07 Maret 2014

Sosial Media Antar Komunitas



Akhir-akhir ini banyak sekali berbagai komunitas bermunculan. Komunitas- komunitas tersebut dibangun berdasarkan kesaaman minat dan kebutuhan.  Kesamaan minat yang mendorong terbentuknya komunitas itu misalnya saja minat di bidang menulis, memasak, kuliner, berbisnis, bersepeda, bermotor, olahraga, photography, traveling, pendidikan anak, pembinaan keluarga, dan lain-lain. Misalnya saja komunitas untuk para peminat kegiatan menulis   contohnya Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), Komunitas Penulis Muda (KPM),  Komunitas Penulis Perempuan, Komunitas Penulis Cerpen, dan masih banyak lagi.

Manfaat yang diperoleh dengan bergabung dalam berbagai komunitas adalah seluruh manfaat silaturrahmi. Anggota komunitas dapat bertambah teman, ilmu, keterampilan dan pengetahuannya  dari sharing teman-teman dalam komunitas tersebut. Tak jarang bergabung dalam komunitas dapat membuka pintu rezeki dengan  meluasnya network.

Sebagai contoh, aku sendiri sudah merasakan manfaat bergabung dalam suatu komunitas. Sejak bergabung dalam komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis, minat menulisku yang sempat “ tertidur” kembali bangkit dengan suntikan semangat,  motivasi dan bimbingan para anggota komunitas yang merupakan para penulis produktif. Selain itu, para anggota juga kerap membagikan tips  mengirimkan tulisan ke berbagai media, berbagi  info lomba menulis,  bahkan memberikan kursus menulis gratis maupun berbayar untuk mengasah kemampuan para anggota terutama penulis pemula. Aku sudah melihat beberapa penulis pemula telah berhasil menerbitkan buku dan mengukuhkan profesinya sebagai penulis berkat bergabung dalam komunitas ini.

Satu komunitas bisa mendatangkan berkah yang besar, apalagi bila macam-macam komunitas tersebut saling bersinergi.  Bagaimana bila komunitas penulis bersinergi dengan komunitas penerbit. Komunitas foto model berkoordinasi dengan komunitas disainer dan komunitas photographer. Atau komunitas pengrajin  bersinergi dengan komunitas pedagang online.  Sudah dapat dibayangkan yang akan terjadi adalah saling menguntungkan sekaligus terbukanya peluang menghasilkan income bagi berbagai komunitas tersebut.

Berlandaskan pemikiran inilah maka CariCommunity, sebuah media sosial baru yang berbasis Web, menyediakan layanan media sosial yang berbeda dengan sosial media yang telah ada seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain.

Kalau Facebook dan Twitter berfokus pada  individu, maka CariCommunity.com dirancang untuk menjadi wadah bagi berbagai komunitas  seantero dunia melakukan interaksi dan berkoordinasi.  Media sosial ini bermaksud mendorong bersinerginya berbagai komunitas untuk mendatangkan berbagai keuntungan termasuk keuntungan finansial.

CariCommunity.com mudah diakses, dan “ramah” bagi pengguna komputer pemula karena tidak mempunyai fitur-fitur yang rumit. Terdapat fasilitas Message Board, Kalender Kegiatan, Profil Anggota yang semuanya dirancang untuk memfasilitasi kegiatan komunitas.

Bergabung dalam CariCommunity.com dapat memperluas network ke jaringan internasional.  Fasilitas dalam CariCommunity.com dapat menjadi jembatan penghubung  antar komunitas lokal dengan komunitas sejenis di seluruh dunia dalam membentuk komunitas lintas negara.

Tertarik ingin makin meningkatkan manfaat mensinergikan berbagai komunitas? Langsung saja klik CariCommunity.com



27 Januari 2014

Sehari Melihat Dunia Baru

Cantik, modis, dan ramah. Itulah kesan pertamaku  berkenalan dengan  Indriya R Dani  saat  kami sama-sama  menghadiri pengajian majlis ta’lim Qoonitaat di lingkungan rumahku. Dari awal dia sudah menarik perhatian. Sosoknya   “eye catching” mengenakan busana muslimah berwarna cerah  dengan hijab pashmina  bermotif cantik dipadu aksesoris gelang, jam dan cincin yang unik. Pesonanya makin “bling-bling” saat aku tau dia suka menulis dan sudah menerbitkan 23 buku. Wow... segera saja aku kepingin mengenalnya lebih dekat.

Seiring berjalannya waktu dengan berbagai kegiatan di pengajian, aku makin merasa nyaman bersahabat dengannya. Dia seorang penulis, Ibu dari 3 anak, vokalis Saqina Voice, akrab dengan dunia seni dan  fashion, dan saat ini masih berstatus mahasiswi. Tak dapat kubayangkan bagaimana dia bisa mengatur waktunya untuk begitu banyak kegiatan.

Ada satu hal lagi membuat Indriya tampak “cetar” di mataku. Dia rajin shalat Tahajjud, shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis dan menjaga wudhunya. Kala dini hari ketika aku terlelap di alam mimpi, dia sering mengirimkan pesan BB, mengingatkan dan mengajakku Tahajjud. Apa yang dilakukannya mau tak mau membuatku bercermin, malu juga rasanya melihat  diri sendiri yang masih suka bolong-bolong  shalat Tahajjud, shalat Dhuha dan jarang melakukan puasa.  Duuh...

Mengobrol dengannya selalu asyik. Itu karena kami memiliki kesamaan minat dibidang menulis, traveling dan seni. Dia banyak bercerita tentang dunianya. Dunia yang  bersentuhan dengan para pekerja seni, fashion, penerbitan buku,  dan nara sumber buku-bukunya yang terdiri dari orang-orang ternama.

Beberapa kali dia pernah mengajakku ikut melihat dari dekat dunia yang digelutinya. Tapi sayangnya kesibukan kami sering tak sejalan. Akhirnya hari  Jum’at 24 Januri 2014  lalu aku bisa jalan-jalan  menemani Indriya menuntaskan berbagai urusannya di kota kembang Bandung.

Kemacetan Bogor telah menghadangku sejak  sepanjang jalan Dreded menuju keluar kompleks Bogor Nirwana Residence, kemudian terurai di jalan Pahlawan. Namun antrian kendaraan yang padat  kembali memperlambat  lajuku di sepanjang jalan Sukasari dan Padjajaran menuju ke rumah Indriya. Jam telah menunjukkan pukul 7.21 WIB ketika aku tiba di rumahnya.

Indriya menebar senyum, dia tampak cantik dengan baju gamis warna pink fanta, dilapis jaket jeans dan padanan hijab pashmina bermotif cerah, jam tangan berwarna senada dan gelang. Satu hal yang seakan menjadi ciri khasnya adalah mengenakan hiasan di hijabnya. Hiasan itu terbuat dari helai  bulu ayam berwarna pink fanta senada dengan baju.    Dia memperkenalkan aku pada Teh Manda, managernya di SABA production. Kami lalu melakukan shalat Dhuha.

Ketika duduk menikmati secangkir coklat  di ruang tamunya, terdengar suara kokok ayam.  Kulemparkan pandanganku ke luar, ke kandang berwarna putih yang tampak baru. “ Itu ayam kate hadiah ulang tahun perkawinan dari suamiku.” Seru Indriya. Aku teringat dia pernah cerita tentang sepasang ayam hadiah ulang tahun perkawinan yang ke-18 dari suaminya. Aku tertawa. Menurutku hal itu unik sekali. Bertambah lagi kesamaan kami, karena seperti suami Indriya, suamiku pun suka  memelihara ayam. Bedanya, Indriya  senang dihadiahi ayam. Sedangkan aku tidak. Hehe..



Jam 8  kami berangkat. Sepanjang perjalanan itu kami banyak berbincang seputar dunia tulis- menulis.  Obrolan kemudian beranjak ke  naskah buku yang tengah dikerjakannya. Indriya tengah menjalani proses penulisan buku tentang gaya hidup “ Muslimah Kosmopolitan”. Dua kosa kata itu menggelitik rasa ingin tahuku.  Dengan penuh semangat Indriya menjelaskan bahwa muslimah saat ini menghadapi berbagai pilihan dalam hidupnya. Contoh kecilnya saja, dalam hal perawatan kecantikan. Saat ini ada banyak sekali pilihan cara merawat kecantikan mulai dari cara tradisional, penggunaan teknologi canggih, berbagai bahan kimia hasil penemuan dibidang kosmetik, hingga suntikan botoks. Di sinilah seorang muslimah harus ekstra hati-hati menentukan pilihannya.  Dari sekian banyak pilihan itu dia harus  pandai memilih bahan-bahan yang halal dan cara perawatan kecantikan yang sesuai dengan fikih atau hukum Islam.

Dalam bukunya, Indriya membahas berbagai hal seputar aktivitas muslimah sehari-hari dalam hal minat, opini maupun interaksi sosialnya. Singkatnya muslimah kosmopolitan adalah muslimah yang berwawasan global, mengikuti gaya hidup masa kini tapi tetap berpegang teguh pada hukum Islam. Sangat menarik! Sepertinya aku melihat muslimah kosmopolitan sejati pada diri Indriya R Dani.

Berkunjung ke Sekolah Perempuan

Teh Manda, Indriya, aku dan Indari Mastuti di markas Sekolah Perempuan

Agenda pertama yang kami lakukan ketika tiba di Bandung adalah bertemu dengan Indari Mastuti, pendiri komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), Ibu-ibu Doyan Bisnis (IIDB) dan Sekolah Perempuan. Aku mengenal Indari ketika bertemu di acara kopi darat IIDN di Bogor bulan Desember 2013 lalu. Sosoknya yang energik seolah menularkan virus positif dibidang menulis dan pemberdayaan wanita. Dia telah menjadi tokoh inspiratif  yang mendorongku untuk giat  menebar manfaat bagi sesama.

Indari mengajak kami makan siang dengan menu ikan pecot masakan ibu mertuanya. Lalu kami melaksanakan shalat Dzuhur dirangkai shalat Ashar  jama’ takdim.

Seperti yang sudah aku duga, mempertemukan Indari dan Indriya ibarat mendekatkan dua kutub energi yang meletup-letup. Penuh semangat, ide dan kreativitas. Aku tersenyum-senyum sendiri menyaksikan dua wanita hebat itu saling bertukar informasi dan menyerap ilmu. Sayang sekali, waktu yang sangat terbatas terpaksa menghentikan obrolan menarik itu. Mudah-mudahan di lain waktu kami bisa bersama lagi.

Penerbit Rosda
Indriya dan Direktur Penerbit Rosda, Pak Zamzami Djahuri

Acara selanjutnya adalah menghadiri meeting dengan direktur penerbit Rosda di kawasan Jl. Ibu Inggit Garnasih. Kami dipersilakan masuk ke ruang meeting di lantai dua kantor penerbit.

Pak Zamzami Djahuri, sang direktur penerbit menyambut kami dengan ramah. Indriya didampingi Teh manda kemudian mempresentasikan bukunya dengan sangat meyakinkan. Dalam meeting juga dibahas mengenai berbagai aspek, misalnya isi buku, tata letak atau lay out, fotografi, alih bahasa dan nara sumber. Pak Zamzami tampak sangat tertarik dan ingin segera mencetak buku itu. Tampaknya para pembaca hanya tinggal menunggu terbitnya karya Indriya nanti di bulan Februari 2014.

 Di akhir meeting ada kejutan kecil buat Indriya. Salah satu teman sekolahnya yang sudah 23 tahun tidak berjumpa ternyata bekerja di penerbit Rosda. Mereka  bertemu, bertukar kabar dan berfoto bersama. Senangnya..

Butik Rya Baraba


Dalam bukunya, Indriya juga  membahas tentang fashion. Beberapa desainer busana muslim akan menampilkan karya mereka di buku itu. Salah satunya adalah Mbak Rya Baraba. Karena itulah kami lalu meluncur ke kawasan Buah Batu, mengunjungi butiknya.

Butik cantik dan eksklusif itu terletak di Jl. Buah Batu nomor 59. Begitu masuk kami disambut aura cozy ruangan dan keramahan para mbak-mbak pramuniaganya. Berbagai busana muslim bergaya glamor, eksklusif, feminin dan modern tampak dipajang disana. Setelah melihat-lihat sebentar, kami dipersilakan naik ke lantai dua untuk bertemu dengan Mbak Rya.

Seorang wanita cantik dan modis menyambut kami dengan ramah. Dialah Mbak Rya. Kami kemudian  duduk mengobrol lesehan di atas karpet empuk.



Mbak Rya berbagi cerita awal mula usahanya dibidang fashion. Dia datang dari keluarga berkecukupan. Suaminya adalah pengusaha sukses dibidang properti. Ternyata sang suami tidak mendukung ketika Mbak Rya menyatakan keinginannya berwira usaha di bidang fashion. Menurut suaminya, berjualan makanan atau pakaian itu yang merupakan kebutuhan paling dasar itu tidak keren. Tapi jiwa enterpreneur dalam diri Mbak Rya tidak serta merta padam. Dia tetap membuka usahanya di Bandung hingga menjadi besar seperti sekarang.

“ Bagaimana pendapat suami Mbak Rya sekarang, setelah melihat berbagai pencapaian Mbak selama ini?” Tanyaku.

“ Ya, biasa saja. Dia  tidak pernah memuji saya.” Jawabnya sambil tersenyum lebar.

“ Ah, pasti sebenarnya dia bangga, Mbak. Hanya karena ego-nya saja dia tidak mengakui.” Sahutku yang langsung disambutnya dengan tawa berderai.

Perbincangan kami makin menarik ketika membahas kemungkinan besar Indonesia akan menjadi pusat fashion muslim dunia, mengingat Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar dan  memiliki  desainer-desainer hebat yang sangat kreatif. Busana muslim Indonesia saat ini  semakin dilirik oleh negara-negara tetangga. Misalnya saja Malaysia.  Banyak warga negara Malaysia membanjiri Bandung untuk berbelanja fashion, baik untuk dipakai sendiri maupun untuk dijual kembali di negaranya. Hal ini sangat membanggakan para desainer Indonesia.  

Di akhir perbincangan kami, Mbak Rya berseru “ Nah, sekarang kalian semua boleh pilih pashmina mana saja yang kalian mau, berikut ciputnya. Gratis! Ayo silahkan pilih.”
Bersama  Mbak Rya Baraba.

“Cihuiii...!” Kontan aku, Indriya dan Teh Manda bersorak-sorak gembira. 

Kemudian kami sibuk memilih di antara pashmina-pashimina cantik yang terpajang di dinding butik. Setelah pusing memilih, akhirnya kami masing-masing memboyong ciput, pashmina dan jepit rambut cantik dengan wajah sumringah. Terimakasih Mbak Rya...





Ghaida’s Gallery

Matahari telah tenggelam ke peraduannya ketika kami tiba di kawasan Geger Kalong Girang. Di tengah udara dingin, kami langsung masuk masjid untuk menunaikan shalat Maghrib dirangkai shalat Isya jama’ takdim.  Rasanya nyaman beristirahat sejenak di masjid sambil mendengar tausiyah.

Kawasan disekitar pesantren Darut Tauhid terlihat ramai. Toko-toko dan warung makan di sepanjang jalan buka. Entah mengapa ada sekelumit kawasan itu yang mengingatkan aku akan suasana di Madinah, meskipun sebenarnya jauh berbeda. Mungkin karena suasana yang “hidup” dan aura Islami di sana.

Setelah berjalan beberapa saat, di ujung sebuah gang, kami mendapati sebuah bangunan yang menurut keterangan adalah tempat tinggal Ghaida Tsurayya, desainer muda, putri dari Aak Gym dan Teh Ninih Mutmainah. Kami  mengucapkan salam kepada seorang wanita muda yang menggendong anak balita laki-laki. Dia kemudian  mempersilakan kami masuk, sementara dia memanggil Ghaida.

Tak lama kemudian, Ghaida muncul dengan menggendong seorang  balita laki-laki yang terlelap dalam pelukannya. Kami sempat bingung karna balita ini sangat mirip dengan yang satunya lagi. Ternyata putra Ghaida itu kembar. Sementara anak pertamanya perempuan.

Ghaida mewarisi garis-garis wajah ibundanya, Teh Ninih. Gerak-gerik, suara lembut dan keramahannya pun mengingatkan aku pada Teh Ninih.
Bersama Ghaida Tsurayya

 Di usia muda, Ghaida telah membuktikan dirinya sebagai desainer busana muslim untuk  segmen anak muda dengan karya-karya yang apik. Desainnya sebagian besar bergaya feminin dengan warna-warna pastel yang lembut.

Setelah berbincang sebentar, Ghaida menyerahkan busana muslim hasil rancangannya untuk dibawa. Busana itu akan dikenakan oleh model muslimah dalam sesi pemotretan untuk melengkapi buku karya Indriya.

Hari telah beranjak malam ketika kami pamit pulang. Sebelum berangkat ke Bogor, kami menikmati makan malam di kawasan itu. Aku  dan Teh Manda memilih Mie Ramen bakso, sementara Indriya memilih bakso, nasi dan ayam goreng.


Di sela acara makan malam, seorang teman Indriya menyapa. Gadis muda itu seorang mualaf asal pulau bangka yang tengah menjadi santri di Darut Tauhid. Aku selalu menyimpan kekaguman pada para mualaf yang sungguh-sungguh menjalankan syariat Islam seperti gadis muda ini. Keimanannya  berqualitas karena dia tergerak sendiri mencari hidayah dan kebenaran Islam, berbeda dengan seseorang yang telah menjadi muslim karena dilahirkan dari keluarga muslim.

Malam makin larut, kamipun beranjak pulang, kembali ke Bogor.

Seharian bersama Indriya membuatku  mendapat pengalaman baru. Aku seolah dibawa melihat dunia baru yang berbeda dengan kegiatanku selama ini.  Ternyata dunia menulis itu bisa menjadi  sangat luas dan menarik. Seorang penulis bisa berhubungan dengan berbagai profesi, mulai dari desainer, artis, photographer, akademisi, dan lain-lain tergantung dengan bidang yang akan ditulisnya.  Hari ini juga aku  mendapat gambaran proses penulisan buku. Dan yang paling asyik, kami dapat pashmina gratis dari desainer beken. Yihaaa...

25 Desember 2013

Waspadai Ulah Pembajak Account Facebook


Sebuah pesan singkat di inbox facebook muncul dari account seorang kakak tingkatku. Pesan itu menanyakan aku sedang ada di mana.  Segera ku jawab kalau aku sedang di rumah. Lalu muncul lagi pesan darinya, ingin meminta bantuanku. Ketika aku tanyakan ingin meminta bantuan apa, dia menjawab ingin meminta tolong pinjam uang untuk mentransfer adiknya karena uang di tabungannya sedang kosong. Dia menulis pesan lagi kalau uang yang ada pada dia adalah uang cash yang tidak bisa dikirimkan. Dia berjanji jam 8 malam ini akan segera mengembalikan uang pinjamannya, dan kalau aku setuju meminjamkan dia akan kirim nomor rekening adiknya.

Rasa kantukku siang itu langsung hilang. Aku merasa ada yang aneh. Aku kembali mengamati pesan-pesan di inbox itu. Dia menulis namaku dengan huruf kecil, lalu kata-kata yang lainnya ditulis menjadi singkatan-singkatan. Misalnya kata “kakak” ditulisnya “kk”; “nanti” menjadi “nnt” dan sebagainya. Lalu susunan katanya tumpang tindih bernada mendesak. Kuamati lagi pesan-pesan terdahulu yang pernah masuk ke inbox-ku, di mana si Kakak menulis namaku dengan huruf besar dan gaya yang santai. Terasa ada perpedaan dari cara penulisan maupun gaya dalam berkata antara pesan yang baru masuk dengan pesan sebelumnya. Aku percaya setiap orang punya gaya masing-masing dalam bertutur kata dan menulis. Sebuah kecurigaan muncul di benakku. Kelihatannya pesan ini ditulis oleh orang yang berbeda. Ada kemungkinan facebook kakak tingkatku ini dibajak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Pesan-pesan di inbox itu tidak lagi kurespon. Aku segera menghubungi kawan-kawanku mencari info nomor telepon kakak tingkat pemilik account facebook itu. Ternyata tidak mudah, beberapa teman yang aku telepon tidak punya nomor teleponnya. Lalu aku tanyakan ke kakak-kakak tingkat lewat inbox facebook. Akhirnya dapat juga nomor teleponnya. Sayang sekali, beberapa kali aku hubungi, telpon selularnya tidak diangkat. Lalu ada seorang kakak tingkat memberiku nomor yang lain. Ketika aku hubungi, yang mengangkat telepon seorang wanita, dia istri kakak tingkatku. Kepadanya aku sampaikan kemungkinan account facebook suaminya telah di bajak oleh orang yang tak bertanggung jawab.

Keesokan paginya, sebuah sms masuk ke nomorku. Sms itu berisi konfirmasi kakak tingkatku yang menyatakan memang benar account facebooknya telah dibajak orang. Lalu ada info bahwa salah seorang temannya sudah mentrasfer Rp . 3.000.000,- ke account si pembajak.  Waduh...

Belajar dari pengalaman ini, sebaiknya kita lebih hati-hati bila menerima pesan yang mencurigakan baik itu lewat sms, BBM, ataupun facebook. Bisa saja pesan itu ditulis oleh orang yang ingin memanfaatkan keadaan. Bayangkan saja seandainya android, BB, atau telepon selular kita di curi orang. Lalu pencurinya memanfaatkannya untuk mengeruk keuntungan dengan cara pura-pura pinjam uang kepada saudara, teman, dan relasi kita yang datanya tersimpan di phone book, BB kontak maupun account facebook kita. Nama baik kita bisa rusak karna prilaku sang pencuri, dan  akan timbul kerugian yang dialami oleh korban penipuannya.

Bila menerima pesan tertulis yang mencurigakan, apalagi dengan dalih pinjam uang atau meminta transfer uang, sebaiknya kita langsung saja menghubungi orang yang bersangkutan via telepon atau tatap muka bila memungkinkan, untuk konfirmasi. Kejahatan saat ini sudah makin beragam. Sudah saatnya kita tingkatkan kewaspadaan. Semoga bermanfaat.


27 Oktober 2013

KEGIATAN-KEGIATAN ASYIK BERSAMA SUAMI

Seiring dengan usia pernikahan kami yang  memasuki tahun ke 16,  aku dan suami merasakan hubungan kami semakin nyaman. Kami semakin saling memahami dan mendukung. Merasa tentram bila bersama, merasa rindu bila berjauhan,  dan merasa saling melengkapi satu sama lain. Begitu banyak nikmat dan karunia yang patut disyukuri sepanjang perjalanan kami mengarungi hidup bersama. Satu hal penting yang sama-sama selalu kami jaga adalah menjalin kemesraan. Ritme pekerjaan suami yang selama 2 minggu bekerja jauh di Selat Malaka dan 2 minggu libur di rumah justru  membuat kami bisa memanfaatkan waktu bersama menjadi lebih berkualitas.

Saat suami libur, kami sering melakukan kegiatan berdua. Bagaimana dengan anak-anak? Tentu saja selalu ada waktu buat mereka, tetapi seiring pertumbuhan anak-anak yang makin besar, mereka kini memiliki kegiatan masing-masing. Seringkali mereka tidak mau diajak pergi bersama-sama kami karena punya acara sendiri dengan kawan-kawannya. Ya, anak-anakku sudah memasuki masa senang bersosialisasi dengan teman-teman.

Hal yang paling kami suka adalah merancang kegiatan berdua.  Kegiatan yang sebenarnya sederhana saja, kegiatan biasa yang umum dilakukan orang-orang, misalnya nonton film di bioskop, jalan-jalan atau kegiatan yang bisa dilakukan di rumah saja. Intinya tidak perlu terlalu pusing memikirkan kegiatan ini-itu, yang penting bisa dilakukan berdua dan merasa senang untuk melakukannya.

Nah, apabila teman-teman pernah merasakan suasana yang membosankan dengan pasangan dan ingin mendapatkan kembali kemesraan seperti awal pernikahan, beberapa kegiatan yang kami lakukan di bawah ini mungkin bisa dicoba.

Belanja
Sebenarnya kami tidak termasuk pasangan yang hobi berbelanja, tapi kadangkala rencana kegiatan bersama yang kami rancang membutuhkan bahan atau perlengkapan tertentu yang mau tidak mau harus kami siapkan. Misalnya saja untuk mencoba satu menu masakan, kami akan berbelanja bahan-bahannya bersama. Atau saat akan melakukan touring dengan motor, kami butuh perlengkapan  safety riding seperti helm, jaket, ankle-elbow-knee protector, jas hujan, sepatu boot dan lain-lain. Perlengkapan ini kami siapkan bersama dengan melihat daftar yang sudah disiapkan, saling mengingatkan supaya tidak ada yang terlupa. Disamping menonton di bioskop, suamiku juga senang  nonton film-film baru dari DVD, aku sering menemaninya berbelanja film-film yang bagus dan ikut menontonnya. Kami juga sering berbelanja bulanan di Supermarket untuk kebutuhan sehari-hari. Rasanya lebih asyik berbelanja bersama suami, karna sudah ada pembagian tugasnya. Aku yang membayar, dan suami yang mengangkut barang-barang belanjaannya. Hehehehe...

Masak

Pempek telur, salah satu  makanan kesukaan aku dan suami yang sering kami masak bersama-sama


Pada dasarnya aku dan suami sama-sama suka makan dan juga suka masak. Satu hal yang aku kagumi dari suami, dia pinter masak. Kalau ada ide untuk memasak suatu makanan, kami berdua mulai dengan berbelanja bahan-bahannya sesuai dengan daftar yang sudah kami siapkan. Setelah itu barulah terjun ke dapur, meracik bumbu dan masak bersama. Biasanya kami berbagi tugas, misalnya saja untuk membuat masakan kegemaran kami yaitu martabak telur kuah kari, pembagian tugasnya adalah ; suamiku yang membuat martabak telurnya sedangkan aku yang membuat membuat kuah karinya. Tapi menggoreng martabaknya kami lakukan berdua. Bagian yang paling menyenangkan pada kegiatan memasak ini adalah saat menikmati hasil masakan kami bersama anak-anak.

Olahraga
Olahraga bersama bisa juga menjadi kegiatan yang mengasyikan. Saat suami libur, hampir setiap hari kami berdua fitness di gym. Suamiku  bertindak sebagai personal trainer yang mengajari dan mengawasi aku, terutama untuk kegiatan angkat beban dengan alat. Dia memberi contoh bagaimana gerakan mengangkat beban dilakukan. Pengetahuan tentang bagaimana gerakan yang benar sangat penting supaya terhindar dari cedera otot. Setelah selesai melakukan angkat beban dan jalan atau lari di teadmill, kami melakukan peregangan otot bersama.

Selain di gym, kami juga sering jogging atau jalan pagi di lingkungan tempat tinggal kami. Udara yang sejuk, pemandangan cantik gunung Salak dan Pangrango serta kondisi jalan yang bagus membuat kegiatan jalan santai menjadi menyenangkan. Sambil jalan pagi, kami bercanda dan membicarakan hal-hal yang ringan. Acara jalan pagi biasanya ditutup dengan makan bubur ayam  di warung  Saung Abah di dekat rumah. Maknyuss.

Menulis
Bila sedang ingin dirumah saja, kami juga suka menulis.  Ide tulisan bisa datang dari aku atau dari suami, atau dari hasil kegiatan berdua . Kegiatan menulis ini kami lakukan sendiri-sendiri, tapi setelah selesai hasilnya kami koreksi secara silang. Artinya, tulisanku akan di edit oleh suami, dan tulisan suami akan aku edit. Setelah selesai saling mengkoreksi, kami diskusikan lagi sampai dapat hasil tulisan yang kami anggap sudah layak. Selain saling mengkoreksi, tak jarang kami saling mengkritik hasil tulisan masing-masing. Suamiku adalah kritikus paling kejam dan paling tega memberi komentar pedas. Di awal-awal pernikahan aku sering terkaget-kaget dengan kritikannya, tapi sekarang aku sudah faham. Kritikannya itu justru adalah pendapat paling jujur yang dilakukan oleh orang terdekat tanpa basa-basi. Tujuannya untuk kebaikanku sendiri. Sangat menyenangkan bila hasil tulisanku bisa dimuat di majalah, atau mendapat hadiah dalam kompetisi menulis, karena semua tak lepas dari peran suamiku sebagai editornya.

Blusukan
Tidak jarang di sore hari kami naik motor berkeliling Bogor, blusukan tanpa arah yang jelas, masuk ke jalan-jalan kecil yang belum pernah dilalui, menyusuri perkampungan, melewati jalan-jalan yang membelah persawahan, lalu mampir ke warung kecil dipinggir jalan untuk menikmati kuliner kampung. Sering juga mampir ke toko-toko kecil di pinggir jalan, misalnya toko penjual burung. Melihat-lihat burung-burung cantik yang dijual, lalu ngobrol dengan pemilik toko atau pengunjung lain. Suamiku lumayan banyak pengetahuannya tentang unggas, sehingga obrolan bisa nyambung dengan komunitas pecinta burung dan ayam. Dari pedagang-pedagang kecil dipinggir jalan itu banyak hal yang kami dapatkan, hikmah tentang kegigihan mereka, kesulitan hidup, dan harapan mereka dimasa depannya.

Dari acara blusukan ini, banyak juga manfaat yang bisa didapat. Kami jadi tahu berbagai jalan pintas menuju tempat-tempat di Bogor. Lalu tak jarang selama blusukan itu menemukan lokasi toko yang mungkin suatu hari nanti akan berguna, misalnya kami jadi tau lokasi toko-toko accesories tas, laundry yang tarifnya lebih murah, toko penjual frame dan lukisan yang letaknya agak tersembunyi tapi harganya jauh lebih murah daripada toko lain, dan lain-lain.

 Acara blusukan ini bukan hanya dilakukan di Bogor. Bahkan saat kami mudik ke Palembang, suamikupun suka mengajak aku blusukan ke tempat-tempat “bersejarah”, alias tempat-tempat yang menyimpan kenangan masa kecilnya. Dia mengajak aku bertemu teman-teman lamanya, lalu mengunjungi tempat-tempat dia bermain saat masih kecil, jajan makanan yang dulu sering dimakannya, dan lain-lain. Hal ini cukup menyenangkan buatku, karena rasanya seperti mengenal dirinya lebih jauh, sampai ke masa kecilnya.

Berburu Kuliner Unik dan Enak
Kadangkala kami browsing tentang kuliner  unik dan enak . Kami catat alamatnya, lalu kami datangi tempatnya. Selain mencicipi masakan yang direkomendasikan, tentu saja makanannya di potret, lalu diposting di sosial media atau di blog untuk memberi informasi bagi pembaca blog maupun teman-teman di sosial media. Info tentang kuliner enak bukan hanya dari internet , tapi bisa juga dari teman, atau dari acara kuliner yang ditayangkan di televisi. Berburu kuliner ini tidak selamanya memuaskan, karena kadangkala kuliner yang direkomendasikan ternyata tidak cocok dengan selera kami. Tapi ya tidak apa-apa, karena sebenarnya letak asyiknya adalah saat proses berburu itu sendiri. Hehehehe...

Touring



Kami juga sering melakukan touring dengan motor besar menempuh jarak yang cukup jauh. Misalnya ke Jogjakarta,  Banten, Bandung, Sukabumi, Pangandaran, Kuningan - Jawa Barat, dan lain-lain. Touring berdua adalah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi kami. Sepanjang perjalanan kami berbagi tugas. Aku memegang alat penunjuk arah (GPS) dan memberi aba-aba pada suami untuk berbelok sesuai petunjuk dari GPS. Sementara suamiku berkosentrasi mengendarai motor. Sesekali bila  kami menemui tempat dengan pemandangan yang indah, kami berhenti untuk berfoto. Atau bila sudah terasa lelah, kami berhenti di rumah makan atau warung untuk minum minuman hangat, makan dan beristirahat sejenak. Bila waktu shalat tiba, kami shalat di masjid yang kami temui di jalan. Perjalanan bisa jadi kurang menyenangkan bila hujan turun. Kami harus berhenti untuk mengenakan jas hujan yang selalu kami bawa. Kalau hujannya tidak terlalu deras, kami tetap melanjutkan perjalanan. Tapi bila hujannya sangat deras sehingga mengganggu jarak pandang, ditambah lagi bila kondisi jalan yang dilalui kurang baik, ramai kendaraan-kendaraan besar dan sebagainya, maka kami memilih berhenti dulu untuk berteduh. Bagaimanapun safety riding harus diutamakan.

Untuk jarak jauh seperti ini, tentu kami harus menginap karena perjalanan yang panjang membuat kami lelah. Berada di tempat yang indah berdua dengan  suasana  yang lain dari biasanya seperti membangkitkan energi baru  bagi kami berdua.

Hunting Foto
Suamiku memiliki hobi photography, dan aku senang bila di foto. Jadi klop. Hehehe...Kami suka mencari lokasi-lokasi yang bagus untuk pemotretan. Senangnya tinggal di Bogor ini salah satunya adalah tak perlu repot jauh-jauh mencari lokasi untuk berfoto, cukup dilingkungan sekitar saja, atau jalan sedikit misalnya ke Kebun Raya Bogor, ke Puncak, atau ke objek wisata yang ada dilingkungan Bogor, sudah tersedia pemandangan indah.



Hunting foto juga kadangkala kami lakukan di luar Bogor, kadangkala digabung dengan kegiatan touring. Meskipun aku suka difoto, tapi objek pemotretan bukan melulu tertuju padaku melainkan beragam hal unik yang ditemui, misalnya landscape dan human interest.

Suamiku selain jadi photographernya, juga bertindak sebagai pengarah gaya. Repotnya, kalau kami ingin berfoto berdua, suamiku harus rela bercapek2, setting kamera yang diletakkan di tripod, lalu lari ke titik pemotretan, kemudian bergaya sambil pencet remote agar camera “menjepret” aksi kami. Seru....!


Selain kegiatan itu, kami masih punya beberapa rencana kegiatan bersama yang ingin kami wujudkan dalam waktu dekat. Misalnya, kami ingin melakukan safari masjid, yaitu mengunjungi masjid-masjid cantik dan berarsitektur unik, lalu shalat disana. Kami juga ingin punya kesempatan jalan-jalan ke luar negeri berdua karena selama ini anak-anak selalu protes bila kami akan pergi berdua saja. Sehingga sejauh ini suami selalu mengalah untuk menemani anak-anak di rumah saat aku jalan bersama teman-teman untuk melihat pemandangan di negeri orang. Satu-satunya kesempatan berada di luar negeri bersama yang pernah kami lakukan adalah saat menunaikan ibadah haji. Namun walaupun tujuan utamanya untuk beribadah tetapi tetap saja kami bisa mendapatkan keindahan dan kebersamaan saat berada di sana. 

Demikianlah, sekedar sharing untuk melakukan kegiatan asyik bersama pasangan. Menjaga hubungan harmonis dengan pasangan dalam jangka waktu yang lama  tentu bukan hal yang sepele. Kata orang, kunci awetnya pernikahan adalah kemampuan menjalin kekompakan, kedekatan dan persahabatan dengan pasangan. Menjaga cinta ibarat menjaga nyala api agar tidak cepat padam, perlu usaha dari kedua belah pihak. Sepanjang pengalamanku, kegiatan-kegiatan bersama  yang dilakukan dengan kompak bisa memperkokoh cinta dan kemesraan bersama pasangan. Tidak percaya? Coba deh!

13 Oktober 2013

Menjadi Ibu Rumah Tangga, why not?


Menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja  pada awalnya bukanlah hal yang membanggakan bagiku. Terlebih lagi bila bertemu orang-orang  yang masih memandang rendah profesi ibu rumah tangga. Beberapa orang yang kutemui mengganggap ibu rumah tangga itu orang-orang yang kurang wawasan, tak tahu perkembangan teknologi, tidak produktif, suka ngerumpi, kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang suami, dan sederet pendapat negatif lainnya. Beberapa tahun yang lalu saat aku masih ikut kursus bahasa Inggris, seorang teman bertanya dengan heran waktu aku bilang kalau aku adalah ibu rumah tangga. “ Lho, ibu rumah tangga kok disini? Apa pentingnya belajar bahasa Inggris buat ibu rumah tangga?” Astaga...pertanyaannya kok sadis begitu. Di lain waktu aku bertemu dengan salah seorang kawan kuliahku. Dengan sifatnya yang ceplas-ceplos dia berkata. “ Maaf ya, aku dulu mengenal kamu itu orang yang berpotensi, banyak bisanya. Tapi aku kaget lho kalau ternyata sekarang kamu hanya jadi ibu rumah tangga, jauh dari apa yang aku bayangkan. “  Jleeb!!. Kebayang kan tertohoknya perasaanku?

Menjadi ibu rumah tangga adalah suatu pilihan. Meskipun bukan pilihan yang populer. Kalau anak-anak kecil ditanya mau jadi apa mereka kelak kalau dewasa, jawabannya beragam dari jadi dokter, arsitek, artis, pramugari, pilot, dan berbagai profesi lainnya. Sangat jarang ada anak yang menjawab ingin jadi ibu rumah tangga. Padahal tidak dapat disangkal, ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia. Seorang ibu rumah tangga bertanggung jawab mengurusi suami dan anak-anaknya. Memberikan dukungan terhadap karier suami, mengurus keperluannya, memberikan rasa nyaman dan mendoakan suami adalah hal-hal yang dilakukan ibu rumah tangga dalam perannya sebagai istri. Sebagai ibu , dia harus mendampingi anak-anak dalam proses pertumbuhan,perkembangan dan pendidikan akhlak. Profesi  Ibu rumah tangga itu multitasking. Dia dituntut untuk mampu menjadi manager keuangan dalam keluarganya, menjadi guru privat yang mendampingi anak-anaknya belajar, menjadi koki keluarga, konsultan tempat curhat bagi suami dan anak-anak, dan bahkan jadi sopir pribadi yang wara-wiri mengantar jemput anak-anak sekolah dan les.

Pergaulanku dengan beragam komunitas  dan pertemuan dengan teman-teman lamaku membuatku kini merasa bersyukur menjadi ibu rumah tangga. Beberapa temanku yang berprofesi sebagai wanita karier mengeluh karena mereka merasa memiliki beban ganda, sudah bekerja tapi harus juga melaksanakan kewajiban sebagai istri dan ibu. Kadangkala mereka iri karena melihat aku bisa punya “me time” yang lebih banyak. Bisa ke salon, jalan-jalan, santai sambil baca buku, nge-gym, main musik,dll.  Padahal dulu aku yang merasa iri pada teman-teman yang berkarier. Sebenarnya harus disadari kalau semua pilihan itu ada konsekwensinya.

Sekarang ini tinggal menjalani saja apapun yang menjadi pilihan kita dengan sebaik-baiknya. Kalau memilih menjadi ibu rumah tanggapun bukan berarti tak ada hal lain yang dapat dilakukan. Ibu rumah tangga memiliki waktu yang lebih flexible dibanding wanita yang bekerja. Banyak kesempatan menggali potensi diri untuk menjadikan diri lebih berkualitas. Setiap orang pasti punya potensi yang dapat dikembangkan.Misalnya dengan menekuni hobby memasak, membuat kerajinan tangan, melukis, menyanyi, main musik, menulis, dan lain-lain. Selain itu ibu rumah tangga pun bisa menambah pengetahuan dengan banyak membaca, bergabung dalam komunitas tertentu sesuai minatnya, misalnya komunitas memasak, komunitas menulis, majelis taklim atau pengajian, dll.



Aku sendiri merasa bersyukur. Justru pada saat menjadi ibu rumah tangga inilah aku punya waktu untuk mengembangkan hobby bermain musik. Seminggu sekali aku ikut les piano disebuah studio musik. Bukan piano klasik, tapi aku ambil kelas hobby yang “fun”. Artinya aku bisa minta belajar musik apapun yang aku mau, bisa pop, jazz, bahkan dangdut. Tujuannnya memang untuk kesenangan pribadi saja. Aku main piano dirumah buat suami dan anak-anakku. Sekali-sekali bila berkumpul dengan teman-teman aku juga bisa mengiringi mereka menyanyi.

Selain itu aku ikut komunitas pengajian yang anggotanya ibu-ibu rumah tangga dengan keistimewaan masing-masing. Ada yang pebisnis, ada yang penulis dan penyair, ada yang pandai berorganisasi, ada yang luas pengetahuannya, ada yang fashion stylist, ada yang sudah menjalani kehidupan yang berliku sehingga banyak memberikan nasehat-nasehat berdasarkan pengalaman hidupnya. Sungguh menarik bisa menjalin silaturrahmi dengan mereka, bisa menambah saudara, dan  menambah ilmu pengetahuan. Selain mengadakan pengajian, komunitas inipun kerap kali mengadakan kegiatan sosial bagi masyarakat di lingkungan sekitar.

Sejak berkenalan dengan salah seorang ibu rumah tangga yang hobby menulis di komunitas pengajian, aku kembali menekuni dunia tulis menulis yang sempat bertahun-tahun vakum. Dengan menulis, aku bisa menyampaikan apa yang ada dalam fikiranku dan membaginya melalui media sosial, blog maupun media cetak.

Singkat kata, banyak hal postitif yang bisa dilakukan seorang ibu rumah tangga selain rutinitas mengurus suami dan anak-anak. Hal-hal positif inilah yang bisa menepis anggapan orang-orang yang menganggap rendah   profesi ibu rumah.


Menjadi ibu rumah tangga meskipun pada awalnya karena permintaan suami, tapi kini aku jalani dengan ikhlas dan rasa syukur. Sekarang tinggal berusaha menjadi ibu rumah tangga yang lebih berkualitas, supaya lebih banyak  manfaat yang bisa  aku berikan kepada orang-orang terdekatku dan masyarakat yang lebih luas.

16 Juli 2011

Jalan-Jalan di Vatican dan Colosseum di Roma



Di Bandara Leonardo da Vinci atau Fiumicino, setelah mengurus bagasi barang-barang kami, ada satu hal yang sedikit “mengejutkan” terutama bagi peserta tour yang berusia lanjut yaitu : tidak ada porter. Memang benar, tidak ada satupun petugas atau anak-anak muda yang biasanya banyak terdapat dibandara di Indonesia yang membantu mengangkut barang. Jadi itu artinya kami harus membawa barang-barang kami sendiri. Memang disediakan trolley atau kereta dorong gratis, tapi mengangkat tas dan menurunkannya dari trolley harus kami lakukan sendiri. Bagi aku, Mariska dan peserta yang lain yang masih muda-muda sih tak masalah. Meskipun capek setelah 16 jam perjalanan, tapi menginjakkan kaki di benua Eropa terasa memberikan energi luar biasa bagi kami, bagaikan batere yang baru di-charge, rasanya tak sabar lagi kami ingin menjelajah Eropa. Tapi bagi yang berusia sudah lanjut, apalagi bila membawa tas yang berat dan besar, kasihan juga… karena meskipun sudah membawa trolley, di depan pintu masuk tetap saja barangnya harus diturunkan dari trolley dan dibawa sendiri sampai ke bus.

Setelah semua barang diangkut ke bus, aku dan Mariska cepat-cepat memilih kursi yang terdepan di dalam bus. Saat bus bergerak, mata kami dimanjakan dengan suasana kota Roma yang antik, penuh bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur menawan. Jalan-jalan di kota Roma agak sempit dan banyak, kadangkala tampak serupa dan membingungkan. Kalau aku sendirian “dilepas” di kota ini, dijamin aku bakalan menjalani petualangan nyasar yang sukses!!Aku jadi ingat pepatah “ Banyak jalan menuju Roma” tapi begitu sampai di Roma sepertinya pepatah itu mesti diganti jadi “ Banyak jalan serupa di Roma” Halaaah…..


Bus menurunkan kami dipinggir jalan, lalu seorang wanita pirang dengan mantel berwarna abu-abu yang agak lusuh dan sepatu boot coklat membalut kakinya menyambut kami dengan ramah. Tangannya mengenggam sebuah payung merah jambu tua yang warnanya mencolok mata. Dialah pemandu wisata lokal yang akan menemani kami jalan-jalan ke Vatican. Tapi kami akan makan siang dulu di sebuah resto di dekat Vatican, setelah itu baru jalan-jalan akan dimulai. Dengan berjalan kaki kami menuju ke resto yang sudah dipesan oleh tour leader kami. Resto itu ternyata adalah Chinese Restaurant, yang menghidangkan nasi dan lauk pauknya.

Selesai makan, sang local guide membagikan semacam earphone kepada kami satu persatu. Dengan earphone itu kami bisa mendengar penjelasannya tentang sejarah Vatican dan hal-hal tentang tempat itu yang patut diketahui. Lalu rombonganpun bergerak, kami berjalan kaki lagi menyusuri jalan disisi tembok tinggi yang membatasi Vatican dengan Roma. Banyak sekali turis-turis asing lainnya dari berbagai etnis berkeliaran di sepanjang jalan.

VATICAN


Saat memasuki gerbang Vatican, kami langsung terpesona oleh bangunan-bangunan bergaya Renaissance abad 16 yang ada di dalamnya seperti Saint Pieter’s Basilica, Chapel Sistine, Vatican Museum dan lapangan St. Pieter Square. Vatican yang nama resminya State of Vatican City merupakan negara merdeka terkecil di dunia. Luas wilayahnya hanya 0,44 km2 saja dan berada di dalam wilayah kota Roma. Vatican merupakan tempat tinggal Paus, pemimpin umat Katolik. Warga Vatican hanya sekitar 890 orang yang terdiri dari rohaniawan/rohaniawati dan Swiss Guard atau sebuah unit tentara bayaran dari Swiss yang bertugas menjaga dan mengawal Paus.

Di Vatican terdapat bangunan gerbang pilar berbentuk setengah lingkaran dengan tiang-tiang yang berjumlah 284 kolom. Diseluruh bagian atasnya terdapat patung-patung orang suci (santa/ santo) yang berjumlah 140 patung dengan tinggi masing-masing 3,2 meter.


Ditengah-tengah lapangan yang disebut Saint Pieter Square atau Piazza St. Pietro ini terdapat tiang Obelisk yang tingginya 25,5 meter dengan salib dipuncaknya. Disebelah kiri dan kanan obelisk itu terdapat air mancur yang merupakan karya dari Maderno dan Carlo Fontana.

SAINT PIETER’S BASILICA: GEREJA TERBESAR UMAT KATOLIK



Aku melihat antrian panjang melingkar-lingkar menuju pintu masuk St. Pieter’s Basilica. Rombongan kamipun lalu ikut masuk juga dalam antrian panjang itu. Entah karena suasana atau memang antriannya yang tertib, aku tidak merasakan lamanya menanti giliran masuk ke dalam gereja tempat pemimpin tertinggi umat Katolik dunia itu. Di dekat pintu masuk, ada peraturan yang harus ditaati pengunjung, misalnya berpakaian sopan dan tertutup, tidak menggunakan lampu blitz saat memotret, lalu ada pemeriksaan barang-barang bawaan. Setelah melalui itu rombongan bergerak masuk ke dalam gereja.

Sesaat sebelum masuk pintu gereja, berdiri menjulang tinggi seorang Swiss Guard ganteng bukan kepalang di dekat pintu, wajah gantengnya sangat serius, tanpa senyum dan ekspresi. Dia tampak menonjol dengan seragam Swiss Guard berwarna mencolok mata ditengah kerumunan turis yang bagai merambat ingin masuk ke dalam Gereja. Sayang, saking terpesonanya aku malah tak sempat memotret si ganteng itu, padahal aku inget pesan salah seorang temanku yang minta aku memotret setiap orang ganteng yang kujumpai di Eropa untuk oleh-olehnya. Ha..ha...ha...I’m sorry friend..

Gereja St. Pieter’s Basilica adalah salah satu gereja Katolik terbesar di dunia yang dapat menampung 60.000 orang. Gereja dengan panjang 220 meter dan lebar 150 meter ini dibangun selama 120 tahun yaitu dari tahun 1506 sampai 1626 dengan Michaelangelo sebagai salah satu dari banyak arsiteknya. Dianggap sebagai salah satu situs Kristen paling suci yang memegang peranan terbesar dari seluruh gereja Katolik di dunia, gereja ini merupakan tempat pemakaman St. Petrus yang dimakamkan di bawah altar utama. Paus lainnya pun dimakamkankan di gereja ini.


Saat di dalam gereja, kami ternganga melihat keindahan interiornya, banyak patung-patung yang dibuat dengan sangat detail, salah satunya adalah “Pieta” karya Michaelangelo. Selain patung-patung, semua ornamen di dinding, jendela, dan langit-langit gereja ini sangat memukau indahnya. Sebenarnya ini pengalamanku pertama kali masuk gereja, karna aku seorang muslimah. Tapi pengamalan ini tentu sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuanku dan terutama untuk menyaksikan sendiri bagaiman arsitektur Renaissance dan Baroque yang membentuk Gereja ini sebagai bukti kemegahan peradaban manusia di abad 16.

Setelah puas melihat-lihat dan berfoto, aku dan Mariska keluar untuk menunggu peserta lain ditempat yang telah ditentukan oleh tour leader. Disisi luar gereja, kami melihat dua orang Swiss Guard berdiri dengan sikap sempurna, sementara beberapa turis berfoto diantara mereka. Kamipun cepat-cepat ikut antri menunggu giliran. Akhirnya bisa juga berfoto dengan Swiss Guard tinggi menjulang itu meskipun bukan Swiss Guard yang paling ganteng tadi.. he..he... sayang sekali para Swiss Guard itu sepertinya dilarang cengengesan atau senyum-senyum. Lihat saja tampang mereka yang jutek dan tanpa ekspresi itu...


Aku dan Mariska melangkah menuju tempat yang ditentukan untuk bertemu dengan peserta tour lainnya. Kami duduk-duduk di tangga didepan pilar-pilar dan diantara remaja-remaja bule yang banyak beristirahat disitu. Sebenarnya dibutuhkan waktu seharian untuk menjelajahi dan mengagumi bangunan-bangunan monumental di dalam wilayah Vatican ini, tapi sayangnya waktu kami tak banyak, jadwal tour yang sudah ditentukan membuat kami harus puas hanya menghabiskan waktu beberapa jam saja di Vatican ini.

COLOSSEUM

Rombongan kembali bergerak, dengan bus kami menjelajahi kota Roma menuju Colosseum. Colosseum adalah stadion atau gedung pertunjukan terbuka yang juga disebut Flavia Amphitheatre. Bangunan ini merupakan monumen yang terpenting peninggalan dari Roma kuno.


Kebanyakan arkeolog berpendapat bahwa bangunan ini didirikan antara tahun 70-82 M. Dibangun oleh kaisar Vespion yang berasal dari dinasti Flavia, dan diresmikan oleh putranya Titus. Nama Colosseum sendiri diambil dari nama patung besar Nero yaitu Colossus.

Banyak gladiator dan ribuan binatang buas telah diadu di stadion ini. Banyak darah dan kematian telah tertumpah dan disaksikan ribuan orang disini. Bahkan orang-orang Kristen pada masa perkembangan awal Roma diadu sampai mati disini. Hal ini terus terjadi sampai tahun 400M ketika kekaisaran menghapuskan kegiatan ini.

Bangunan ini sudah terlihat rusak dan hancur separuh, kebanyakan kerusakannya diakibatkan bencana gempa bumi pada pertengahan abad ke 5. Meskipun demikian, kami masih bisa menyaksikan sisa kemegahannya.


Rombongan tour hanya melakukan foto stop saja disini, karena waktu yang singkat. Kamipun tak bisa masuk ke bagian dalamnya karena antrian yang “mengular” sudah terlihat di depan pintu masuknya. Setelah mengambil foto, aku melihat-lihat sekitar bangunan kuno itu. Banyak penjual souvenir terdapat disana. Lalu ada kereta kuda yang bisa disewa untuk mengelilingi colosseum dari bagian luarnya. Satu lagi yang unik, banyak gladiator-gladiator gadungan dengan pakaian berwarna merahnya berkeliaran disana, mereka meminta bayaran 2-3 Euro bagi wisatawan yang mau berfoto bersama mereka.

Satu hal yang sangat sering diingatkan oleh tour leader kami adalah : Hati-hati copet!! Di Eropa terutama di Italy banyak copet apalagi ditempat-tempat wisatanya.

27 Juni 2011

PERJALANAN MENUJU EROPA

Tibalah hari yang aku tunggu-tunggu. Hari Selasa 5 April 2011, aku diantar suami dan anak-anak ke bandara Soekarno-Hatta. Sepanjang perjalanan tak lepas dari bersyukur dan berdoa semoga semuanya lancar. Saat tiba di bandara, sebelum turun dari mobil, aku peluk dan cium anak-anak dan suami lalu turun dengan gembira.

Aku dan peserta tour lainnya berkumpul di terminal 2D/E di dekat resto Hoka-hoka Bento jam 16.30.Disana sang tour leader sudah menunggu. Dia memperkenalkan diri, lalu sibuk mengurus bagasi peserta tour, dan membagikan pasport dan visa serta tiket boarding pass pada seluruh peserta tour yang berjumlah 37 orang. Dia memberikan penjelasan singkat dan meminta kami untuk benar-benar menjaga dokumen penting seperti visa-passport dan tiket pesawat karena kalau sampai hilang berarti bencana besar buat yang bersangkutan.

Untuk memudahkan, aku memakai tas pinggang kecil yang bisa memuat uang (mata uang yang dibawa Euro, dan Swiss Franc), dokumen penting, kartu kredit dan camera pocket. Jadi dokumen yang selama perjalanan mesti diperiksa petugas bandara dan imigrasi bisa dengan mudah dikeluarkan dan disimpan kembali tanpa harus “hilang “ dari pengawasanku. Tas itu tidak aku lepaskan selama perjalanan, mengingat aku termasuk orang yang ceroboh dan pelupa.

Setelah semua beres, kami dipimpin sang tour leader menuju gerbang ke berangkatan. Sebelumnya kami melewati pemeriksaan imigrasi. Saat pemeriksaan, dilarang membawa minuman, jadi aku yang suka membawa air mineral harus meneguk habis air itu sebelum masuk pemeriksaan imigrasi.

Kami akan berangkat menuju Roma Italy, tapi akan transit sebanyak 2 kali yaitu di Singapore dan di Istanbul-Turki.Jam keberangkatan kami dengan pesawat Turkish Airlines dengan nomor keberangkatan TK 67 adalah pukul 19.15 WIB. Pesawat yang membawa kami berjenis Air Bus A330-200. Satu hal yang aku lupa adalah aku dan Mariska tak sempat makan malam. Makan siangpun aku tak sempat karena fikiran sudahtidak fokus lagi. Akibatnya kami kelaparan. Di ruang tunggu tidak ada makanan apalagi minuman. Yah, terpaksa deh kami menahan lapar.

Tepat pukul 19.15 WIB kami berangkat. Sejak berangkat, aku dan Mariska sudah menunggu-nunggu kapan para pramugari-pramugara akan membagikan makanan. Perut sudah keroncongan. Beberapa saat kemudian seorang pramugara mendorong kereta berisi minuman dan makanan. Hatiku bersorak. Tapi, yaaaah…. Ternyata kami cuma dapat sepotong roti imut-imut kecil mungil nan mini yang sekali lewat tenggorokan maka selesailah sudah. Hiks..hiks…agak mendingan aku bisa minum teh hangat untuk memenangkan perut yang keroncongan.

Tiba di Singapore jam 21 WIB. Kami transit selama satu jam, di Bandara Changi. Rasa lapar dan haus masih merongrong. Tapi aku duduk saja dengan pasrah selama lebih kurang satu jam. Ketika kembali harus berangkat, saat aku sudah berada di tengah-tengah antrian menuju pesawat, mataku menangkap sebuah tulisan di sudut ruangan. Tulisan itu berbunyi “ Free Drinking Water” lengkap dengan keran air minum dibawah tulisan itu. Hah?? Kenapa gak dari tadi kelihatan tulisan itu? Oalaaah… aku tadi duduk membelakangi keran air itu! Yaaah…. Tidak mungkin lagi berlari untuk minum karena petugas bandara sudah meminta dokumenku dan mempersilahkan masuk pesawat. Huaaaa…. Bukan rezeki namanya…

Saat berada di dalam pesawat yang membawa ke Istanbul-Turki, mataku sudah sulit terpejam. Lapar dan haus. Untuk mengisi waktu aku memilih menonton filmdari layar TV mungil yang ada didepanku. Ada banyak pilihan film, setelah memilih-milih aku putuskan menonton “ I Think I Love my Wife”. Bukan hanya film, dari layar kecil itu masing-masing penumpang bisa memilih apakah mau mendengar musik, main game, membaca berbagai info pariwisata di Turki, atau melihat pemandangan di depan pesawat yang sedang terbang. Rupanya di bagian depan pesawat dipasangi camera yang menangkap gambar sehingga setiap penumpang bisa melihat awan, dan pemandangan dari atas. Sayangnya saat itu langit gelap, jadi tak terlihat apa-apa.

Setelah bosan nonton, sementara perutku sudah perih menjerit-jerit, aku memperhatikan sekelilingku. Para penumpang banyak yang tertidur. Termasuk juga Mariska yang terlelap disampingku. Jam di pergelangan tangan Mariska menunjukan pukul 24 WIB, ketika akhirnya aku lihat para pramugara-pramugari mendorong kereta makanan menyusuri lorong-lorong antar penumpang. Aku bangunkan Mariska. “ Bangun..bangun.. Makan!” Bisikku. Mariska kontan bangun. Ha..ha…

Saat makanan dibagikan, rasanya lega sekali. Dengan penuh rasa ingin tau, kami perhatikan menu yang disediakan. Kelihatannya masakan Turki. Makanan ini disediakan oleh Turkish Do &Co Catering Service. Menunya roti dan cake kacang, pure kentang, ikan salmon steam, salad udang, acar timun, roti+keju putih lembut. Bagaikan musafir kelaparan dan kehausan ditengah padang pasir, meskipun rasa masakannya asing di mulut, kami lahap habis semua hidangan itu. Minumanpun beberapa kali kami minta ditambah.

Setelah makan, aku dan Mariska malah tidak bisa tidur. Kami lalu mengobrol ini itu, saat obrolan sudah habis, kami mulai memperhatikan pramugara ganteng yang wara-wiri terus. “ Hayo.. coba perhatikan, mirip siapa dia itu?” kataku. “ Kayaknya familiar ya wajahnya..dagunya yang belah itu …” Kata Mariska. Kami berpandang-pandangan lalu sama-sama berseru “ Jhon Travolta!!” ha..ha… Sejak itu kami memanggil sang pramugara dengan “si Jhon”.

Entah berapa jam lamanya kami bengong saja, sampai tiba waktunya si Jhon dan kawan-kawan datang lagi dengan kereta makanannya. Aku tidak tahu ini makan pagi, makan siang, makan sore atau makan malam, karena langit diluar gelap terus. Menunya kali ini Omelet tebal, kentang steam dengan minyak zaitun, daun… apa ya? Kami menyebutnya daun khas Turki (sok tahu..), buah zaitun, potongan buah, slice beef dengan keju tebal dan salted butter, roti, selai strawberry dan butter. Heran, rasanya kami baru makan, tapi kok lapar lagi.. saking semangatnya makan, Mariska sampai membuat minyak zaitun muncrat dan mengenai Bapak yang duduk didepannya. Segera saja dia minta maaf sama si Bapak, sambil nyengir-nyengir kuda. Qiqiqqiqiqi…

Masalah rasa, entahlah… kami tak yakin apakah rasa masakannya enak, tidak enak, aneh atau asing. Ada yang terasa hambar, asin, dan aneh. Aneh. misalnya saja, buah zaitun yang diberi entah bumbu apa sehingga rasanya asin-pahit-asam. Sulit menggambarkan rasanya, kira-kira begitu. Tapi kami berubah jadi makhluk pemangsa makanan, mungkin karena terbayang kelaparan yang baru saja kami alami, sehingga habislah semuanya… masuk ke perut dengan sukses. Pokoknya dari kelaparan kami berubah jadi kekenyangan.Ha..ha..

Saat langit terlihat terang, jam ditangan Mariska menunjukan pukul 10 WIB, kami tiba di bandara Attaturk di Istanbul-Turki. Rupanya saat itu pukul 6 pagi waktu setempat. Keluar dari pesawat kami terkaget-kaget karena disambut udara dingin menusuk tulang. Terasa sekali perbedaaan suhu yang drastis, dari dalam pesawat yang berpenghangat dan suhu di luar yang dingin menusuk.

Kami dengan tertib turun dan kembali naik bus yang mengantar kami ke ruangan bandara. Di pintu menuju ruang dalam bandara terpampang tulisan “ HAGEL DINIZ” yang artinya Selamat Datang.

Acara selanjutnya adalah, kami menghabiskan waktu selama 3 jam berkeliaran di bandara Attaturk. Selain jalan-jalan di shopping arcade-nya dengan stand-stand besar dan kecil serta toko yang besar seperti DUTY FREE dan lain-lain, berfoto-ria,melihat-lihat barang-barang yang dijual disana misalnya perfume dan makanan, kami juga wara-wiri ke toilet, lalu beli minuman, dan melihat-lihat orang-orang dari berbagai suku bangsa berkeliaran disana. Salah satu stand menarik minat Mariska, yaitu: Turkish Ice Cream.Seorang anak muda dengan pakaian khas Turki lengkap dengan topinya berdiri menunggu pembeli di stand itu. Mariska lalu memesan satu scoop ice cream.




Dengan senyum ramahnya sang anak muda memberikan sebuah cone pada Mariska. Lalu dengan gaya dia mengambil sebatang besi yang berfungsi sebagai sendok pengambil ice cream. Dia menyodorkan besi dengan ice cream diujungnya ke cone ditangan Mariska. Tapi tiba2 syuuut….syuuut…. dia memutar-mutar batang besi itu,tak jadi meletakkan ice cream di cone-nya. Mariska bengong. Si anak muda kembali menyodorkan ice cream, tapi sebelum menyentuh cone, lagi-lagi dia memutar-mutar batang besi itu dengan senyum iseng… halaaah… tinggallah Mariska nyengir-nyengir sebal dengan cone kosong ditangannya. Setelah “puas”, si anak muda akhirnya benar-benar meletakkan ice cream itu di cone, dan Mariska tersenyum lebar, melenggang pergi dengan ice cream hijau-coklat-putih ditangannya. Benar-benar iseng si penjual ice cream ini, soalnya lagi sepi pembeli..ha..ha…



Pukul 9 waktu setempat, kami berangkat lagi dengan pesawat Turkish Airlines berjenis Air Bus A 320 dengan nomor penerbangan TK 1861 tujuan Roma Italy.


Di penerbangan ini kami tak sempat merasa lapar. Berbagai acara makan tak pernah kami lewati. Jadi apa yang kami lakukan adalah makan, tidur, ke toilet, nonton, mendengarkan musik, menikmati pemandangan dari jendela pesawat, dan sesekali memindahkan posisi duduk karena bokong yang terasa pegal karena duduk terus.

Menu makanan di pesawat ini banyak macamnya. Penumpang bisa memilih mana yang diinginkan, misalnya saja untuk breakfast :
Yoghurt with muesli, white cheese (yang rasanya asin-pahit), kasar cheese(keju yang teksturnya kenyal),marrinated black and green olive ( buah zaitun yang rasanya asin-asam), scrambled eggs, cheese borek/sauteed mushroom, grilled tomato and green pepper, ovenfresh bread, butterand jam.

Lalu untuk minumannya ada teh dan kopi panas. Tapi bisa juga memilih minuman lain misalnya : whisky, gin, vodka, raki, Turkish and International wines, beers, tubong/Efes Pilsen (yang ini gak mungkin kami pilih, soalnya beralkohol). Lalu ada pilihan jus misalnya orange, sourcherry, tomato dan apple. Pilihan soft drink misalnya coca cola, sprite, maden suyu, ayran, ice tea, dan mineral water.

Perjalanan ini total sekitar 16 jam sejak dari Jakarta hingga Roma termasuk transitnya. Akhirnya setelah mati gaya mencapai puncaknya, kamipun tiba dengan selamat di bandara Leonardo da Vinci atau Fiumicino di kota Roma Italy. Alhamdulillah…

28 Mei 2011

Menjemput Impian Jalan-Jalan ke Eropa (3)

PERSIAPAN PAKAIAN

Setelah visa positif dikabulkan kami makin semangat mengadakan persiapan. Kata Hasni, teman kami yang kuliah di Belanda, cuaca Eropa di bulan April itu sedang bagus-bangusnya, artinya dingin tapi tidak terlalu dingin, ada matahari tapi tidak terlalu panas. Sungguh ideal buat jalan-jalan. Mengingat kami akan jalan –jalan ke 9 negara yang berbeda-beda cuacanya, jadi dia menyarankan kami menyiapkan :

1. Sepatu yang tertutup

Sepatu harus tertutup untuk melindungi dari udara dingin. Untuk mengantisipasi cuaca dingin, terutama dingin yang dibawah 0 derajat Celcius seperti di Mount Titlis Swiss, dibutuhkan sepatu dengan alas yang tebal dan tidak licin. Perlu diperhatikan juga kenyamanan sepatu, karena acara tour ini banyak sekali jalan-jalannya, jadi kalau sepatu tidak nyaman? Wassalam…

2. Kaos kaki tebal, dan kaos kaki biasa

Kaos kaki tebal untuk dipakai di cuaca yang dingin sekali misalnya di tempat bersalju, sedangkan kaos kaki biasa bisa dipakai saat tidak terlalu dingin.

3. Long Djon ,

Long Djon yaitu sejenis baju dalam yang pas badan dan memiliki lapisan dalam dari bahan yang sifatnya hangat untuk menahan panas tubuh, terdiri dari atasan dan celana panjang Jadi saat bepergian, sebaiknya mengenakan long djon kemudian dilapis dengan baju biasa dan celana jeans. Bila cuaca masih terasa dingin bisa dilapis lagi dengan jaket.

4. Baju biasa misalnya atasan yang biasa dipakai di Indonesia

5. Sweater

6. Jaket tebal

Jaket tebal penting sekali untuk dipakai di tempat bersalju.

7. Jaket biasa

8. Celana jeans

9. Celana thermal

Celana thermal yaitu celana yang pas, dilengkapi dengan lapisan sejenis woll dibagian dalamnya untuk menahan panas tubuh.

10. Penutup kepala

Penutup kepala misalnya topi woll, atau dari bahan seperti bulu-bulu yang hangat diperlukan untuk melindungi kepala dari udara dingin terutama saat berada di tempat bersalju. Meskipun aku memakai jilbab, tapi tetap saja kalau ditempat bersalju harus juga memakai tambahan penutup kepala.

11. Sarung Tangan

Sarung tangan sebaiknya yang tebal. Bisa dari bahan woll atau dari bahan kulit yang didalamnya ada lapisan woll-nya.

12. Payung atau Jas hujan

Seringkali cuaca susah ditebak, tiba-tiba hujan, sehingga perlu juga menyiapkan jas hujan atau payung.

TAS


Selain perlengkapan pakaian, aku menyiapkan juga tas yang praktis yaitu tas pinggang untuk menyimpan camera, passport, visa, handphone,uang kecil, tiket dan barang-barang kecil lainnya.

Tas untuk menyimpan pakaian aku pilih yang besar dan beroda. Roda tas harus dalam kondisi bagus dan lancar, supaya tidak bikin repot. Pakaian dan perlengkapan lain disimpan di tas besar ini. Barang-barang seperti gunting, jarum, gunting kuku, baterai, perfume atau cairan yang lebih dari 100ml harus dimasukkan ke tas besar , karena bila kedapatan dibawa di handcarry, bisa disita oleh petugas bandara.Pada saat berangkat nanti tas besar akan dimasukkan ke bagasi pesawat. Lengkapi tas besar dengan label nama dan alamat dan juga kunci tas atau gembok kecil untuk keamanan.

Satu lagi tas yang juga penting untuk dibawa adalah tas handcarry untuk membawa perlengkapan yang bisa dibawa di kabin pesawat.Tas ini juga beroda dan berkualitas bagus. Sesuai dengan ketentuan penerbangan internasional, ukuran tas yang diperbolehkan dibawa di kabin pesawat adalah 55cmx40cmx 20cm, dan berat maksimum yang dizinkan adalah 7 kg. Didalam tas ini bisa diletakkan keperluan pribadi seperti cream-cream perawatan wajah, sikat gigi dan pasta gigi, sabun muka, tisu basah, dll tapi barang berupa cairan tidak boleh lebih dari 100 ml.

Penting juga untuk diketahui bagi orang-orang yang akan bepergian dengan penerbangan internasional mengenai peraturan membawa cairan ke dalam kabin sebagai berikut.

PERATURAN “LIQUIDS” CARRY ON LUGGAGE YANG BERLAKU DI SELURUH DUNIA

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku sejak tahun 2007, Bandara Soekarno Hatta Jakarta, seperti bandatra lainnya di seluruh dunia memberlakukan Peraturan Cairan kepada seluruh calon penumpang yaitu peraturan pembatasan bawaan berupa cairan ke dalam kabin pesawat.

PERATURAN UMUM

Calon penumpang hanya diperbolehkan membawa cairan (liquid0 atau gel maksimum 100ml per jenis. Kemudian harus dimasukkan ke dalam tas plastik transparan “RE-SEALABLE” 9dapat dibuka-tutup).

Apabila tidak memenuhi kondisi tersebut di atas, maka barang-barang milik calon penumpang akan disita saat melewati Security Check di badara tujuan.

Peraturan liquid ini meliputi semua benda berjenis cair dan gel, meliputi: air minum, aneka jenis minuman, gel pasta, lotion, kaleng mengandung aerosol. Contohnya: pasta gigi, shaving cream, gel rambut, lip gloss, lipstick, kosmetik, maskara, perfume, spray, shampo , deodorant,dll.


Perincian Peraturan Liquids di dalam tas tangan (handcarry) adalah sebagai berikut :

1. Ke dalam kabin, hanya diperbolehkan membawa cairan atau gel dalam wadah/ container yang masing-masing jenis maksimal 100 ml.

2. Masukan barang tersebut ke dalam tas plastik putih transparan.

3. Tiap orang hanya diizinkan membawa satu tas plastik tersebut.

4. Kapasitas tas plastik tersebut tidak boleh lebih dari 1 liter ( 1000ml)

5. Tas plastik transparan harus berjenis RE_SELABLE (dapat dibuka-tutup) dapat dibeli di toko buku.

6. Siapkan plastik tersebut sebelum berangkat.

7. Pisahkan tas tangan dan tas plastik pada saat Security Check di bandara tujuan.

8. Pengecualian : Makana bayi yang diperlukan selama penerbangan dan obat-obatan yang diperlukan selama penerbangan.