20 September 2009
16 September 2009
Dea dan Layang-layang

Anak-anak kecil sibuk mencoba baju lebaran. Mematut-matut diri di muka cermin dengan baju barunya, tak sabar ingin memakainya di hari lebaran. Sebagian yang lain sibuk menghitung-hitung banyaknya uang yang bakal mereka dapatkan dari tradisi “salam tempel” atau angpao di hari lebaran. Lalu sibuk berfikir akan dibelikan mainan apa uangnya nanti.
Anak-anak yang lain sudah tak sabar ingin mencicipi hidangan lebaran. Kue kastagel, putri salju, nastar, kacang mete, kue coklat, opor ayam, ketupat, dan kue-kue basah yang lezat mengundang selera.
Tapi, anakku Dea berbeda dengan yang lain. Si Tomboy ini tak peduli dengan baju baru, salam tempel, kue-kue dan segala aktivitas menjelang lebaran. Di awal Ramadan, ketika sore menjelang saat berbuka, dia telah terpesona melihat sebentuk kertas yang meliuk-liuk di udara. Kertas berbentuk belah ketupat itu dicat warna warni, melayang dan menukik, melambai-lambai mengikuti arah angin di langit. Benda itu bernama layang-layang.
Setiap sore dia menanti sang layang-layang di kejauhan menari-nari di langit. Lalu suatu sore dia berteriak, lalu berlari bagai dikejar setan, menerobos rerumputan di lapangan dekat rumah lalu menghilang di balik gundukan tanah. Tak lama, dengan baju kotor dan rambut kusut masai di berlari pulang ke rumah, membawa layang-layang putus, yang telah robek dan basah. Wajahnya terlihat gembira dan puas. Dia menunjukkan layang-layangnya pada Bapaknya. “Pak! Dea dapat layang-layang! Ayo kita main layang-layang! “ Teriaknya girang.
Sayang sekali, layang-layang yang telah sekarat itu tidak dapat dimainkan lagi. Lalu wajah Dea muram. Besok paginya, aku lihat dia sibuk dengan kertas HVS dan lidi, juga lem, spidol dan gunting. Ketika selesai, dengan bangga dia memamerkan hasil karyanya. “Mama! Dea bisa buat layang-layang! Ayo main layang-layang!” Teriaknya.
Sekali lagi, sayang seribu sayang... Layang-layang karya Dea tidak bisa diterbangkan. Kertasnya terlalu tebal dan bentuknya tak memenuhi standart layak terbang buat layang-layang. Deapun kembali muram.
Akhirnya, aku dan suamiku iba juga melihat Dea. Maka dimulailah perburuan layang-layang. Sore hari, sambil menunggu waktu berbuka tiba, Dea dan bapaknya berkeliling naik motor mencari penjual layang-layang. Mereka menyusuri pasar tradisional, dan juga mall-mall. Tapi hari itu mereka gagal. Tak ada seorangpun penjual layang-layang mereka temui di tempat-tempat itu.
Keesokan harinya, perburuan dilanjutkan. Kali ini di mall dan pasar yang lain di Bogor. Tapi kali ini juga gagal lagi. Dea cuma bisa pulang dengan wajah cemberut. Lalu di kejauhan dia melihat layang-layang putus diterbangkan angin. Seketika itu juga dia berlari kencang, tak perduli kakinya kotor karena tak sempat memakai sandalnya. Kelihatannya dia masih juga kurang beruntung, layang-layang itu memang bisa diambilnya, tapi lagi-lagi sudah robek.
Suatu sore dia pulang dengan membawa layang-layang putus di tangannya. Layang-layang itu masih bagus, tidak sobek. Semangatnya kembali membara, dia sibuk mencari-cari benang di lemari dan laci-laci. Lalu dengan semangat dia menyambungkan layang-layang itu dengan benang. Weleh...weleh... Deaku sayang, Deaku malang, tentu saja dia gagal menerbangkan layang-layang itu karena benangnya putus melulu. Dia tak tahu kalau menerbangkan layang-layang harus dengan benang khusus, bukan benang untuk menjahit baju!
Suatu sore, suamiku ingin membeli kue-kue kecil untuk buka puasa sambil ngabuburit menunggu waktu buka puasa. Dengan motor dan Dea yang nangkring dijok belakang dia berkeliling. Kali ini masuk ke perkampungan padat penduduk di kelurahan Mulya Harja. Ketika menyusuri jalan disepanjang rel kereta api, di sebuah gubuk kayu yang kumuh, ada pemandangan yang sangat menarik yang membuat Dea terlonjak girang. Di teras gubuk itu ada bale-bale kayu, yang diatasnya terjejer beraneka warna layang-layang dari kertas roti. Segera saja mereka mampir di gubuk itu dan memborong 10 layang-layang impian Dea.
Kali ini aku melihat senyum puas di wajah Dea. Tak bosan-bosan dipandanginya ke 10 layang-layang itu. Tapi lagi-lagi Dea masih belum bisa memainkan layang-layang itu, karena belum ada benangnya.
Keesokan harinya, suamiku pulang ke rumah sambil membawa satu gulungan benang layang-layang. Tak terperikan betapa gembiranya Dea. Setelah berhari-hari berharap, akhirnya hari itu dia bisa benar-benar mewujudkan keinginannya. Ketika layang-layangnya telah menari-nari di langit sore, dia berteriak girang, tertawa-tawa dan berjingkrak-jingkrak tak mampu menahan kegembiraannya yang membuncah.
Empat hari menjelang Ramadan, Dea kembali muram. Aku heran, apalagi yang difikirkan si tomboy-ku ini. “ Dea, kenapa,Nak?” Tanyaku. “ Dea pengen ngajak Bapak jalan-jalan lagi, cari kacamata.” Katanya. Aku heran, kok kacamata? Apa Dea sudah bosan dengan layang-layangnya? Demikian fikirku. “ Buat apa kacamata?” Tanyaku lagi. “ Ya, buat dipakai dong! Dea perlu kacamata hitam, untuk dipakai waktu main layang-layang supaya gak silau kena sinar matahari!” Teriaknya.
Oalaaah.... Dea..Dea...
22 August 2009
Tradisi Makan Bersama “Cucurag”
Senang juga aku sudah dapet banyak teman-teman baru di Bogor. Mereka adalah Ibu-ibu yang anaknya satu sekolah dengan Rafif di TK Islam ibnu Hajar.
Rata-rata mereka ramah, seperti layaknya orang Sunda. Meski ada juga beberapa orang yang kurang bersahabat. Tapi biasalah, bagiku dimana-mana sama saja, seperti juga di Palembang, ada yang baik, ada yang kurang baik. Yang penting aku sudah mulai menikmati bergaul dan berteman, karena banyak hal bisa didapatkan dari teman. Bisa berbagi informasi, curhat dan juga saling membantu.
Tanggal 18 Agustus yang lalu, untuk menambah kuatnya tali silaturahmi antar orang tua murid, sekalian juga untuk merayakan hari merdeka dan datangnya bulan Ramadhan, orang tua murid TK Ibnu Hajar mengadakan tradisi “Cucurag” atau makan bersama. Uniknya acara ini adalah “berbagi dalam kebersamaan”. Jadi setiap orang diharapkan membawa nasi atau makanan pokok untuk dirinya sendiri, dan juga membawa lauk dalam jumlah lebih banyak untuk di bagi kepada teman-teman.
Sehari sebelumnya aku sudah memikirkan akan membawa lauk apa. Beberapa ibu menyarankan aku membawa masakan khas Palembang. Tapi aku ragu, karena tidak semua orang bisa menerima masakan Palembang seperti Tempoyak atau brengkes. Ketika aku jelaskan apa itu tempoyak ( durian yang difermentasi sehingga rasanya asam, dan biasanya dicampurkan ke sambal atau dipakai sebagai salah satu bumbu pepesan), aku bisa melihat ekspresi keheranan dari wajah mereka. “Rasanya bagaimana?” tanya mereka. Aku cuma tertawa. Masalah rasa itu subjektif. Tentu saja rasanya lezat menurut mereka yang suka, tapi bisa jadi rasanya aneh buat yang tidak terbiasa memakannya.
Aku memutuskan masak makanan yang bisa dimakan siapapun juga.Akhirnya jadilah aku membawa orak-arik teri kacang dan tempe.
Hari itu cukup meriah. Ibu-ibu sejak pagi sudah sibuk memperbincangkan menu yang mereka bawa. Ada yang saling intip bawaan masing-masing. Ada yang sibuk menanyakan resep masakan, ada pula yang sibuk bertanya-tanya mau beli lauk dimana, karena tak sempat masak.
Jam 10, Ibu-ibu semua berkumpul di halaman dalam sekolah. Ada 3 saung atau gazebo, tapi hanya 2 yang bisa dipakai karena sudah dilapisi dengan karpet. Aku dan beberapa ibu-ibu langsung mengambil tempat di salah satu saung dan mulai menggelar makanan. Beberapa ibu duduk disaung yang lain, dan selebihnya menggelar tikar.
Melihat masakan yang di bawa, terlihat beraneka ragam dan sungguh mengundang selera. Ada yang bawa tumis cumi asin dan cabai, sayur asem, orak arik oncom, pepes tahu, mie schotel, semur jengkol, sambel, lalapan, tempe goreng, dan lain-lain. Sebenarnya tidak terlalu istimewa, tetapi karena makannya di tempat yang sejuk dan terbuka dan juga dilakukan beramai-ramai jadi terasa lebih asyik dan nikmat.
Aku senang melihat teman-teman makan dengan lahapnya, sambil bercanda dan bercerita. Riuh rendah suara tawa dan desis kepedasan dari mulut mereka terasa menambah seru acara ini. Kalau saja aku tidak sedang diet, pasti aku makan lebih banyak lagi, seperti salah satu ibu yang sedang hamil. Melihat dia makan rasanya nikmaaat sekali.
Aku tertawa geli, waktu aku bertanya pada salah seorang ibu apa resepnya membuat orak-arik oncom yang sedap itu, si ibu cuma cengengesan. Akhirnya setelah beberapa saat, dia mengaku kalau itu bukan masakannya, tapi masakan mertuanya. Yaaah.... gak jadi dapet resepnya dong..
Hari itu aku dapat pengalaman baru, yang unik dan mengasyikkan. Selain nikmat, acara ini membuat keakraban dan persaudaraan lebih terjalin.
17 August 2009
Aktivitas Pagi di Club House
Pagi yang cerah di hari ulang tahun kemerdekaan. Anin, Dea dan Rafif semangat ingin berenang, lalu aku menunggui mereka di club house.
Duduk di dekat kolam renang di bagian yang terlindung dari sinar matahari, aku asyik memprehatikan tingkal polah orang-orang yang hadir disini.
Sekelompok anak-anak dan pengasuhnya asyik bermain di kolam anak. Tapi tidak cuma anak-anak, orang dewasapun cukup ramai berenang di kolam yang besar.
Hari ini, seperti saat-saat sebelumnya kalau hari libur, club house cukup ramai dikunjungi warga cluster Tirta Nirwana, ataupun dari cluster lain dilingkungan Bogor Nirwana Residence. Mereka terdiri dari berbagai etnis seperti Melayu, Jawa, Tionghoa, Sunda, India, dan Arab.
Duduk di sofa rotan di sebelahku, seorang ibu menggendong bayinya. Dia tersenyum bahagia melihat suami dan dua anaknya yang lain bercanda dan tertawa gembira di kolam anak.
Di kolam besar, seorang nenek sedang berenang melintasi kolam, melakukan aktivitas berenang rutinnya, 30 kali bolak-balik sepanjang kolam. Nenek ini hebat sekali, setiap kali kami ke tempat ini, dia sudah ada lebih dulu.
Seorang wanita cantik dan langsing berjalan hilir mudik sepanjang areal kolam dengan camera fotonya. Beberapa kali dia memotret anak-anak yang tertawa-tawa di kolam anak, lalu mengarahkan lensanya ke tempat lain. Tampaknya disini dia menemukan banyak objek foto yang menarik.
Sekelompok wanita tua dan muda riuh bercanda dan bercerita sambil membasuh tubuh mereka di bawah pancuran air di tepi kolam. Sementara tak jauh dari situ, di bawah rindangnya pohon-pohon di tepi sungai buatan, seorang bapak sedang melakukan geraka-gerakan senam, menggerakkan tangannya ke depan dan ke belakang dengan penuh semangat.
Anak-anakku asyik berendam di kolam anak sambil main bola. Aku geli melihat Rafif yang ternyata sudah dapat teman. Dia tertawa dan ngobrol dengan dua orang bapak sambil duduk di pinggir kolam. Si bungsu itu memang gampang sekali berteman. Dia berani dan ramah.
Seorang babby sitter tampak sedang menyuapi seorang balita di areal play ground. Tapi sayangnya si kecil dengan rok merahnya itu sama sekali tak tertarik dengan makanannya. Baginya slider dan ayunan itu lebih membangkitkan minatnya. Meskipun sang baby sitter sudah merayunya berkali-kali, tapi si kecil tetap menutup mulutnya rapat-rapat sambil bolak-balik naik tangga dan kemudian meluncur di slider.
Tak lama kemudian terdengar jeritan seorang anak. Si kecil itu menangis di gendongan ibunya karena tak mau berhenti berenang, sementara sang ibu sudah tak sabar menunggui. Dia menangis meronta-ronta ketika sang ibu mengganti baju renangnya dengan baju kaos. Tapi kemudian tangisnya perlahan terhenti ketika sang ayah merengkuhnya dalam pelukannya yang kokoh. Si kecil itu lalu tertidur dalam pelukan hangat ayahnya. Hatiku ikut-ikutan hangat menyaksikan kejadian kecil itu.
Hari ini kutemui bahwa duduk-duduk dan memperhatikan orang-orang disekelilingku ternyata bisa juga menjadi kegiatan yang menarik.
05 July 2009
Wedding Aniversary: Makan Malam di Cibubur
Tak terasa, tanggal 28 Juni 2009 yang lalu aku dan suami sudah menikah selama 11 tahun. Cepat sekali waktu berlalu, begitu banyak hal yang patut disyukuri, nikmat rezeki, kesehatan, anak-anak yang lucu, dan kebersamaan yang indah, sungguh membahagiakan.
Kali ini, kami yang masih sibuk karena baru saja pindahan ke Bogor, tetap ingin melakukan sesuatu untuk membuat ulang tahun perkawinan ini meninggalkan kesan. Rencananya, ingin makan bersama anak-anak dan pembantu di tempat yang nyaman. Suami mengusulkan tempat makan di Cibubur yang katanya nyaman, di pinggir danau. “Idealnya makan disana siang hari atau sore, sehingga bisa kelihatan danaunya.” Begitu kata suamiku.
Rencana yang sudah tersusun, terpaksa ditunda beberapa kali karena lemari yang dipesan untuk rumah baru kami harus di cat ulang oleh sang tukang kayu. Kami terpaksa tidak bisa meninggalkan rumah karena si tukang mengecat ulang di rumah kami. Akhirnya, hanya tersisa waktu malam tanggal 28 Juni. Apa boleh buat, daripada tidak jadi, maka kami pergi juga.
Selesai shalat maghrib, kami berangkat. Aku, suamiku, Anin, Dea, Rafif, si mbak Susan, dan Bude Sum, semua ikut. Perjalanan dari Bogor ke Cibubur lewat tol yang biasanya cuma 30 menit, ternyata molor sampe 1,5 jam! Maceeet!! Entah apa yang terjadi, di jalan tol itu macetnya minta ampun. Antrian panjang kendaraan didepan kami berlanjut sampai akhirnya kami keluar di Cibubur. Jam sudah menunjukan pukul 20.30 ketika kami sampai di rumah makan yang dimaksud.
Taman Laut Seafood Restaurant. Begitulah nama tempatnya. Begitu kami tiba, langsung disambut oleh pelayan dan disiapkan tempat. Fiuh... untung gak datang lebih lambat, kalo terlambat sedikit saja terpaksa kami harus mengantri. Semua tempat sudah terisi, full! Seperti yang sudah dikatakan suamiku, danau buatan yang terletak di sebelah restaurant itu tak terlihat cantiknya karena malam sudah gelap.
Menanti Mr. Crab
Kami langsung memesan makanan. Kepiting saus padang, tumis kangkung, kepiting goreng dan sapo tahu. Si mbak berdua itu kebingungan menetukan pilihan menu, akhirnya setelah lama berfikir, mereka serempak bilang,” Gado-gado aja deh!” weleh...weleh... perjalanan macet 1,5 jam menahan lapar, ke restaurant seafood kok malah pesan gado-gado. Akhirnya, selain gado-gado mereka mau juga mencoba makan kepitingnya.
Ketiga anakku terlihat malas-malasan. Cuma Anin yang semangat makan kepiting yang dijulukinya Mr. Crab, kayak tokoh di film Sponge Bob Square-pants. Rafif yang mengantuk sama sekali tak mau makan. Dea juga hanya makan yogurt.
Masakan disini enak. Kepiting saus padang pas bumbunya. Sebenarnya yang hobi makan kepiting itu suamiku, aku tidak terlalu suka, karena repot mengupas kulit kepiting yang keras. Kata suamiku, justru di situ seninya, repot, belepotan, tapi enaaak.
Setelah acara makan selesai, kami kembali ke Bogor. Jalan di tol berbeda 180 derajat dari pada saat kami menuju Cibubur. Lengang dan lancaaar. Kami melihat antrian panjang kendaraan macet masih berlangsung di arah yang berlawanan. Dan benar saja, dari Cibubur sampai di Bogor cuma 30 menit saja!
30 June 2009
Mengenang Sahabatku, Hendro Darsono
Hendro Darsono adalah salah satu temanku dari SMA3 Palembang yang cerdas dan tekun. Meskipun cuma sempat 1 tahun sekelas dengan dia, di kelas 1, tapi aku mengenalnya sebagai anak yang baik, pendiam, cerdas dan berprestasi. Tidak banyak yang aku ketahui tentang dia, karena dia sangat tertutup. Ada beberapa teman wanita yang menaruh hati pada Hendro, tapi kelihatannya Hendro tak menanggapi. Tak pernah aku melihat letupan emosi dari Hendro, dia selalu tampak tenang dan kalem.
Waktu itu, dia tidak pernah ikut pelajaran praktek olahraga. Aku yang tidak tau kondisinya, sempat juga “iri” karena disaat kami semua harus lari keliling lapangan, berpanas-panas, capek dan berkeringat,dia cuma duduk saja di kelas.Dari teman-teman yang lain aku cuma tau bahwa dia kurang sehat, ada masalah dengan tulangnya sehingga dia tidak boleh melakukan aktivitas yang berat.
Pada saat kami duduk di kelas 3, aku dan Hendro di utus sekolah untuk ikut pemilihan murid teladan tingkat SMA. Jujur saja, saat itu aku merasa tak pantas, berbeda dengan Hendro yang menurutku memang cocok jadi murid teladan. Tapi karena desakan guruku waktu itu, akhirnya aku bersedia. Aku masih ngat bagaimana kami bersama-sama datang ke tempat test dan wawancara di sekolah lain. Dia kelihatan sehat dan siap, meskipun akhirnya kami berdua gagal menjadi siswa teladan, tapi aku tahu Hendro memperoleh nilai yang cukup tinggi sebagai kandidat siwa teladan.
Setelah tamat SMA, aku tahu Hendro diterima tanpa test di Universitas Sriwijaya, fakultas Ekonomi. Tapi kemudian dia mengundurkan diri, karena tubuhnya tak kuat bila harus menjalani masa perkuliahan yang melelahkan.
Bertahun-tahun kemudian, aku dapat kabar lagi bahwa dia ternyata sudah menyelesaikan pendidikan S1 Ekonomi lewat jalur Universitas Terbuka.
Akhir tahun 2007, aku dapat kabar bahwa Hendro sudah menerbitkan beberapa buku. Aku langsung tertarik untuk menghubungi Hendro, karena ingin menimba ilmu dari dia. Maka setelah dapat nomor ponselnya, aku coba hubungi dia.
Suara di seberang sana masih seperti dulu, tenang, hati-hati dan terkontrol. Dia masih Hendro yang dulu. Dia cerita bahwa meskipun dia hanya di rumah saja, tapi banyak sekali kegiatan yang dilakukannya. Dia mengajar anak-anak SMP, SMA, bahkan tamatan S1 dan S2 juga banyak yang belajar darinya. Hendro yang cerdas dan tekun, itulah dia. Selain itu dia bertanya tentang kegiatanku. Dengan malu-malu aku bilang bahwa aku ibu rumah tangga. “Wah, gak kreatif dong. Mau gak aku ajari bikin blog? Bisa buat cari dollar lho... cocok buat ibu rumah tangga sepertimu, gak perlu meninggalkan rumah, tapi bisa juga menghasilkan uang.” Begitu katanya. Lalu dia menjelaskan bagaimana blog bisa dipakai buat mengais dollar. “ Dewi kan sudah bisa bahasa Inggris, dan bisa menulis. Artinya sudah ada modalnya, kalo mau datang saja ke rumahku.”
Hari selanjutnya aku bertemu Prima Maya Sari, sahabatku di SMA. Ketika aku ceritakan tawaran Hendro itu, Prima langsung semangat, dia juga mengajak Indrawati, teman kami juga untuk ikut bergabung belajar bersama Hendro.
Di awal tahun 2008, Aku, Prima dan Indrawati rajin menyambangi rumah Hendro. Ada 10 kali pertemuan untuk belajar berbagai hal tentang internet dan terutama blog. Setiap petunjuknya aku ikuti sampai aku bisa membuat blog dan bahkan bisa juga mengikuti jejaknya mengais dollar, meskipun belum sebanyak yang dihasilkannya tapi aku sudah membuktikan bahwa hal ini bisa aku lakukan.
Aku sering juga berkomunikasi lewat telepon, e-mail dan sms, menanyakan berbagai hal. Dia juga sering mengirimiku tips-tips tentang blog dan menjaring job dan juga software yang mendukung blog.
Hingga suatu hari, setelah beberapa lama tidak ada kabarnya, dia mengirimi aku sms. “ I’m somewhere, waiting for a miracle..” begitu bunyi sms-nya. Aku langsung merasa tak enak, aku langsung mencoba menghubungi ponselnya, tapi tak ada jawaban. Berkali-kali tak diangkatnya. Akhirnya aku kesal juga. Aku kirimi dia sms bernada marah. Barulah dia jawab, bahwa dia dalam kesulitan besar. Tak lama kemudian, ponselku berdering, dari Hendro. “ Hallo, ...” lalu diam. Aku segera merasakan gelombang kesedihan yang dahsyat di seberang sana. Terbata-bata dia bercerita bahwa dia baru saja menjalani operasi besar yang menghabiskan tabungannya, dengan harapan setelah ini dia akan bisa berjalan lagi, tapi... hasilnya malah sangat menyakitkan dan dia saat ini lumpuh total, dari pinggang ke bawah, dia tak dapat merasakan sentuhan, dan tak dapat mengontrol buang air besar maupun kecil. Dunia bagaikan runtuh bagi Hendro.. Air mataku mengalir, tapi aku tak ingin dia tau aku menangis. Aku berusaha menguatkannya, memberikan harapan bahwa Tuhan bisa menyembuhkan semua penyakit. Aku ingatkan dia agar tak berhenti berusaha mencari jalan kesembuhan.
Keesokan harinya aku datangi dia di rumah sakit. Dia terbaring, pucat, sedih dan lesu. Tak banyak yan dibicarakannya, aku ajak ibunya keluar ruangan dan kami bertangis-tangisan. Ya Allah... betapa berat cobaan hidup Hendro Darsono.
Hari-hari berlalu, dukungan dan bantuan teman-teman mengalir. Ada yang memberikan dana ada juga yang memberikan obat alternatif dan supplemen kesehatan. Beberapa kali aku main ke rumahnya,emosinya up and down. Terkadang dia terlihat bersemangat dan ingin terus menjalani theraphy, tapi kadangkala dia terlihat lesu dan banyak diam.
Pada kesempatan aku dan suami berangkat menunaikan ibadah haji di akhir tahun 2008, aku berdoa buat kesembuhannya, di depan Ka’bah, juga di tempat-tempat lain di tanah suci. Aku mohon kesembuhan dan secercah kebahagiaan buat sahabatku Hendro.
Sehari menjelang kepindahanku ke Bogor, aku sempatkan mengunjungi dia, dan memberi sovenir untuk kenang-kenangan. Aku yang di temani Prima, dan seorang teman SD-ku bisa melihat dengan jelas betapa pucat dan lesunya sahabatku itu. Dia bilang sudah dua minggu tidak aktif mengurus blog-blognya. Lalu dia banyak diam. Aku dan Prima hanya ngobrol dengan ibunda Hendro yang menjelaskan bahwa Hendro demam lagi. Hanya sebentar aku bertemu dengannya, karena masih banyak hal lain yang harus aku urus untuk kepindahan ke Bogor. Itulah saat terakhir aku bertemu Hendro.
Pagi ini, 30 Juni 2009, ponselku berdering. Nama Hendro Darsono terlihat dilayar ponselku. Aku sempat senang, karena mengira dia yang menelepon, ternyata suara isak ibundanya yang mengabarkan Hendro Darsono sudah berpulang ke Rahmatullah. Tak dapat kutahan derai air mataku, sempat terbersit kenapa Tuhan tak mengabulkan doaku dan memberi kesembuhan bagi Hendro... Tapi aku tersadar bahwa Tuhan tau apa yang terbaik buat hambaNya. Selamat jalan, sahabatku. Semoga ilmu yang telah kau ajarkan pada aku dan murid-muridmu yang lain akan menjadi amal jariah dan pahala yang tak terputus buatmu. Semoga Allah Swt mengampuni dosamu dan memberimu tempat yang lapang di surga. Amiin....
10 June 2009
Membahagiakan Anak? Cuma Rp. 2000,-!
Aku sebenarnya agak khawatir, takut odong-odongnya patah, tak sanggup menahan beban berat tubuh si bungsuku itu yang sudah mencapai 28 kg. Lalu, mulailah sang bapak mengayuh odong-odongnya. Kasihan juga melihat bapak itu harus mengayuh lebih kuat, karena bobot Rafif yang berat. Tapi lihatlah keceriaan anakku itu, dia ikut bersenandung riang mengikuti lagu yang diputar seiring kayuhan odong-odong.

Selesai satu lagu, Rafif masih tak mau turun, maka si Bapak sekali lagi mengayuh odong-odongnya sampai selesai satu lagu lagi. Rafif tertawa gembira, dia turun dari odong-odong dengan puas. “Berapa, Pak?” tanyaku pada si Bapak. “ Rp. 2000,- bu.” Katanya sambil mengelap peluh di jidatnya. Kasihan juga bapak itu, lalu aku bayar dengan memberi lebih dari yang diminta.

Kalau difikir, sungguh sederhana cara membuat anakku gembira, cukup Rp. 2000,- aku sudah bisa melihat luapan kegembiraannya. Pancaran kegembiraan yang ikut juga menghangatkan hatiku. Terimakasih Pak tukang odong-odong.....
02 June 2009
Would You Be a Good Wife or Husband?
| I Would Be a Good Spouse 70% of the Time |
I'm caring, patient, giving, and romantic. I'm willing to work for a marriage. More than anything, I'm not about to let your ego ruin a relationship. I'm humble and unselfish. And that's the key to being a good spouse. Click here to know whether You Be a Good Wife or Husband |
31 May 2009
Salah Satu Resep Memperolah Ketenangan Jiwa
Emosi dan perasaan manusia tiap kali berubah, seiring dengan permasalahan dan kejadian yang dihadapinya. Ada kalanya hati terasa gamang, gelisah dan membutuhkan ketenangan. Apa yang aku alami ini ingin aku ungkapkan, karena ternyata tidaklah sulit mengembalikan kondisi emosi yang demikian itu, hanya dengan tindakan sederhana, ketenangan jiwa bisa kembali di dapat.
Suatu hari ketika akan menjemput anakku pulang sekolah, aku merasa gelisah. Entah kenapa, rasanya sangat tak nyaman. Aku lihat jam di Hp-ku, masih menyisakan waktu sekitar 45 menit lagi sebelum sekolah anakku usai. Aku berfikir, mau kemana selama 45 menit ini. Beberapa ide muncul, misalnya makan di kantin, atau menelepon teman dan ngobrol sambil menunggu anakku, atau main ke rumah teman yang ada di dekat sekolah, atau... apa ya.. Sambil berfikir, aku memutar mobil dan memperlambat lajunya. Saat itu aku lewat di dekat masjid. Masjid itu namanya Al Aqobah I, terletak di kompleks Pusri dekat sekolah anakku. Maka terlintaslah keinginan untuk masuk ke dalamnya, dan merasakan ketenangan di dalamnya. Akupun memarkir mobil dan turun.

Ketika memasuki halaman masjid, aku mulai merasakan keteduhannya. Begitu masuk ke dalamnya, hawa sejuk dari AC di masjid itu makin menambah rasa nyaman. Maka aku langsung menuju ke tempat wudhu. Meskipun belum saatnya shalat zuhur, tapi masih ada waktu untuk melakukan shalat Duha.
Mungkin karena suasana masjid yang hening dan tenang, aku merasakan nikmat dan syahdunya melaksanakan shalat Duha. Selesai shalat, aku duduk dan diam merasakan ketenangan dan suasana tentram.Keadaan itu menuntunku untuk menundukkan kepala, dan berdoa. Berdoa, atau curhat pada Tuhan, entahlah apa namanya, yang jelas aku menyerahkan seluruh jiwa dan perasaanku pada Penciptaku. Aku menarik nafas dalam-dalam, seolah menghirup hawa ketenangan yang mengisi masjid cantik itu, segera saja rasa nyaman yang menentramkan jiwa merambati hatiku, mengusir gundahku.Sungguh nikmat...

Setelah puas mengeluarkan segala kegundahan, kekhawatiran dan resahku padaNya, aku bangkit untuk shalat lagi. Sungguh berbeda nikmatnya shalat di masjid dibandingkan di rumah. Karena di masjid yang hening ini, nuansa ketentraman lebih terasa. Kalau shalat di rumah seringkali banyak gangguan, terutama dari anak-anakku yang kadang suka berisik, menangis dan bercanda.
Sampai tiba saatnya shalat Dzuhur, akupun ikut shalat berjamaah. Tetapi setelah shalat Dzuhur, aku harus cepat-cepat ke sekolah anakku, supaya tidak telat menjemputnya. Ketika keluar dari masjid, terasa ada energi baru yang memberiku kekuatan. Oh, ternyata sederhana saja, kegundahan bisa hilang sirna hanya dengan dengan cara yang amat sederhana : berserah kepadaNYa dalam suasana yang tentram, hening dan syahdu di sebuah masjid.
22 May 2009
Soto Ambengan

Tempat makan ini lumayan nyaman. Pengunjung bisa memilih untuk duduk di dalam atau duduk di terasnya. Tersedia hot spot disini, sehingga bisa makan sambil browsing internet. Sotonya disajikan di wadah yang unik, dengan api kecil yang menyala di bagian bawah wadah, sehingga sotonya selalu panas. Tapi pelayan akan membantu memadamkan api di wadah soto itu bila pelanggan menginginkannya.

Ada satu lagi keunikan disini, yaitu sebelum dinikmati, soto bisa ditaburi dengan bumbu yang tersedia di meja, sehingga rasa soto akan semakin gurih. Aku tidak tahu pasti, sebenarnya bumbu itu terbuat dari apa, kelihatannya seperti bawang goreng yang di tumbuk halus dan di campur sejenis kerupuk, hingga rasa bumbu taburan itu unik dan gurih. Rasa sotonya lumayan enak. Apalagi bila dimakan pada saat lapar. Kuahnya ditiup, lalu dihirup, slurp...slurp..Hmmm... nyam..nyammm













