadakan event atau kegiatan positif, yang bisa dilakukan adalah berkolaborasi dengan teman-teman yang hebat itu sehingga menghasilkan karya dan kerja sama yang apik.

6.      Memperoleh manfaat doa yang tulus


Teman-teman, sahabat dan saudara adalah mereka yang merasa senang bila melihat saudaranya senang, dan merasa sedih dan tersentuh melihat saudaranya dalam kesulitan.

Saat suamiku sakit beberapa waktu yang lalu, aku sempat tak memberi tahu siapa pun karena tak ingin menyusahkan. Tapi ternyata tindakan itu salah.

Ketika salah seorang sahabat mengetahui kondisi suamiku, dia langsung mengingatkan.

“Kau tak boleh diam saja. Jalin silaturrahmi. Kabari tetangga, kenalan, kerabat, teman dan sahabat  tentang sakit atau musibah. Kenapa? Karena makin banyak yang mendoakan akan makin baik bagimu. Kita tak pernah tahu, doa siapa yang diijabahNya dengan cepat. Mungkin saja doa tulus yang datang dari salah seorang kerabat atau teman  membuat Allah membukakan pintu kesembuhan dan jalan keluar dari permasalahanmu. Kalau kau tak mengabari, kau menghilangkan kesempatan memperoleh doa makbul dari orang-orang yang tulus.  “ 

“Satu hal lagi. Kalau kau tak mengabari kondisi suamimu, kau sama saja menutup satu pintu kebaikan buat semua kerabatmu. Kalau mereka tahu suamimu sakit, mereka pasti datang menjenguk. Kau tahu kan apa manfaatnya menjenguk orang yang sakit? Ingat hadits yang diriwayatkan dari Ali  r.a.,  ia  berkata: 
Saya  mendengar   Rasulullah saw. bersabda: 

"Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga." (HR Tirmidzi, dan beliau berkata, "Hadits hasan.")

 “Nah, kalau kau tak memberi tahu siapa pun, sama saja kau menghilangkan kesempatan bagi teman, saudara dan kerabat untuk memperoleh kebaikan didoakan tujuh puluh ribu malaikat. Jadi bagaimana menurutmu?” Ucap sahabatku sengit.

Aku cuma tersenyum kecut  dengan mata berkaca-kaca.

Alhamdulillah suamiku sekarang berangsur sehat kembali, dan aku yakin semua itu karena doa tulus orang-orang terkasih, sahabat, saudara dan kerabat. Sungguh besar nikmat silaturahmi.

7.      Menambah teman dan sahabat sejiwa

Silaturahmi mendatangkan teman-teman baru. Melalui seleksi alam, ada orang-orang baru yang hanya akan lewat sepintas saja dalam hidup, ada yang hanya sebagai kenalan, banyak yang menjadi teman,  sebagian besar  lainnya menjadi sahabat  bahkan saudara dan  tetap ada sedikit  yang menjadi “the haters”.  Selalu ada yang positif dan negatif.

Ada orang-orang yang mampu menumbuhkan kedekatan di hati, yang menimbulkan rasa kasih sayang sebagai saudara dan meninggalkan rasa rindu bila lama tak berjumpa. Sebagian lainnya adalah orang-orang yang menjadi inspirasi. Meskipun ada juga beberapa yang membawa lebih banyak kemudaratan dari manfaat, tapi melaui seleksi alam jugalah  akhirnya  aku memilih berkumpul, bersilaturahmi dengan teman-teman yang positif, kreatif, dinamis dan berjiwa sosial. Melihat sikap mereka yang penuh keteladanan sungguh membuat aku dilingkupi aura positif untuk melakukan kebaikan dan terus berkarya.

Aku terkesan oleh sebuah qoute dari Cecil Thounaojam,

“Birds of the same feathers flock together,

and when they flock together they fly so high.”

Indahnya hidup bila bisa mencapai kesuksesan dengan jalan silaturahmi bersama sahabat-sahabat sejiwa...











16 Desember 2014

Chit Chat Berbagi Manfaat di Gigle FX Mall


Bermula dari semangat berbagi kebaikan, Trisula Hariana Sunita dan teman-teman memprakarsai sebuah acara talkshow bertema “New Year Spirit Look”. Acara bincang-bincang ini dilaksanakan hari Selasa 9 Desember 2014 di lantai 5  FX Mall Jl. Jendral Sudirman Jakarta Pusat.

Acara digelar di sebuah area dengan  panggung yang dilengkapi  sofa berwarna putih dan latar belakang layar lebar yang menampilkan berbagai kegiatan para nara sumber.

Vico Victoria Memperkenalkan Empat Nara Sumber

Dengan pembawaan  ceria, Vico Victoria sebagai pemandu acara membuka talkshow.  Empat nara sumber dengan latar belakang beragam  membagi informasi dan pengalaman inspiratif bagi peserta yang hadir.

Nara sumber pertama adalah Bapak Anton Thedy, Managing Director TX Travel dan penulis buku” 50 Wisata Domestik Indonesia” yang diterbitkan  Onbloss Creative.

Pria yang hobi jalan-jalan ini berkisah tentang awal mula ketertarikannya pada dunia travelling. Ketika duduk di kelas 3 SD, beliau diajak orangtuanya jalan-jalan ke Bandung. Lalu sejak itu dia sering jalan-jalan dan mulai menikmati dinamika travelling. Kecintaannya tumbuh makin kuat pada dunia travelling membuatnya memutuskan tidak lagi bekerja pada perusahaan yang sudah dijalankan orang tuanya.
Anton Thedy menjelaskan tujuan wisata unggulannya

Sejalan dengan “passion”nya, Anton Thedy mendirikan usaha di bidang travel. Dan itu dilakukannya dengan sungguh-sungguh tak kenal menyerah, meskipun kerap menemui kesulitan dan tantangan berat.  Perjalananya membangun bisnis kini telah menampakkan hasil yang membanggakan.  TX Travel meraih  dua penghargaan dari majalah Info Franchise dalam kategori Tour and Travel dinobatkan sebagai Franchise Market Leader 2014 dan Franchise Fastest Growing 2014.

Dalam kesempatan kali ini, Anton Thedy berbagi inspirasi jalan-jalan sebagaimana yang dituliskan dalam bukunya “ 50 Wisata Domestik Indonesia”. Tak lain karena Indonesia sesungguhnya tak kalah cantik, indah dan eksotik dibandingkan negara lain.

Ada beberapa tujuan wisata yang direkomendasikan oleh Anton Thedy, terutama bagi wisatawan yang gemar makan-makan dan jajan-jajan atau shopping. Tempat tujuan wisata unggulan itu adalah Aceh, Padang, Palembang, Makassar, dan Malang.  Anton Thedy juga menyebutkan berbagai kuliner unik, enak dan istimewa yang menjadi andalan tempat tujuan wisata tersebut lengkap dengan produk khas daerah yang layak dijadikan  souvenir.

Setelah menyampaikan ide tujuan travelling, Anton Thedy membuka kesempatan pada para peserta untuk mengajukan pertanyaan. Beberapa peserta tampak antusias bertanya dan juga melontarkan jawaban atas pertanyaan  yang diajukan Anton. Sebagai kenang-kenangan, peserta yang berpartisipasi aktif mendapatkan hadiah buku “50 Wisata Domestik Indonesia”.

Salah seorang peserta menjawab pertanyaan dengan antusias


Peserta yang memperoleh buku karya Anton Thedy


Anton Thedy, Vico Victoria dan Hartin dari Onbloss Creative Publisher

Nara sumber kedua adalah Indari Mastuti. Dalam dunia kepenulisan beliau telah dikenal sebagai penulis produktif yang sudah menghasilkan 60 judul buku. Selain sebagai CEO Indiscript Copy Writing and Personal Branding, Indari Mastuti pun aktif dalam kegiatan pemberdayaan wanita dengan membentuk komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis dan Ibu-ibu Doyan Bisnis yang anggotanya mencapai belasan ribu orang  tersebar di berbagai negara.

Indari Mastuti

Di penghujung tahun,  biasanya setiap orang menetapkan resolusi yang ingin dicapai di tahun baru yang akan datang. Sehubungan dengan itu Indari membagi tips untuk mencapai berbagai harapan dan keinginan dengan menggunakan sebuah bagan.

 Di bagan itu dituliskan segala target  dalam karier, kehidupan rumah tangga, travelling, kehidupan rohani, dan sebagainya.  Menurut Indari, sangat penting menuliskan berbagai target, harapan dan keinginan yang akan dicapai agar tulisan itu menjadi booster dan pembakar semangat.

Lalu bagan itu dipajang di tempat yang selalu terlihat. Tujuannya agar  setiap kali memandang, semangat  akan terus terjaga dan semua pikiran terfokus untuk mewujudkan  resolusi yang sudah ditetapkan.

Selanjutnya, untuk mewujudkan berbagai resolusi, Indari menjelaskan penggunaan metrik pencapaian sebagai modul untuk mencapai target. Bentuk pekerjaann bisa apa saja, misalnya menulis buku, bisnis  online, penyedia berbagai jasa, berjualan produk makanan, dan lain-lain. Setiap orang baik ibu rumah tangga, penulis, pebisnis, guru, karyawan, dan pelajar pun bisa menggunakan metrik pencapaian ini.
Metrik Pencapaian, modul untuk sukses mencapai target 

Sebagai contoh, Indari menjelaskan penggunaan metrik bagi seorang penulis. Misalnya target yang akan dicapai adalah menulis sebuah buku setebal 120 halaman dalam satu bulan. Dengan metrik, sang penulis membagi 120 halaman dengan jumlah hari dalam satu bulan. Dengan demikian artinya dia  memiliki target harian harus bisa menulis 4 halaman dalam satu hari.  Dengan konsisten melaksanakan pekerjaan sesuai target harian, sang penulis  mampu menyelesaikan bukunya dalam satu bulan.

Syarat sukses mencapai target dengan metrik pencapaian adalah kekuatan tekad dan konsistensi. Hal inilah yang sudah dilakukan Indari Mastuti  hingga bisa mencapai sukses seperti sekarang.

Setelah sesi tanya jawab dan pembagian souvenir berupa metrik pencapaian, acara dilanjutkan dengan sharing nara sumber selanjutnya, Damayanti Maris dari DM Make-up Studio.

Damayanti Maris dengan trend make-up 2015

Bermula dari hobi belanja, Damayanti sering kali “kalap” bila melihat alat-alat make-up. Tanpa sadar dia kerap membeli peralatan make up karena dorongan keinginan, bukan karena kebutuhan. Akibatnya peralatan make-up kian menumpuk di rumah. Sadar bahwa telah banyak menghabiskan uang, Damayanti terdorong untuk memanfaatkan barang belanjaannya menjadi uang.

Minatnya dibidang tata rias wajah  membuat semangat belajarnya membara. Tak hanya belajar, Damayanti pun kerap bereksperimen mencoba berbagai warna dan gaya make up mulai dari beauty make-up, character make-up hingga fashion make-up ke wajahnya sendiri. Hal ini sering dilakukan hingga dia mendapat julukan “1000 wajah”. Dengan keahlian bermain dengan kuas dan peralatan make-up, dia bisa tampil dengan wajah berbeda-beda dalam berbagai kesempatan.

Wanita yang jeli melihat peluang usaha ini berbagi informasi mengenai trend make-up 2015.  Menurutnya trend make-up 2015 akan lebih “berani”.  Dunia tata rias akan makin semarak,  dengan makin beragam produk make-up yang ada,  harga yang bersaing, kualitas pun tidak selamanya berbanding lurus dengan harga. Ada banyak  produk make-up yang bagus kualitasnya dengan harga murah.

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan yang disambut antusias oleh para peserta, Damayanti pun memberikan voucher kepada beberapa peserta sebagai bentuk apresiasi.

Peserta yang memperoleh buku dan voucher DM make-up studio

Nara sumber selanjutnya adalah Tety Murniaty dari TRust Islamic Fashion Writer and Designer. Tety membuka perbincangan dengan menceritakan awal keterlibatannya dalam dunia fashion. Dia adalah model era tahun 80-an, yang  kini menekuni dunia design busana muslimah. Dengan karya-karyanya , Tety bersama anggota TRust lainnya yaitu Indriya R Dani dan Tata Lukmanika kerap menjadi duta yang membawa misi budaya Islam Indonesia dibawah naungan InICF ( Indonesian Islamic Cultural Foundation) ke luar negeri, misalnya ke Amerika, Malaysia, Hongkong dan lain-lain.

Tety Murniaty menyampaikan trend busana muslim Indonesia

Tety menjelaskan perkembangan menggembirakan di dunia fashion, bahwa Indonesia kini telah menjadi kiblat bagi  busana muslim dunia. Kreatifitas  designer busana muslim Indonesia telah diakui di dunia internasional. Hal ini sungguh membanggakan.

Di akhir acara dilakukan sesi make over. Damayanti Maris menunjukkan kepiawaiannya mendandani   Juliana Dewi Kartikawati, seorang blogger dari Bogor.  Dengan keahliannya, Damayanti mampu menonjolkan kelebihan dan mensiasati kekurangan pada wajah sang model, sehingga hasil akhir  tampilan wajah  sang model membuat “pangling”.


Sesi Make Over by Damayanti Maris dari DM Make-up Studio


Setelah  model  selesai di make-up, Tety Murniaty menampilkan sesi turotial hijab. Sesuai dengan tata rias wajah yang ditujukan untuk acara malam hari dan pakaian berwarna terang yang dikenakan model, Tety memilih memakaikan hijab berwarna glitter pink. Dengan sentuhan tangan terampilnya, tata hijab  disesuaikan dengan bentuk wajah membuat penampilan akhir sang model terlihat elegan dan cantik. Hasil akhir make over ini menunjukkan kolaborasi sempurna tata rias wajah dan hijab yang serasi dan sedap dipandang.

Tutorial Hijab by Tety Murniati dari TRust  Fashion Writer and Designer



Dengan semangat berbagi kebaikan, acara Chit Chat @ Gigle FX Mall ini rencananya akan terus dilaksanakan sebulan sekali dengan tema yang berbeda-beda.  Tunggu kehadiran acara ini bulan depan ya!
Seluruh Pendukung Acara

06 Desember 2014

8 Tips Merawat Pasangan yang Sakit


Menjalani kehidupan pernikahan ibarat merajut kisah cinta dari hari ke hari sepanjang hidup bersama. Ketika ijab kabul diucapkan, saat itu dimulailah sebuah komitmen yang digenggam dua mempelai  untuk menjalani kehidupan berdua,  tetap bersama dalam suka maupun duka.

Hidup bersama dalam suka tentu menyenangkan, dan lebih mudah dijalani. Apa susahnya melihat anak-anak tumbuh sehat, bersyukur akan limpahan rezeki, tertawa dan bercanda seolah tak ada yang perlu dirisaukan, menikmati kebersamaan dengan keluarga, jalan-jalan, beraktivitas bersama menekuni hobi, dan kegiatan menyenangkan lainnya.

Tapi bagaimana bila duka berwujud sakit melanda salah satu dari  pasangan ? Teorinya, tetap saja harus dijalani dengan bersyukur. Meskipun tak dipungkiri keadaan itu bagaikan sebuah ujian kesabaran. Ibarat naik roller coaster, emosi terasa naik turun dan berbagai perasaan campur aduk.

Kunci sukses melalui masa-masa sulit merawat pasangan yang sakit adalah pandai mengelola emosi. Ini berlaku bagi yang sehat, tapi juga akan lebih baik bila pihak yang sedang sakit turut menyadari hal tersebut. 

Berikut ini adalah tips yang dapat diterapkan kala merawat suami atau istri yang sakit.

1.       Sabar

Kondisi sakit tentu tak nyaman. Pasangan mungkin akan menjadi lebih manja, rewel  dan menuntut perhatian penuh terutama bila rasa sakit memuncak.  Bukan hanya itu, emosi si sakit pun akan menjadi labil. Dia akan  mudah marah tapi juga seringkali sedih karena merasa dirinya menjadi beban pasangannya. Satu-satunya cara menghadapi kondisi itu adalah sabar. Cobalah menyelami perasaan si sakit  tanpa terpengaruh emosi negatif-nya. Tetap tersenyum dan pandanglah wajahnya dengan sayang. Bicaralah dengan nada lembut  yang menenangkan agar emosi si sakit mereda.

2.       Jangan tunjukan kesedihan

Pasangan yang sakit membutuhkan dorongan semangat. Tunjukkan wajah yang optimis dan tumbuhkan keyakinan bahwa kesembuhannya akan segera terwujud. Bila  tak mampu lagi melawan rasa sedih, boleh saja menangis, tapi jangan lakukan di hadapannya.

3.       Beri Pelukan dan Sentuhan Fisik


Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa pelukan dan sentuhan fisik  orang terkasih menimbulkan efek yang baik bagi kesehatan. Pelatih manajemen stress dan terapi holistik, Catherine A. Connors mengatakan bahwa sentuhan fisik dapat mengurangi level stress. Penelitian yang dilakukan University of Miami’s Touch Reserach Institute menunjukkan bahwa pelukan dapat mengurangi rasa sakit pada kepala. Penelitian lainnya, Brigham Young University di Salt Lake City menunjukkan bahwa pelukan dapat menurunkan tekanan darah. Selain itu pelukan dapat menciptakan perasaan bahagia. Ketika berpelukan, tubuh akan melepas senyawa kimia seperti oksitosin yang menimbulkan rasa senang yang menentramkan. Jadi tunggu apalagi? Sering-seringlah memeluk dan membelai pasangan yang sakit agar kesehatan dan perasaannya lebih baik.

4.       Ajak pasangan berdoa bersama



Segala  cobaan berupa penyakit datang atas kehendak Tuhan, dan Tuhan pula lah yang memberi jalan kesembuhan. Berdoa bisa menjadi semacam terapi spiritual yang mendatangkan banyak manfaat antara lain menghilangkan stress, mendatangkan perasaan tentram,  membantu mengatasi serangan emosional, dan baik bagi kesehatan jantung. Mengajak pasangan berdoa bersama dengan  menyandarkan seluruh harapan padaNya dapat meningkatkan  ketenangan jiwa dan optimisme untuk mencapai kesembuhan.

5.       Bicarakan  hal-hal yang menyenangkan

Bila kondisi pasangan yang sakit memungkinkan untuk diajak berbincang-bincang, ajaklah dia membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Misalnya saja mengenang lagi masa-masa indah saat bulan madu, menceritakan kembali kejadian  lucu yang pernah dilalui, atau harapan-harapan yang ingin dicapai di masa yang akan datang. Membicarakan hal yang menyenangkan bisa membuat  mood pasangan yang sakit menjadi lebih baik.

6.       Hibur dia

Lakukan kegiatan yang dapat mengurangi kebosanannya. Bila dia harus terus menerus berbaring di tempat tidur, tawarkan padanya untuk menonton film kesukaannya, membacakan buku favorit, atau mendengarkan musik kesukaannya.

7.       Ketahuilah apa yang dibutuhkannya

Tanyakan padanya apa yang diinginkannya. Mungkin dia ingin minum teh hangat, makan buah atau butuh pijatan di kakinya. Lakukan dengan penuh kasih sayang untuk menunjukkan dukungan pada pasangan
.

8.       Jaga Kesehatan

Jangan abaikan kesehatan. Anda mungkin lelah dan kurang tidur karena harus menjaga pasangan, tapi usahakan tetap tidur dan makan makanan yang bergizi. Bila perlu minum vitamin atau suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

 Merawat pasangan yang sakit sesungguhnya merupakan kesempatan mengumpulkan pahala  dan amal kebajikan sebanyak-banyaknya. Nikmatilah saat-saat itu dan terus bersyukur atas kesempatan yang diberikanNya. Bila semua bisa dilalui dengan  sukses , sepasang suami istri akan mendapat “hadiah”,   cinta yang makin membara dan hubungan batin  keduanya yang kian erat.














05 Desember 2014

9 Cara Bijak Menghadapi The Haters di Media Sosial

Sebaik-baiknya manusia, pasti ada saja yang tak menyukai.  Manusia mulia yang luhur budi pekerti, halus tutur kata dan bersih hatinya  seperti nabi Muhammad SAW pun banyak yang membenci. Hal ini tentu berlaku juga pada Presiden, Menteri, artis, tokoh-tokoh politik, bahkan juga pada rakyat biasa.

Akhir-akhir ini fenomena membully di media sosial maupun dalam kehidupan nyata kian marak terjadi. Orang-orang bebas mencetuskan hinaan, ejekan,  caci-maki, bahkan fitnah melalui berbagai media terutama media sosial. Para pembenci atau “the haters” sangat kreatif mengungkapkan kebenciannya terhadap orang atau objek yang dibencinya. Bahkan sering terjadi saling serang antar dua kubu yang berseberangan, menjadi debat kusir tak berkesudahan.

Bila anda menjadi orang yang diserang oleh the haters , apakah yang harus dilakukan? Anda bisa saja membalas dengan mencaci, mengejek dan membuka keburukan the haters. Tapi alangkah baiknya bila anda  memilih bersikap bijak. Bila apa yang dilakukan the haters  adalah keburukan,  sudah seharusnya kita tak melakukan keburukan serupa, kan?

 Lalu harus bagaimana? Berikut ini 9 tips bijak menghadapi ulah the haters di media sosial.

1.       Gunakan metode Re-Framing.

 Apa itu ReFraming? Frame adalah cara seseorang melihat atau menilai suatu hal. ReFraming adalah metode yang membantu seseorang melihat sebuah keadaan dengan cara berbeda, sehingga bisa menghasilkan respon yang terbaik.

Contohnya sebut saja  A, sedang  menghadapi orang-orang yang rajin menghina, menjelek-jelekkan,  memaki dan merendahkan dirinya.  Bila frame yang terbentuk dalam benak A “ mereka adalah orang-orang jahat  “ maka sudah pasti A akan merasa  adalah sedih, marah, kesal, sakit hati dan ingin membalas dengan prilaku yang sama buruknya dengan para penghina itu. Emosi negatif ini akan berpengaruh buruk pada diri A.  Tapi akan berbeda halnya bila A membentuk sebuah frame baru dalam benaknya.

“Aku jauh lebih baik sehingga mereka iri.  Mereka membenciku karena mereka tak mampu berbuat sebaik aku. Mereka patut dikasihani. Jadi  aku orang yang  lebih beruntung dan lebih baik kehidupannya dibanding mereka.”


Atau

“Berlaku baik pada orang yang baik padaku adalah hal yang biasa. Tapi berlaku baik pada orang yang membenciku, akan menjadikan aku lebih bermartabat .”

Persepsi yang demikian tentu menghasilkan respon yang lebih baik bagi A. Dia tidak akan merasa sakit hati  ataupun mengalami emosi negatif lain yang mengganggu perasaannya.

2.       Kendalikan diri Sendiri.


The haters punya cara paling kreatif melontarkan ejekan, cemoohan dan hinaan. Tujuan mereka untuk menjatuhkan, membuat anda merasa minder, sedih dan rapuh. Jangan biarkan mereka mencapai tujuannya. Bergembiralah dan tetap fokus pada kemampuan diri sendiri. Kita tak bisa mengontrol prilaku orang lain, tapi kita bisa sepenuhnya mengontrol diri sendiri. Jangan biarkan prilaku buruk orang lain mempengaruhi diri anda.

3.       Tak perlu membuktikan.

Jangan buang waktu meladeni ocehan the haters dengan cara membuktikan bahwa anda tak seperti anggapan buruk mereka. Percuma saja. Orang yang membenci anda  tak akan pernah suka dengan apa pun yang anda lakukan.

4.       Tebarkan ion positif dengan doa.

Pada dasarnya the haters adalah orang-orang yang gemar menebar kata-kata bernada negatif. Hati mereka penuh dengki. Keburukan yang mereka lakukan ibarat  meludah ke langit, tak akan terkena pada orang yang dibenci kecuali ke wajah mereka sendiri. Memberi the haters  hadiah doa supaya mereka diberi hidayahNya adalah salah satu cara menebar ion positif yang kelak kebaikannya akan kembali pada anda.

5.       Salurkan energi dengan berkarya dan berprestasi

Jangan buang-buang waktu merenungi ejekan mereka bila hal itu hanya membuat anda sakit hati dan terpuruk. Lebih baik salurkan semua perhatian, energi dan usaha anda untuk berkarya dan berprestasi. Balas dendam paling manis pada the haters adalah membuat hidup anda makin cemerlang dalam kesuksesan.

6.       Abaikan

Anda sangat penting bagi the haters, sehingga mereka  memperhatikan anda lebih lekat dari perhatian seorang kekasih. Tak jarang mereka menghabiskan banyak waktu membicarakan  anda. Mereka akan “kepo “ luar biasa pada kegiatan anda sambil  mencari-cari bahan ejekan.  Langkah yang tepat menghadapi mereka adalah  abaikan saja.  Biarkan anda menjadi orang penting bagi mereka, sementara mereka bukan siapa-siapa bagi anda.

7.       Hargai waktu

Jangan biarkan waktu anda terbuang dengan melihat hal-hal buruk yang dilakukan the haters. Hargai waktu yang anda miliki dengan fokus pada hal-hal positif saja. Bila the haters yang menebar kata-kata negatif adalah kawan-kawan anda di media sosial, lebih baik mereka di “unfollow” atau kalau perlu diblokir sekalian. Pilihlah hanya  berteman dengan  orang-orang yang menebarkan kebaikan, ilmu yang bermanfaat, nasehat yang baik, dorongan semangat dan persahabatan yang tulus.

8.       Berpikir Positif dan Berbahagialah

Sibukkan diri anda dengan berpikir positif dan melakukan hal positif. Pilihlah untuk bahagia dan sibuk membahagiakan orang terkasih di sekeliling anda hingga  tak punya waktu untuk merasa sakit hati.  

9.       Jadikan motivasi berbuat lebih baik

Jangan biarkan hinaan, ejekan, dan kata-kata negatif the haters memancing emosi anda. Tapi jadikanlah jeritan sakit hati mereka  sebagai  motivasi untuk berbuat lebih baik dari apa yang mereka lakukan. Yakinkan bahwa anda tak akan melakukan keburukan yang sama, karena perkara mengolok-olok  ini sudah jelas aturannya dalam  Surat Al Hujurat ayat 11 dan 12 sebagai berikut :


Sangat penting untuk tetap berlaku bijak menghadapi the haters. Ingat bahwa siapa yang menabur keburukan dia akan menuai keburukan, dan siapa menabur kebaikan dia  kelak akan menuai kebaikan pula. Biarkan the hater menikmati kegalauan dan sakit hati mereka sendiri, tugas anda adalah berbuat kebaikan dan melakukan yang terbaik.





28 November 2014

Dermaga Coklat


Mata Reva berbinar-binar. Senyumnya mengembang ceria seolah dialah makhluk paling bahagia di dunia. Sambil duduk di bangku besi, tatapannya menebar memandang langit biru cerah berhias gumpalan putih berarak bagai kapas  lembut.  Deretan pepohonan hijau seolah memagari rumah- rumah cantik  yang berjejer di seberang sana. Sebuah kubah bertabur keramik biru dengan tiga menara langsing  berujung lancip  mencuat di atas rimbun pepohonan. Tiga angsa yang berenang-renang di tengah danau  seolah  bintang utama pada  layar indah yang terbentang di hadapan gadis itu, padahal tidak demikian.

Pusat perhatian Reva bukan pada tiga unggas cantik berbulu putih , tapi pada sebuah dermaga mini sepi membisu di seberang sana . Dermaga kayu bercat coklat   bergaya  minimalis itu berpagar  batang-batang kayu yang tersusun  vertikal.  Dua buah tiang  berwarna senada seolah tertancap kokoh di lantai dermaga.

“Indah sekali. Aku suka tempat ini, Raka.  Ah, aku lapar. “ Desah Reva.

Raka merasa hatinya kelu. Ucapan Reva yang bernada riang itu justru menusuk kalbunya. Dia bangkit menghampiri kakaknya, mengangsurkan sebuah wadah plastik segi empat berisi roti dan kue-kue. Reva menerima wadah itu, dan memakan isinya.

Raka kembali duduk agak jauh dari  sang kakak.

“Sebentar lagi dia datang, Raka. Dia pasti datang. “ Reva berucap lirih.

“Tentu saja.” Balas Raka. Matanya mengawasi wajah Reva dengan perasaan campuk aduk.

“Kau tahu, Raka. Dion sangat mencintaiku. Kemarin dia menulis surat cinta yang indah sekali. Apa kau ingin membacanya?” Tanya Reva. Jemari kurusnya bergerak merogoh-rogoh saku mantel merah jambu lalu mengeluarkan sebentuk kertas kumal yang terlipat.

“Tidak. Kau saja.” Ucap Raka pendek.

Reva tersenyum.

“Baiklah.”

Gadis itu membuka lipatan surat dengan riang. Kepalanya menunduk menekuri deretan huruf yang ditulis dengan tinta hitam.

Dion, pemuda tampan pujaan hatinya , sangat pandai merangkai kata-kata indah yang membuai hati. Surat cintanya seakan membawa Reva pada dunia bertabur bunga.

Raka melihat pipi Reva bersemu merah. Sesaat kemudian gadis itu tersenyum. Senyum yang makin mengembang  kemudian  berubah menjadi airmata haru.

“Aku sungguh beruntung, Raka. Dion benar-benar mencintaiku.” Gadis itu terisak-isak, mengusap butiran hangat  yang tergenang di  sudut – sudut matanya. Mata bening  yang sudah mulai diwarnai keriput.

 Lalu dia membalik lipatan kertas, membaca lembar kedua surat itu. Kini sang gadis terkekeh-kekeh.

“Oh, Dion... kamu lucu sekali.” Reva berkomentar sambil meneruskan menekuri kertas kumal di tangannya.

Dada Raka bergemuruh. Dia terus  menatap Kakaknya. Raka sudah hafal adegan terakhir prosesi pembacaan surat cinta itu. Yaitu ketika Reva mendekapkan lembaran kertas  di dadanya sambil menatap lurus ke dermaga kayu jauh di sana.

“Itu dia! Dia datang Raka! Dia datang!” Seru Reva gembira. Gadis itu berdiri.  Dia melambai-lambaikan tangan dengan penuh semangat kepada seorang laki-laki muda bertubuh tinggi atletis yang berdiri di dermaga kayu coklat.

Seluruh semangat hidup dan kebahagiaan seolah merasuki sekujur tubuh Reva. Gadis itu menatap pemuda gagah di sana dengan mata berbinar. Lalu dia kembali duduk, senyumnya terus mengembang. Lama sekali, hingga langit meredup.

Raka menahan gejolak perasaannya. Sudah ratusan kali hal ini dialaminya, tapi rasa itu tetap sama. Getir.

“Dia harus pulang, Raka. Kalau tidak, semua bisa kacau. Kau tahu  bagaimana ayah dan ibunya, kan?” Reva terus menatap pemuda tinggi yang menyemai cinta dihatinya, hingga gelap menelan bayangan pemuda itu.

“Dia sudah pulang, Raka. Tak apalah. Aku bahagia, dia datang. Artinya dia sungguh mencintaiku.” Ucap Reva.

Raka mengangguk.

“Ayo kita pulang, Kakak. “ Raka menghampiri Reva, membimbingnya perlahan menyusuri jalan setapak menuju mobil yang diparkir agak jauh di pinggir jalan raya.

Jalan setapak itu gelap, tapi tak apa.Setelah ini mereka akan berbelok  ke kiri. Raka sudah hafal di luar kepala. Sudah bertahun-tahun dia menemani Reva ke tempat itu.

Meskipun keadaan telah banyak berubah, tapi jalur jalan setapak menuju danau buatan masih tetap sama seperti 9 tahun lalu, ketika dia menemani Reva menemui Dion.

Cinta Dion dan Reva begitu indah, dan Rakalah saksinya.  Dengan setia, Raka selalu menemani Reva dalam setiap kesempatan bertemu Dion. Sayang sekali orang tua Dion membenci Reva. Mereka mendera Dion dengan keras, melarangnya menemui Reva.

Tak heran mengapa hubungan Dion dan Reva terhalang dinding yang tinggi, karena setinggi itu pulalah perbedaan status ekonomi mereka. 

Orang tua Dion pemilik kerajaan kecil di seberang danau buatan itu. Kerajaan kecil  mereka dimotori sebuah pabrik  yang menjadi  “pencetak uang” bagi keluarga Dion. Rumah-rumah cantik yang berjejer di belakang rimbunnya pohon di tepi danau tak lain adalah rumah-rumah karyawan yang bekerja di pabrik milik orang tua Dion.

Sementara Reva dan Raka, hanyalah dua bersaudara yatim piatu yang berusaha berdiri tegak di kaki sendiri. Mereka mewarisi sebuah rumah tua dan mobil sedan bobrok yang mesinnya sering ngadat. Mereka bukan siapa-siapa. Masih untung Raka memiliki pekerjaan yang membuatnya mampu menopang hidupnya dan Reva.

Suatu hari, 9 tahun yang lalu, Dion tak lagi  mampu menahan hasratnya . Ia bertekad menikahi Reva meskipun harus menentang orang tuanya. Dion membawa Reva melaju ke luar kota, menuju rumah paman Dion yang bersedia membantu proses pernikahan mereka.

Skenario Tuhan berkehendak lain. Sebelum tiba di tempat tujuan, sebuah truk tangki menghantam mobil Dion, menewaskannya seketika. Sementara Reva yang duduk di sebelah Dion tidak mengalami luka  berarti di tubuhnya. Tubuh Reva memang baik-baik saja tapi luka parah justru mengoyak jiwanya, merubah warna kehidupan gadis cantik itu menjadi gelap.

Berbulan-bulan Reva hanya  diam, seperti mayat hidup. Jiwanya seolah tercabut dari tubuh. Reva pernah menjadi penghuni sebuah rumah sakit jiwa, tapi akhirnya Raka membawanya kembali pulang. Rumah sakit jiwa itu tak memberi solusi apa pun untuk kesembuhan Reva.

Raka merawat kakaknya dengan penuh cinta. Di dunia ini hanya Reva satu-satunya saudara Raka .  Demi Reva, Raka rela menunda harapannya  menikah dan membangun sebuah keluarga. Tak mudah  menemukan seorang wanita  tulus  yang mau menerima  dirinya, dan merawat kakak ipar yang sakit jiwa.

Kematian Dion seolah menjadi pemicu kehancuran bagi banyak orang. Bukan cuma Reva, tapi orang tua Dion dan kerajaan kecilnya pun ikut runtuh. Raka tak mengerti apa sebabnya, tak lama setelah kematian pemuda itu, pabrik milik keluarga Dion tutup. Kabar yang  tersebar di media setempat menyebutkan keluarga besar Dion terlibat sengketa tanah. Sengketa itu berlarut-larut tak kunjung mencapai penyelesaian hingga detik ini.

Lalu semua berubah. Pabrik yang tutup itu merenggut  denyut nadi  kehidupan kompleks perumahan megah di seberang danau. Karyawan-karyawan kehilangan pekerjaan, sekaligus tempat tinggal nyaman yang selama ini menaungi mereka. Ayah Dion wafat, dan Ibundanya pindah dari istana berkubah biru dengan 3  menara berujung lancip itu, entah kemana.

Raka  melihat  betapa tempat indah saksi bisu kisah cinta Reva dan Dion  kini telah berubah wujud. Tahun berganti tahun. Danau itu kini berair keruh, bau dan penuh sampah. Pohon-pohon yang tumbuh mengitari danau  tertutup semak belukar. Rumah-tumah cantik yang berjejer berganti wajah, bobrok tak terurus. Bangunan megah berkubah biru  dengan tiga menara berujung lancip kini menyerupai istana hantu. Dermaga kayu coklat di sana, tempat biasanya Dion berdiri menatap Reva, kini tak kalah menyedihkan. Kayu-kayunya lapuk, lantai bolong di sana-sini, dan tiang –tiang yang dulu kokoh telah doyong, sekarat, hampir ambruk. Dan angsa putih itu sejak bertahun lalu tak pernah tampak berenang di sana.

Hal inilah yang menohok jiwanya. Bagaimana hatinya tak kelu, ketika Reva berkata bahwa tempat itu indah. Salahkah bila Raka sering membawa Reva ke tempat ini, padahal dia tahu bahwa mata, hati dan jiwa Reva berada dalam dunianya sendiri. Dunia yang tak sama dengan kenyataan.

Salahkah bila tujuannya membawa kakaknya kesini  karena ingin mengobati kerinduannya pada sosok Reva yang dulu, yang ceria, ekspresif dan bahagia.

Reva hanya bisa menjadi “makhluk hidup” beberapa jam saja  saat  Raka membawanya ke tempat itu. Rangkaian adegan selalu sama dari tahun ke tahun, seperti film singkat yang diputar berulang-ulang, ratusan kali.

Raka pun seperti terjebak lingkaran statis yang tak berujung. Bila rindu pada Reva mendatangkan sesak yang tak mampu lagi ditahan, dia akan melakukan hal yang sama.

Raka memakaikan mantel merah jambu di tubuh Reva, menyelipkan surat cinta lusuh peninggalan Dion ke saku mantel itu, lalu membawa wadah plastik berisi kue-kue dan roti kesukaan Reva. Selanjutnya dia menuntun gadis yang mirip mayat hidup itu menuju danau buatan. Raka seperti menyaksikan  jiwa sang mayat yang terikat di dermaga coklat kembali merasuki tubuh. Sejenak dia melihat Reva yang hidup, yang merasa lapar, yang tersenyum, berkata-kata, menangis, terkekeh, melonjak gembira, dan berbinar-binar menatap pemuda pujaannya. Hanya beberapa jam saja. Setelah mentari tenggelam, sang jiwa akan kembali meninggalkan raga.

Raka membuka pintu mobil, menuntun Reva duduk di jok sedan tua miliknya. Gadis itu diam, menatap lurus ke depan. Ekspresinya datar. Ketika Raka telah siap dibelakang kemudi, dia menoleh memandang wajah kakaknya dengan sayang. Raka beringsut memeluk tubuh kurus Reva.

“Kakak, kapan kakak sembuh? Aku rindu Kakak...” Bisik Raka pilu.

Reva tak bereaksi. Dia telah kembali menjadi mayat hidup, terbelenggu dalam dunianya sendiri.


Jiwanya tertinggal  dan terikat erat bersama bayangan Dion di dermaga coklat yang hampir ambruk..