17 November 2014

Yatim Mandiri, Wadah Amal Tepat Sasaran

Siang itu matahari  begitu garang, seolah mengerahkan   kekuatan penuh yang dimilikinya untuk menyengat bumi . Aku menghela nafas tak sabar, memandang antrian mobil yang menyemut di lampu merah. Kuinjak pedal rem dan kuhentikan mobil menanti  antrian panjang itu bergerak. Rasanya lama,  lampu hijau tak kunjung menyala.

 Seorang wanita muda berpakaian lusuh menggendong bayi berdiri di pinggir jalan. Dia menyeret kaki yang beralas sendal jepit butut, beringsut mendekat. Tangan kirinya sibuk membetulkan letak kain panjang yang  tersampir dipundaknya, menutupi leher hingga  dada. Tangan kanannya menengadah, meminta sedekah. Dia menunggu di jendela mobil kala melihat aku sibuk mengaduk-aduk tas mencari uang. Saat aku temukan selembar duapuluh ribuan, kubuka jendela mobil dan mengulurkan uang itu padanya. Bayi dalam gendongannya tiba-tiba bergerak menarik kain panjang yang tersampir dipundak. Kain itu terlepas, tampaklah leher wanita itu. Aku terkejut. Dia pun terkejut, tapi secepat kilat ia menyambar uang ditanganku. Tanpa bicara apa-apa dia membalikkan badan dan setengah berlari  menjauh dan menghilang dibalik antrian kendaraan.

Beberapa saat aku  tertegun. Masih terbayang leher wanita itu. Lehernya berwarna gelap  sama seperti kulit kusam di wajah dan tubuhnya. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut, melainkan sebentuk kalung emas berukuran lumayan besar melilit leher, berkilau kontras dengan warna kulitnya.
Aku merasa aneh. Apalagi membayangkan sikap wanita itu yang cepat-cepat kabur setelah mengambil uang dari tanganku. Aku ikhas memberi sedekah, hanya saja aku jadi bertanya-tanya sendiri apakah sedekah itu sudah ku alamatkan pada orang yang tepat? Ataukah ada orang lain yang lebih tepat menerima sedekah dibanding wanita itu?

Perkara ini sempat membuatku menimbang-nimbang lagi tentang keikhlasan. Salahkah bila aku jadi ragu memberi kepada pengemis? Apakah aku malah mendidik mereka menjadi manusia yang malas bekerja? Apakah aku seharusnya menyalurkan sedekah hanya  kepada orang tak mampu yang membutuhkan bantuan? Tapi bagaimana aku bisa tahu siapa yang tak mampu dan pantas dibantu?

Kenyataannya sulit mengetahui ukuran “mampu” dan “tak mampu” dengan mengandalkan pandangan mata. Contohnya si Ibu pengemis itu. Sekilas dia tampak tak mampu, dengan baju lusuhnya, sendal jepit butut, wajah memelas dan tangan yang menengadah. Tapi kalung emas yang melilit lehernya menegaskan hal sebaliknya.

Lalu bagaimana caranya menyalurkan sedekah, zakat dan infaq tepat pada orang yang membutuhkan, sehingga tak perlu menimbulkan rasa “bersalah”?

Teringat sebuah hadits dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.

Seingatku, makna hadits ini menyebutkan bahwa orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan tinggi di surga dekat dengan Rasulullah. Yang dimaksud anak yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia dewasa.

Lalu apakah aku harus melakukan survey sendiri, mencari anak-anak yatim untuk disantuni? Tidak juga. Selalu ada solusi efisien dan praktis untuk melakukan kebaikan di zaman modern sekarang ini.
Aku mengenal sebuah yayasan non profit yang merupakan lembaga sosial masyarakat dari salah seorang sahabat. Yayasan ini menyantuni anak yatim  dengan cara menghimpun dan mengelola dana zakat, infaq, sadakoh, qurban dan wakaf dari perorangan, kelompok, perusahaan, dan badan lainnya. Banyak sekali yayasan sejenis  berkembang di Indonesia akhir-akhir ini , tapi ada satu hal istimewa yang membuatnya berbeda dari yayasan lain.

Yayasan yang bernama “ Yatim Mandiri” menitik beratkan pada program kemandirian anak yatim sebagai program unggulannya. Jadi anak-anak yatim tidak hanya diberi makanan, pakaian dan kebutuhan primer, tapi lebih dari itu. Mereka dibekali kemampuan  sebagai bekal hidup agar bisa “berdiri di kaki sendiri”  menjadi manusia yang produktif dan bermanfaat.

Yayasan Yatim Mandiri berdiri pada tahun 1994, pada tahun 2008 telah dikuatkan dengan akta notaris  Maya Ekasari Budiningsih, SH dan makin  kuat eksistensinya sebagai lembaga zakat dengan pengesahan dari DEPHUMHAM RI dengan nomer AHU-2413.AH.01.02.2008. dan mempunyai NPWP nomer : 02.840.224.6.609.000.
Pelatihan ESQ bagi anak-anak yatim yang diselenggarakan oleh Yayasan Yatim Mandiri

Anak-anak yatim mengikuti test masuk Mandiri Enterpreneur Center (MEC)

Anak-anak yatim yang berprestasi

Yayasan Yatim Mandiri mengembangkan Lembaga Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT) yang khusus ditujukan untuk anak-anak yatim purna asuh  yang telah lulus SMU tanpa biaya alias gratis. PUSDIKLAT yatim ini dinamai Mandiri Enterpreneur Center (MEC) dengan visi dan misi membentuk anak-anak berjiwa enterpreneur yang kelak  menjadi pengusaha handal. Yayasan Yatim Mandiri juga memiliki ruang usaha bernama Mitra Mandiri sebagai wadah untuk aplikasi bisnis anak-anak yatim dari berbagai kota di Indonesia yang menjadi binaan.

Bayangkan bila zakat, infaq, sedekah, dan wakaf yang diberikan kepada orang yang membutuhkan bagai benih ditanam berkembang menjadi investasi akhirat yang” panjang “ pahala dan manfaatnya. Bayangkan dengan sedekah yang diberikan kepada anak-anak yatim bisa membantu mereka mendapatkan keahlian, hingga mereka mampu mandiri, menopang hidupnya sendiri bahkan hidup orang lain, dan menjadi manusia-manusia berdaya guna yang menebar manfaat bagi sesama manusia. Beramal pada tempat yang tepat seperti ini tentulah lebih bermanfaat dibanding amal yang salah alamat.

Lebih jauh tentang yayasan  ini bisa dilihat di link Yatim Mandiri.




07 November 2014

Hernia Nucleus Pulposus, Sebuah Warna Kehidupan


Jatuh

Selepas shalat Isya Minggu malam 26 Oktober 2014, aku berdiri menatap Rafif melalui pintu kamar mandi lantai atas yang terbuka. Si bungsu  yang  berusia 9 tahun itu asyik main air padahal seharusnya dia mandi. Tampaknya tak bisa dibiarkan, aku harus  turun tangan memandikannya. Kalau tidak, anak lelaki itu takkan berhenti menghambur-hamburkan air sepanjang malam.

“Neng, Akang pergi dulu sebentar. Mau beli pulsa tol untuk ke kantor besok pagi.” Terdengar suara suamiku, si Akang dari lantai bawah.

“Iya. Hati-hati, Kang!” Teriakku.

Perhatianku kembali terfokus pada Rafif. Sekarang dia asyik bermain busa shampo. Dengan jari-jari dia membentuk “balon” busa, lalu meniupnya hingga pecah.

Aku menyiramkan air hangat dari shower ke kepala Rafif. Dia berteriak protes. Habislah busa shampo di kepala dan tangannya tersiram air.

Ketika aku mengambil handuk untuk mengeringkan rambut Rafif, terdengar Akang memanggilku.

“ Neng, antar Akang ke dokter. Tadi jatuh dari motor!” Teriakan  itu membuatku kaget.

“ Ya Allah...”

Aku  memberikan handuk kepada si sulung, Anin.

“Tolong urus adik dulu, Nak. Mama mau mengantar Bapak berobat. “

Aku bergegas turun. Kudapati Akang keluar dari kamar mandi dengan tangan basah. Pandanganku beralih pada celana jeans-nya yang telah robek tak karuan.  Dua luka berwujud lubang berdarah tampak di dengkul dan mata kaki kirinya.

“Astagfirullah...” Teriakku. Hatiku cemas, jantung berdebar keras. Secepatnya aku mengantar Akang ke instansi gawat darurat sebuah rumah sakit swasta.

5 jahitan di dengkul kiri, 3 jahitan di dekat mata kaki kiri, lalu lecet di  tangan kanan dan luka-luka di tangan kirinya. Begitulah kondisi Akang setelah jatuh dari motor.

Percuma saja bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi, yang jelas semua ini sudah digariskan dalam skenarioNya.

Besok paginya, luka jahitan di kaki Akang menimbulkan nyeri yang mengiris. Aku melihat kaki Akang bengkak. Sudah pasti dia tak mampu berjalan sehingga hari ini tidak bisa berangkat ke kantornya di Jakarta.

Sepanjang hari aku mendampingi Akang. Ketika dia ingin ke toilet, aku membantu memapah lengan kirinya. Karena tak bisa berjalan, dia meloncat-loncat dengan kaki kanan. Ketika terduduk di toilet, Akang mengaduh.

“Sakit sekali..sepertinya ada otot yang tertarik, Neng. Padahal tadi pinggang tidak sakit. Sepertinya salah posisi duduk.” Keluh Akang.

Hari-hari berlalu, nyeri di pinggang belakang Akang makin parah.  Dia tak bisa duduk, kalau dipaksa duduk nyeri bertambah hebat. Berdiri pun sakit sekali.  Sakit saat berdiri bukan hanya datang dari pinggangnya tapi juga dari luka jahitan di kaki kiri. Satu-satunya posisi yang agak lumayan adalah  berbaring, itupun  gelisah harus mencari-cari posisi yang tepat  menghindari nyeri.

Hingga Jum’at 31 Oktober, dokter perusahaan datang berkunjung ke rumah. Dia menyarankan Akang untuk melakukan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk mengetahui kondisi di ruas tulang pinggang dan syarafnya.

Proses MRI

Sebenarnya sejak tahun 2005 Akang sudah beberapa kali pernah dicoba untuk di MRI, tapi selalu gagal. Penyebab gagalnya karena ternyata Akang mengidap claustrophobia atau phobia ruang sempit! Lelaki separuh jiwaku itu tak bisa berbaring tenang dalam lorong sempit mesin MRI. Nafasnya menjadi  sesak dan panik hingga dia bergerak terus. Akibatnya pemeriksaan MRI pun tidak berhasil.  Meski sudah dicoba menenenangkan diri, memejamkan mata, mengucapkan doa dan shalawat, membayangkan hal-hal yang menyenangkan ketika berada dalam mesin MRI, tetap  saja gagal.

Tapi kali ini,  pemeriksaan MRI sangat dibutuhkan untuk mengetahui langkah pengobatan apa yang tepat untuk penyakitnya, harus diupayakan cara lain supaya Akang tenang selama proses pemeriksaan MRI berlangsung.

Malam itu aku menelepon rumah sakit  Pertamedika Sentul City, berkoordinasi dengan petugas rumah sakit untuk mengatur konsultasi dengan dokter bedah syaraf dan menyiapkan pemeriksaan MRI dengan kehadiran dokter ahli anestesi. Akan diupayakan pemeriksaan MRI untuk Akang dengan cara melakukan bius, supaya selama proses pemeriksaan Akang bisa berbaring tenang.
Rumah Sakit Pertamedika Sentul City

Kenapa memilih rumah sakit Pertamedika Sentul ? Ya karena di Bogor belum ada satu pun rumah sakit yang memiliki fasilitas MRI. Pertamedika Sentul adalah rumah sakit terdekat dari Bogor yang memiliki fasilitas ini. Rumah sakit ini baru beroperasi selama 1 tahun. Pelayanannya baik. Para suster, dokter maupun tenaga medis lainnya ramah dan cepat tanggap.  Baru sekali ini aku menemukan rumah sakit yang menyediakan makanan untuk keluarga yang menunggui pasiennya, meskipun fasilitas makanan untuk keluarga pasien  hanya tersedia  untuk kelas VIP  ke atas. Karena masih melakukan pembangunan bertahap, rumah sakit ini belum memiliki kantin, hanya ada sebuah toko roti yang terletak di lobby-nya. Jadi kalau ingin membeli  makanan atau kebutuhan lain, harus berbelanja ke supermarket besar yang terletak di  gedung sebelah. Bisa ditempuh dengan jalan kaki dengan jarak sekitar 100 meter.

Sabtu 1 November 2014, jam 9.30 pagi kami berangkat dari rumah menuju Rumah Sakit Pertamedika. Sepanjang perjalanan aku melihat Akang mengatupkan mulutnya dengan kuat.  Butiran keringat dingin membasahi dahinya, karena menahan sakit yang amat sangat. Jam 10.30 kami tiba di  Rumah Sakit. Petugas rumah sakit langsung menyambut dengan mendorong brankar ( ranjang beroda untuk  mindahkan pasien). Akang dibawa ke ruang emergency lalu di periksa tekanan darahnya sambil menunggu dokter   bedah syaraf datang.

Ketika dokter datang, aku menyerahkan hasil CT scan tulang belakang yang pernah dilakukan sebelumnya. Setelah memperoleh penjelasan kronologis penyakit,  dokter itu meneliti hasil rontgen dan CT scan.

“Kelihatannya Bapak menderita Hernia Nucleus Pulposus. Dari pemeriksaan CT Scan ini terlihat ada bantalan tulang lumbal yang mendesak ke sumsum tulang belakang. Tapi memang harus dilakukan pemeriksaan MRI supaya jelas masalahnya.” Ujar dokter M.Agus Aulia, SpBS.

Di hari yang sama, MRI dilakukan dengan bantuan dokter ahli anestesi, DR. dr. Dyah Yarlitasari, SpAn. Sebelumnya dokter memberi motivasi pada Akang untuk membantu  proses pemeriksaan MRI berlangsung lancar.

Aku ikut mendampingi Akang dan melihat proses ketika hidungnya dipasangi selang  oxygen, dan obat bius diinjeksi  lewat infus untuk membuatnya tertidur. Dari ruang kontrol yang  berada di sebelah ruang MRI, aku bisa mengawasi dengan jelas melalui kaca dan layar monitor. Tubuh Akang perlahan bergerak “tertelan” ruang sempit mesin MRI yang berbentuk lingkaran pas seukuran tubuhnya.
Ilustrasi Pemeriksaan MRI. Sumber : internet

Aku, dokter, perawat dan petugas radiologi menanti dengan tegang proses MRI berlangsung.

“Mudah-mudahan dia tidak bangun saat proses masih berlangsung. Soalnya obat bius yang saya berikan hanya membuat dia tertidur di permukaan,  bukan tidur yang dalam. Saya khawatir bunyi  berdentam-dentam  dari mesin MRI membangunkannya. “ dokter berkata dengan sedikit cemas.

Layar komputer di ruang kontrol menampakkan gambar-gambar siluet tulang belakang bagian pinggang. Petugas  radiologi mengolah gambar itu dengan  program tertentu.


Ilustrasi MRI Control Room


“Tampaknya tak ada cara lain. Ini harus dioperasi. “  dokter anestesi  berucap lirih kala meneliti gambar-gambar di layar komputer .

Dokter itu menatapku. Sekali lagi dia berkata. “ Harus dioperasi, Bu.”

Aku diam membeku, berusaha menetralisir rasa ngeri. Bibirku kelu, tak mampu merespon ucapannya.

Lima belas menit berlalu, tiba-tiba di sepertiga proses akhir pengambilan gambar MRI, aku melihat jari-jari Akang bergerak. Geraknya ritmik, seolah memberi tahu kalau dia sudah sadar.

“Aduh..dia bangun! Kuat sekali dia, padahal saya sudah memberi dua dosis obat lho. “ dokter itu berucap cemas.

“ Mudah-mudahan dia tetap tenang, dok.” Sahutku.

Untunglah 5 menit sisa waktu itu berlalu dengan sukses. Semua proses pengambilan gambar berhasil dilakukan. Aku berterima kasih dan dokter anestesi tersenyum gembira karena berhasil menjalankan misinya.

Perlahan tubuh Akang yang terbaring diatas conveyor bergerak keluar  terowongan sempit itu.  Alhamdulillah, dia tak panik.

Hernia Nucleus Pulposus

Hasil MRI  menegaskan dugaan sebelumnya. Akang terbukti menderita Hernia Nucleus Pulposus (HNP). Sebenarnya penyakit ini sudah terdeteksi sejak tahun 2005 melalui hasil rontgen. Terdapat bantalan tulang  yang sudah tidak bagus pada lumbal (tulang pinggang) ruas 3, 4 dan 5. Akang kadang-kadang merasa nyeri di pinggangnya terutama setelah melakukan aktivitas terlalu lama duduk. Tapi nyeri itu sering sembuh sendiri sehingga Akang mengabaikannya.

Tulang belakang tersusun atas ruas-ruas tulang yang dihubungkan menjadi satu kesatuan melalui persendian, mulai dari daerah leher sampai tulang ekor. Ruas tulang yang di atas dihubungkan dengan ruas di bawahnya oleh sebuah bantalan yang disebut diskus intervertebralis (persendian pada tulang belakang). Di dalam bantalan ruas tulang belakang tersebut, terdapat suatu bahan pengisi seperti jeli kenyal yang disebut nucleus pulposus. Seperti pada mobil dan motor, bantalan tersebut berfungsi sebagai  “shock breaker” (peredam getaran) dan memungkinkan tulang belakang dapat bergerak lentur.
Struktur Nucleus Pulposus

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah nyeri yang disebabkan keadaan di mana bantalan lunak di antara ruas-ruas tulang belakang (soft gell disc atau nucleus pulposus) mengalami perubahan atau gangguan.  Orang awam menyebut keadaan ini sebagai “ urat terjepit”. Ada dua kasus HNP sebagai berikut :

1. Ketika nucleus pulposus mengalami tekanan dan pecah, sehingga urat-urat syaraf yang melalui tulang belakang terjepit.

2.  Keluarnya nucleus pulposus melalui robekan annulus fibrosus (pembungkus nucleus pulposus)  menekan medula spinalis. Medula spinalis  adalah jaringan saraf berbentuk seperti kabel putih yang memanjang dari medula oblongata turun melalui tulang belakang dan bercabang ke berbagai bagian tubuh.  Medula spinalis merupakan bagian utama dari sistem saraf pusat yang melakukan impuls saraf sensorik dan motorik dari dan ke otak. Disebut juga saraf tulang belakang atau sumsum tulang belakang.

Kedua keadaan itu menyebabkan nyeri yang hebat. Bahkan pada kasus yang parah bisa menyebabkan kelumpuhan.
Gambar ilustrasi Hernia Nucleus Pulposus



Hernia Nucleus Pulposus
Pada Akang, kasus HNP yang terjadi adalah pada point 2 di mana bantalan ruas tulang belakang bagian pinggang (lumbal) no 4-5 keluar dari jalurnya dan menekan sumsum tulang belakang.
Penyakit ini tidak serta merta timbul, melainkan akibat akumulasi dari berbagai kegiatan. Penyebab penyakit ini antara lain :
-          Postur tubuh yang tidak diposisikan dengan benar.
-          Perubahan degeneratif.
-          Berat badan berlebih.
-          Cedera/trauma benturan.
-          Merokok.
-          Batuk yang lama dan terus menerus.
-          Tekanan pada tulang belakang.
-          Sering menyetir dalam waktu lama.
-          Usia lanjut.
-          Kelainan pada tulang belakang.
-          Sering mengangkat beban yang berat.

Dari penyebab di atas, penyebab yang paling mungkin terjadi pada Akang adalah sering mengangkat beban yang berat. Sejak masih di bangku kuliah Akang menyukai olahraga angkat beban. Olah raga ini rutin dilakukannya untuk membentuk otot-otot tubuhnya.

Selain itu yang mungkin juga menjadi penyebab penyakit ini pada Akang adalah sering duduk dalam waktu lama saat bekerja dan trauma benturan. Menurut Akang, sejak saat masih duduk di bangku SMP sampai kejadian kecelakaan kemarin, dia sudah beberapa kali jatuh dari motor karena hobby ngebutnya.

Gejala yang dirasakan penderita HNP adalah nyeri yang terasa menusuk tajam seperti nyeri saat sakit gigi pada bagian pinggang menjalar ke lipatan bokong. HNP pada ruas pinggang juga menimbulkan nyeri pada pinggang yang menyebar ke tungkai, umumnya ke daerah betis. Orang awam sering menyebutnya seperti “nyetrum”. Gejala lainnya adalah rasa kesemutan, baal/kebas. Pada keadaan yang lebih berat rasa nyeri akan terasa saat berjalan atau duduk dalam waktu yang lama. Kelumpuhan pada HNP pinggang adalah ketidakmampuan berjalan dengan cara berjinjit atau berjalan dengan tumit.

Kelanjutan dari nyeri akan terjadi kekakuan otot yang mengakibatkan penampakan struktur pinggul dan tungkai yang terkena menjadi tak sama dengan tungkai yang sehat di sebelahnya. Sebagai gejala lanjutan, gerakan pada arah tertentu menjadi terbatas dan tidak bisa melakukan gerakan atau mobilisasi tubuh dengan sempurna layaknya orang yang sehat.

Cinta Bukan Sekedar Kata
Hidup ibarat sekotak pensil crayon. Kita tak hanya memperoleh warna-warna favorit,  ada juga warna-warna yang tak kita sukai. Semua warna  harus ada untuk membuat sekotak crayon itu menjadi lengkap.

Aku tak menyesali bahwa   kisah hidupku dan Akang  tengah dihiasi oleh semburat warna  kelabu  bernama Hernia Nucleus Pulposus. Aku tak marah pada Tuhan, karena sudah memberi warna yang berbeda dari warna cerah ceria yang biasa Dia taburkan dalam kehidupan kami. 



Aku dan Akang

Aku senang menunjukkan bakti pada lelaki separuh jiwa yang meringis-ringis menahan nyeri. Aku bahagia bisa mendampingi dia dalam sakitnya . Aku ikhlas menyuapkan makanan, membantu  buang air, mengambilkan wudhu, memapah tubuhnya kala ingin ke toilet, membasuh badannya agar lebih segar dan bersih, mendengar apa yang dikeluhkan, tetap tersenyum menghadapi ungkapan rewelnya kala sengatan nyeri memuncak, mendiskusikan langkah pengobatan  yang akan diambil, membelai dan menciumnya untuk menunjukkan kasih sayangku. Tentu aku bersyukur  memiliki kesempatan melakukan hal-hal itu,  karena cinta bukanlah sekedar kata.

Hanya, ada saat-saat  tertentu yang terasa berat kujalani sebagai perempuan cengeng alias mudah meneteskan air mata. Di saat  nyeri hebat menyiksa Akang, sungguh sulit bersandiwara  memasang tampang biasa-biasa saja di wajahku. Hati ikut merintih-rintih melihat penderitaan Akang, sementara aku tak mampu melakukan apapun untuk meringankan sakitnya. Rasanya sungguh tak berdaya. Seandainya nyeri hebat itu bisa dibagi dua, pasti sudah kulakukan.  Aku tak boleh menitikkan air mata di depannya kalau tak ingin membuat Akang merasa lebih sengsara. Paling-paling aku masuk ke toilet pura-pura mencuci handuk kecil padahal aku menumpahkan tangis di sana.

Bangun di sepertiga malam, ketika aku mendengar dengkur Akang, terasa terbuka sebuah kesempatan berduaan denganNya. Kutumpahkan segenap rasa kepada Sang Pemilik Kehidupan.  Aku  terisak bersujud memohon  dan mengiba-iba belas kasihNya untuk kesembuhan lelaki belahan jiwaku. 

Siang harinya, Akang berkata dengan cengiran nakal  bertengger di wajah pucatnya.

“Neng kenapa menangis dini hari tadi? Hayooo... ingat sama mantan pacar ya?” Godanya.

Ups... ketahuan  menangis. Aku  tersipu malu.

Rencana Operasi

“Saran yang bisa saya berikan  adalah operasi. Bapak boleh tidak setuju. Saya mempersilakan bila masih ingin mencari cara pengobatan lain. Tapi, sebagai dokter, solusi paling tepat menurut saya adalah operasi. “ Dokter Agus Aulia berkata dengan nada mantap.

Akang termenung. Aku tahu sangat  berat rasanya mengambil keputusan ini.  Kata “operasi “  terdengar begitu menyeramkan.

Beberapa minggu yang lalu dia pernah mencoba pengobatan  rehabilitasi medik di rumah sakit  Advent Bandung. Saat itu memang dokter di sana berhasil membuat nyeri pinggangnya hilang seketika.  Sebelum ke Bandung dia pun sudah mencoba terapi pijat di Jogjakarta, yang juga berhasil menghilangkan nyeri pinggangnya. Tapi ternyata  akar permasalahan nyeri pinggang itu masih tetap ada. Dari hasil CT Scan dan  MRI sebelum dan sesudah terapi alternatif dilakukan, keadaan bantalan tulang yang mendesak sumsum tulang belakang itu masih tetap sama. Artinya hilangnya nyeri pinggang dengan pengobatan alternatif  hanya bersifat sementara. Bila terjadi salah gerakan,atau trauma benturan sedikit saja nyeri pinggang bisa  kembali menyerang, bahkan  makin hebat.

Akhirnya, sakit luar biasa  yang menyengat-nyengat  pinggang dan menjalar hingga ke betis memaksa Akang menerima solusi yang ditawarkan pria di hadapannya itu.

“Ya. Apa boleh buat kalau itu jalan yang terbaik. Menurut dokter di mana sebaiknya melakukan operasi itu, dok? “ Ucapan Akang terdengar lirih.

“Saya sarankan operasi dilakukan di RSPAD. Rumah sakit itu sudah berpengalaman menangani masalah HNP terutama yang terjadi pada para tentara. Di sana operasi akan dilakukan dengan metode “micro surgery” dengan luka yang minimal. Dibantu laser, sayatan operasi hanya akan dilakukan tepat di tempat yang bermasalah. Jadi dengan micro surgery, proses penyembuhan akan lebih cepat. “ dokter Agus Aulia berdehem kecil sebelum melanjutkan penjelasannya.

“Untuk kasus Pak Sutedja ini, tak perlu khawatir. Operasinya tidak akan rumit kok. Yang akan dilakukan hanya membuang bantalan yang menonjol itu sehingga tak ada lagi yang menekan sum-sum tulang belakang. “

“Saya harus mendiskusikan masalah ini dengan istri saya dan dokter perusahaan, dok. “ Akang mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Oh, tentu saja. Beri tahu saya bagaimana nanti keputusannya ya.“ Ujar sang dokter sebelum berlalu.

Selanjutnya Akang terlibat perbincangan dengan dokter-dokter perusahaan via telepon. Mereka mengusulkan untuk melakukan operasi di Rumah Sakit Pondok Indah. Di sana Akang disarankan berkonsultasi dengan DR. dr  Lutfi Gatam Sp.OT. Beliau adalah dokter spesialis bedah orthopaedi dan traumatologi- konsultan tulang belakang, salah satu dokter Indonesia yang terbaik di Asia.

Akhirnya setelah memikirkan berbagai pertimbangan, kami sampai pada sebuah keputusan bahwa operasi akan dilakukan di rumah sakit Pondok Indah.



Ruang Perawatan RS Pondok Indah

Selanjutnya, aku membereskan semua urusan administrasi rumah sakit. Sore itu, Senin 3 November 2014 Akang dibawa menuju Rumah Sakit Pondok Indah dengan ambulance didampingi perawat RS Pertamedika. Serah terima pasien dilakukan di Instansi Gawat Darurat  RS Pondok Indah.

Persiapan dan Operasi

Jarum jam telah menunjukkan pukul 22.00 ketika seorang pria separuh baya memasuki ruang kamar. Pria itu di dampingi seorang perawat dan pemuda berjas  putih yang tampaknya seorang dokter muda.

“Selamat malam, Pak. Saya dokter Lutfi Gatam. Bagaimana kondisinya? “ Pria itu membuka percakapan.

Akang menjelaskan kronologis penyakitnya. Pemeriksaan berlangsung cepat. Dokter Lutfi meneliti hasil CT Scan dan MRI hanya beberapa menit saja sampailah dia pada sebuah keputusan.

“Ya. Kita operasi saja. Besok persiapan operasi, dan lusa kita lakukan. “ Tegasnya.

“Apakah dengan metode micro surgery seperti yang ada di RSPAD, Dokter? “ Tanya Akang.

“Wah, disini malah lebih canggih. Kita akan lakukan dengan endoscopy, sebuah operasi minimal invasif yang disebut  Micro Endoscopic Disektomi (MED) . MED itu adalah tindakan bedah pada kelainan penekanan syaraf di tulang belakang dengan menggunakan camera dan luka sayatan yang kecil, lebih minimal daripada micro surgery. “ Penjelasan dokter Lutfi Gatam seakan mengangkat beban berat yang mengganjal hatiku.

Dari hasil browsing yang kudapat, keunggulan Metode MED adalah sebagai berikut :

1.      Sayatan kecil, hanya 1-1.5 cm saja
2.      Sedikitnya kerusakan jaringan lunak
3.      Kosmetik lebih baik
4.      Penyembuhan lebih cepat
5.      Mengurangi nyeri
6.      Sedikit komplikasi
7.      Pendarahan operasi minimal

Dengan metode ini operasi gangguan tulang belakang bisa lebih berhasil karena tidak mengubah anatomi tubuh dan tidak melakukan penggeseran otot-otot tubuh. Secara tidak langsung menggunakan metode ini membuat cost yang dikeluarkan bisa lebih minim.

Dalam hati aku berharap, semoga  operasi ini berjalan lancar dan sukses, dan proses penyembuhan berlangsung cepat.

Persiapan pun dilakukan. Hari Selasa 4 November 2014, Akang menjalani pemeriksaan rekam jantung, check darah dan urine, photo thorax, konsultasi dengan dokter jantung, dokter  penyakit dalam dan dokter anestesi. Alhamdulillah hasilnya baik.

Rekam jantung

Konsultasi dengan dokter jantung

Check darah

Keesokan harinya, Rabu 5 November 2014, Akang diminta untuk puasa sejak pukul 5 pagi. Rencana operasi akan dilakukan pada pukul 11.00.

Pukul 10.30, dua orang suster menjemput ke kamar. Akang terlihat tenang, sementara aku berusaha terlihat tenang. Hiks... Lututku terasa lemas dan tanganku dingin. Aku mendampingi Akang  yang terbaring di  brankar menyusuri  lorong rumah sakit, masuk ke lift hingga sampai di ruang operasi lantai 2 wing B.
Menuju ruang operasi
“Ruang Operasi”. Begitulah tulisan yang terpampang di pintu masuknya. Aku merasakan ketegangan ketika pintu terkuak.

“Saya boleh masuk? “ Tanyaku ragu pada seorang suster.

“Boleh, tapi hanya sampai ruang peralihan ya, Bu. Tidak boleh masuk ke ruang operasinya karena di sana harus steril dari kuman. “

Ada sebuah ruang peralihan tepat di depan pintu  ruang operasi. Aku melihat melalui pintu kaca ada berbagai alat pemantau kondisi pasien. Petugas-petugas medis lalu lalang di ruangan  dengan baju hijau seragam operasi. Rambut mereka tertutup penutup kepala hijau dan wajah  tertutup masker.

Pukul 10.44. Aku mengecup kening Akang, dan menatap seulas senyum di bibirnya sebelum dia dipindahkan ke brankar lainnya.

Sesaat sebelum masuk ruang operasi
“Doain ya..” Ucap Akang sesaat sebelum brankarnya didorong masuk ruang operasi.

Berbagai doa dan asma Allah kuucapkan dalam hati. KepadaNya aku menitipkan semua harapanku buat kesembuhan Akang.

Seorang petugas medis dari ruang operasi memanggilku. Dia menyodorkan sehelai kertas persetujuan operasi MED yang harus ditanda tangani.

“Ibu, silahkan menunggu di ruang tunggu. Disana ada lampu indikator ruang operasi. Bila lampu itu menyala, artinya operasi sedang berlangsung. Bila lampunya sudah padam artinya operasi sudah selesai. Suami Ibu di operasi di ruang 2. Nanti kalau operasinya sudah selesai kami akan memberitahu.“ Jelasnya.

Lampu indikator operasi
Lalu terduduklah aku di ruang tunggu. Dengan hati berdebar, tangan dingin dan perasaan cemas menggerayangi hati. Kutuliskan sebuah status di facebook, berharap doa yang menentramkan hati. Reaksi begitu cepat. Komentar-komentar bermunculan dan sebagian besar berisi doa dan harapan untuk kesembuhan Akang. BBM, Whatsapps dan inbox dari teman-teman bermunculan, semuanya menguatkanku. Terimakasih teman-teman..

Pukul 12. 54, seorang petugas medis muncul dari pintu ruang operasi.

“Keluarga Bapak Sutedja!” Teriaknya.

Aku bergegas menghampiri, masuk ke ruang peralihan.
Di ruang pemulihan pasca operasi

“Ibu, Bapak sudah selesai operasinya. Tapi dia masih dalam pengaruh bius. Kami masih akan terus memantau kondisinya. Nanti setelah benar-benar sadar dan kondisinya baik baru akan diantar ke kamar perawatan. “ Jelas petugas medis bermasker itu.

Aku menatap Akang yang terbaring di ruang pemulihan melalui pintu kaca. Lega rasanya. Setidaknya satu langkah penyembuhan telah kami lalui.

Pukul 16.45 Akang sudah kembali berada di kamar perawatan. Alhamdulillah dia sudah ngobrol dan tertawa lagi ditemani sahabat lama dan ayah mertuaku. 

“Alhamdulillah... nyeri hebat itu sudah tidak terasa lagi. Ternyata operasi itu tidak seseram yang dibayangkan. Langkah ini jauh lebih baik daripada bertahan menahan sakit hanya karena takut menjalani operasi. “ Ujarnya ketika kutanya bagaimana kondisinya.

Dukungan Sahabat, Teman dan Keluarga

Kawan-kawan,  bila kalian tertimpa sakit atau musibah, janganlah diam-diam saja. Kalian tak akan tahu betapa besar kekuatan doa dan dukungan semangat dari keluarga, sahabat, tetangga dan teman-teman bisa membangkitkan ketegaran menghadapi cobaanNya.

Mulanya kami tak cerita pada siapapun mengenai kejadian Akang yang tengah sakit, hingga beberapa saat akhirnya satu persatu tetangga dan rekan kerja Akang  mengetahui kejadian itu. Bahkan pada orangtua dan saudara, kami baru menceritakan hal itu setelah Akang terbaring di RS Pertamedika Sentul. Keterlaluan? Ya, memang. Hiks... Kami berkilah tak memberitahu siapa pun karena tak ingin menyusahkan, tak ingin membuat orang-orang khawatir dan sebagainya. Tampaknya seperti alasan yang baik, tapi ternyata itu sebuah kesalahan.

Pak Sitepu dan Bu Emi, tetanggaku yang menjenguk ke rumah sakit menyesalkan tindakanku tak memberi tahu kondisi Akang.

“Ya ampuun, kenapa ke toilet pakai loncat-loncat? Coba kalau cerita, nggak diam-diam saja. Pasti tidak sampai parah begini kejadiannya. Aku kan punya kruk (tongkat ketiak), tuh ada.. nganggur di rumah. Kan bisa kupinjamkan.” Ujar  Bu Emi sengit.

Aku dan Akang hanya bisa nyengir kuda. Malu. Tersadar telah melakukan kesalahan.

Gelombang simpati dan perhatian  saudara, rekan-rekan kerja Akang, teman-temanku, sahabat dan tetangga terus mengalir. Sejak Akang masih di rumah, rekan-rekan kerja sudah menyambangi kami, mendoakan dan memberi semangat untuk kesembuhan Akang.






Demikian juga saat di rumah sakit Pertamedika.  Teman-teman arisanku, teman pengajian, teman club motor, dan tetangga silih berganti menengok kami. Di Rumah Sakit Pondok Indah pun  sahabat-sahabat lama kami rela menemani menghapus galauku kala menunggu operasi Akang berlangsung hingga usai.

Ayah mertuaku datang dari Palembang, dia tiba di rumah sakit saat Akang telah berada di ruang pemulihan pasca operasi.

Perkara menyediakan waktu  menjenguk teman, tetangga, saudara dan kenalan yang sakit ternyata bukanlah hal sepele. Ada rahmat yang terkandung bagi orang yang melakukannya dan juga bagi orang yang dijenguk. Tak heran mengapa  anjuran menjenguk orang yang sakit disebutkan dalam beberapa hadits, salah satu di antaranya sebagai berikut :

Diriwayatkan dari Ali  r.a.,  ia  berkata:  Saya  mendengar   Rasulullah saw. bersabda: 

"Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga." (HR Tirmidzi, dan beliau berkata, "Hadits hasan.")

Aku kini  merasakan bagaimana dukungan moril dan perhatian orang-orang terdekat yang meluangkan waktu menjenguk, menghibur dan mendoakan kesembuhan Akang   mendatangkan kekuatan bagi kami. Rasa bahwa kami tak sendiri, ada banyak orang  yang mengharapkan kesembuhan Akang membuat kami merasa lebih nyaman. Alhamdulillah...betapa nikmat hikmah silaturrahmi.

“Kabarilah saudara, tetangga, kenalan, kerabat, teman dan sahabat bila tengah sakit atau tertimpa musibah. Kenapa? Karena makin banyak yang mendoakan akan makin baik. Kita tak pernah tahu, doa siapa yang diijabahNya dengan cepat. Mungkin saja doa tulus yang datang dari salah seorang kerabat atau teman kita  membuat Allah membukakan pintu kesembuhan dan jalan keluar dari permasalahan kita. Kalau kita tak mengabari, kita menghilangkan kesempatan memperoleh doa makbul dari orang-orang yang tulus.  “ Demikian nasehat salah seorang sahabat yang membuat mataku berkaca-kaca. Alhamdulillah...

03 November 2014

20 Hari Detox Menuju Sehat dan Langsing

Gara-gara   menulis status di FB tentang  menjalani detox dan  sudah terlihat hasilnya,   banyak teman menulis komentar dan inbox menanyakan  detox apa yang kulakukan.

Karena banyak yang bertanya baik via komentar dan inbox , aku sempat kerepotan menjawab. Butuh waktu kalau pertanyaan-pertanyaan itu aku jawab satu persatu. Akhirnya aku berjanji untuk menuliskan pengalaman di blog, setelah proses detox selesai dalam 20 hari.

Terus terang, aku  ragu memposting pengalaman ini, hingga terus tertunda selama hampir 2 minggu. Bukan apa-apa, takutnya dituduh promosi produk dan mau jualan. Tapi teman-teman terus menanyakan lewat inbox, komentar di FB, BBM,  Whatsapps, maupun ketika bertemu langsung. Baiklah teman-teman, janji harus ditepati. Tujuanku menulis hanya untuk sharing pengalamanku apa adanya, tanpa maksud apapun. Ini untuk memenuhi janji pada teman-teman yang bertanya.

Ceritanya, sebelum berangkat ke Amerika di bulan September 2014 lalu, aku menjalani medical check up menyeluruh. Pemeriksaan kesehatan ini memang rutin dilakukan tiap 2 tahun sekali. Setelah pulang ke tanah air, suamiku mengabari bahwa hasil pemeriksaan kesehatanku tak  bagus. Aku over weight dan terindikasi mengalami perlemakan hati.  Bukan overweight-nya yang membuatku cemas, tapi perlemakan hati itu...
Di  Beverly Hills, bergaya dengan tubuh  overweight. Hiks.. 
Perlemakan hati atau fatty liver adalah gejala awal yang dapat menimbulkan masalah pada organ hati dan gangguan fungsi hati. Fatty liver merupakan pembengkakan hati yang diakibatkan oleh penimbunan lemak  berlebihan pada sel-sel hati. Dari semua faktor penyebabnya yang paling masuk akal terjadi padaku adalah banyak mengkonsumsi makanan berlemak jenuh ,  makanan berkalori tinggi, dan goreng-gorengan.

Apa yang terjadi kalau hal ini dibiarkan? Fatty liver bisa berkembang menjadi cirhosis (kerusakan hati akibat sirosis). Aku kenal beberapa teman yang anggota keluarganya meninggal karena sirosis.  Penyakit ini seperti “silent killer”. Tidak ada gejala,tidak ada keluhan apapun.  Penderita tak selalu yang bertubuh gemuk, sering juga ditemukan pada orang yang langsing. Penyakit ini baru menunjukkan gejalanya ketika kerusakan hati sudah parah.

Contoh yang baru saja aku lihat adalah almarhum suami salah seorang temanku. Dia pria yang terlihat sehat dan rajin olah raga. Lalu tiba-tiba  jatuh sakit dan baru ketahuan menderita sirosis hati  stadium lanjut.

Bagaimana mengetahui apakah seseorang menderita fatty liver atau tidak? Satu-satunya cara adalah dengan melakukan pemeriksaan darah  lab darah lengkap, SGOT/SGPT, bilirubin,  dan kolesterol.
Kenyataan bahwa aku mengalami fatty liver seolah menjadi pemicu untuk evaluasi diri. Apa yang sudah aku lakukanlah yang menyebabkan hal ini terjadi. Ibarat kata pepatah “ Siapa menabur, dia menuai.”

Selama ini aku sudah berlaku zalim terhadap diri sendiri.  Sejak jarang olahraga, berat badanku merambat naik. Ditambah sering jalan-jalan  lengkap dengan  paket wisata kuliner. Bahkan pulang dari Amerika aku mendapat bonus tambahan 2 kg berat badan!

 Aku terlalu memanjakan lidah. Sering sekali membuainya dengan berbagai makanan lezat, gurih, dan berlemak. Tanpa sadar aku sudah menyiksa organ tubuh yang lain. Liver-ku menderita, menerima  kelimpahan lemak. Semua itu akibat   memperturutkan nafsu menyenangkan lidah. Sungguh tak adil.

Saran yang diberikan dokter, aku harus menjalani pengobatan di RS Jantung Harapan Kita. Huhuhu... dengar nama rumah sakit itu saja hatiku pilu ( lebay). Terbayang harus bolak-balik Bogor-Jakarta, terus harus minum obat dan lain-lain. Hiks..

Lalu bagaimana? Logikanya, kalau di tubuh terdapat kelebihan lemak yang bakal menggangu kesehatan, ya lemaknya harus dibuang. Tapi bagaimana caranya? Selama ini kalau ingin menurunkan berat badan aku melakukan diet dan olah raga. Tapi lemak yang nempel dihati apakah bisa dibuang juga?

Beberapa minggu sebelumnya, salah seorang tetanggaku pernah menawarkan produk smartdetox untuk mengeluarkan racun-racun dari dalam tubuh sekaligus membuang lemak tubuh.  Tapi waktu dia menjelaskan panjang lebar tentang produk itu, aku sama sekali tak berminat. Soalnya aku merasa sehat-sehat saja, dan tidak gemuk-gemuk banget sampai harus menjalani detoxifikasi. Lagi pula harganya mahal, lebih baik uangnya aku belikan tiket pesawat buat jalan-jalan. Begitulah pikirku saat itu.

Di website Smartdetox Synergy, disebutkan bahwa program detoxifikasi  dengan produk ini bisa membuang berbagai racun yang berasal dari polusi  air, udara, kuman, virus, bakteri, pestisida, zat beracun, logam berat, formalin, pengawet makanan,perasa buatan, dan pewarna buatan yang tanpa sadar dikonsumsi. Racun-racun yang menumpuk ditubuh inilah yang mengganggu metabolisme tubuh sehingga metabolisme berjalan lambat. Karena metabolisme lambat, nutrisi yang masuk ke dalam tubuh tak dapat seluruhnya diubah menjadi energi. Nutrisi yang belum diubah menjadi energi akan disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak. Kalau penumpukan lemak berlangsung terus menerus, akibatnya adalah overweight bahkan obesitas. Kalau sudah begitu, penyakit-penyakit “seram” seperti jantung, darah tinggi, diabetes mulai mengintai.

Aku sempat browsing-browsing dengan kata kunci “smart detox synergy “ untuk mengetahui lebih banyak informasi tentang produk ini. Produk smart detox sudah memiliki serfikat FDA, TGA, GMP, Halal dan BPOM RI. Tapi rasanya masih belum percaya meskipun banyak testimoni penggunanya terlihat meyakinkan. Sampai suatu hari aku kembali bertemu dengan tetanggaku itu. Wuiih... penampilannya kok jadi kinclong begitu. Lebih langsing dan segar.

Lalu mulai bimbang. Mau berobat ke rumah sakit atau coba detox dulu ya... Ujung-ujungnya daripada galau, aku shalat istikharah. Setelah shalat, rasanya mantap. Aku pilih menjalani detox dulu. Satu-satunya yang membuat ragu adalah karena harganya yang lumayan mahal. Lalu  muncul keraguan akan diri sendiri, sanggup tidak mendisiplinkan diri untuk mengikuti program selama 20 hari menjauhi makanan yang enak-enak?

Tapi aku pikir inilah saatnya menebus dosa. Dosa menzalimi diri sendiri, membebani tubuh dengan makanan enak tapi tak sehat selama bertahun-tahun hingga organ-organ tubuh menderita. 20 hari bukanlah waktu yang terlalu lama. Pasti bisa.


Lalu aku nekat membeli produk smartdetox.  Satu paket  yang disebut ultimate pack seharga Rp. 7.500.000,- untuk detox selama 20 hari.  Bismillah...

Produk smartdetox  terdiri dari :

1.      Liquid Chlorophyll


Cairan hijau hasil ekstrak  daun Alfalfa (medicago sativa) dengan kadar kolorofil sangat tinggi ini mengandung 60 nutrisi penting yang dibutuhkan untuk membersihkan sistem pencernaan. Satu sendok makan klorofil ini nutrisinya setara dengan 1 kg sayuran. Manfaat produk ini adalah membersihkan racun, membuang lemak, penyeimbang kadar gula darah,antioksidan, antiseptik alami dan baik untuk imunitas tubuh.

2.      Spirulina


Bentuknya kapsul yang berisi ganggang biru-hijau (spirulina palatensis) yang   mengandung delapan asam amino esensial: enzim, asam gamma linolenat (asam lemak esensial), gula tumbuhan alami, beta-karoten, carotenoid, vitamin B Kompleks, vitamin E, serta mineral chelated, dan mineral potassium, kalsium, seng, magnesium, mangan, selenium, besi, tembaga dan fosfor.  Manfaatnya meningkatkan sistem kekebalan tubuh, antivirus, antikanker, melindungi dari reaksi alergi, meningkatkan metabolisme tubuh, memperbaiki sistem pencernaan, mengatasi gejala anemia, mengatasi kekurangan gizi, membantu penyembuhan tukak lambung, mengurangi resiko penyakit jantung, mengontrol sintesa kolesterol dalam liver, membantu penyembuhan hepatitis kronis, menjaga kesehatan liver.

3.      Nutriburst

Bentuknya bubuk beraroma jeruk. Terbuat dari buah-buahan, sayuran, biji-bijian dan kacang-kacangan yang mengandung serat tinggi, antioksidan, mineral dan vitamin.    Manfaatnya adalah  mencegah kanker, membantu kesehatan jantung, mencerahkan kulit, membantu mengatur berat badan. Mengkonsumsi nutriburst membuat perut terasa lebih kenyang sehingga menekan keinginan untuk ngemil.

4.      Maximum Protein

Bentuknya bubuk beraroma coklat. Sebagai sumber protein yang membangun massa otot, sehingga saat lemak berkurang  massa otot tetap dipertahankan. Manfaatnya untuk mengurangi nafsu makan, menghambat produksi lemak, membantu mencegah penambahan lemak yang tersimpan dalam tubuh. Dengan mengkonsumsi Maximum Protein ini saat tubuh membuang lemak, tidak terjadi bagian tubuh  menggelambir, karena lemak yang hilang digantikan dengan otot. Hasilnya tubuh langsing dan kencang.

5.      ProArgy-9 Plus

Ini adalah produk unggulan yang memenangkan hadiah Nobel tahun 1998. Bentuknya bubuk yang bila dilarutkan  ke dalam air akan berwarna biru, lalu bila diaduk warna birunya berangsur  menjadi ungu. Rasanya segar.

Manfaat ProArgi9-Plus :

1. Menjaga kesehatan sistem kardiovaskular
2. Meningkatkan aliran darah ke organ vital
3. Memerangi efek negatif penuaan dini
4. Menggunaan Xylitol sbg pemanis utk meningkatkan kesehatan mulut
5. Meningkatkan performa hubungan suami istri yang sehat
6. Menurunkan lemak di tubuh
7. Menjaga kadar gula darah yg sehat
8. Meningkatkan energi
9. Meningkatkan kualitas sperma dan sel telur

Lima produk itulah yang selama 20 hari aku konsumsi untuk menuju sehat dan langsing.
Dalam proses detoxifikasi, waktu “makan” dibagi menjadi 3 macam :

1.      Minum ProArgy-9 Plus 2 sachet dicampur air 300-500 cc



2.      Cemilan, 1 sendok liquid chlorophyll dicampur air 300-500 cc dan 3 kapsul spirulina


3.      Makan pagi-siang-malam : air putih 500 cc +2 scoop nutriburst + 2 scoop maxi protein






Ada dua pola yang ditawarkan dalam menjalankan detox. Yang pertama pola 2-3-2. Artinya selama 2 hari boleh makan siang sebanyak setengah dari porsi biasanya, sementara makan pagi dan makan malam mengkonsumsi produk smartdetox. Lalu 3 hari hanya mengkonsumsi produk, tidak boleh makan nasi dan lauk-pauknya, ngemil kue, atau apapun. Selain itu harus banyak minum air putih. Dua hari berikutnya kembali boleh makan siang sebanyak setengah dari porsi biasa. Begitu terus pola berulang samapai 20 hari.

Pola yang kedua adalah 5-2-5. Artinya selama 5 hari aku hanya boleh mengkonsumsi produk smartdetox dan air putih yang banyak. Lalu dua hari berikutnya boleh makan siang sebanyak setengah porsi biasa. Lanjut 5 hari lagi mengkonsumsi produk smartdetox. Pola demikian berulang samapi 20 hari.

Karena ingin cepat melihat hasilnya, aku pilih pola yang kedua digabung dengan puasa. Karena aku punya hutang puasa Ramadhan selama 5 hari, jadi  bayar hutang puasa itu sekaligus aku lakukan  di 5 hari pertama program detox. Bagaimana caranya?

5 Hari Pertama, Detox disertai Puasa.

Aku bangun pukul 3 dini hari. Sebelum shalat tahajjud, kucampur satu sendok makan  liquid Chlorofil kedalam satu gelas air putih.  Dengan air hijau itu aku minum 3 kapsul spirulina.

Selesai shalat, sambil  beres-beres keperluan anak-anak aku minum air putih  yang banyak. Jam 4 dini hari sebelum waktu subuh tiba aku menyiapkan 500 cc air putih dalam gelas  shaker, lalu dua scoop nutriburst dan dua scoop maximum protein aku campurkan kedalam air, dikocok hingga larut, lalu diminum. Itulah makan sahurku. Kenyang.

Saat buka puasa tiba, yang pertama dikonsumsi adalah liquid chlorophyll dan spirulina. Lalu banyak-banyak minum air putih. Satu jam kemudian, minum nutiburst + maxi protein.  Setelah itu minum air putih lagi, yang banyak. Sebelum tidur jam 21.00 atau 22.00 aku minum dua bungkus ProArgy-9 plus dicampur air 500 cc.

Satu hari pertama, aku merasa agak lemas. Tapi hari selanjutnya tubuh sudah mulai bisa menyesuaikan. Aku tidak merasa lemas lagi, aktivitas pun bisa berlangsung seperti biasa.

Hari ke 6 dan 7

Bangun pagi saat perut masih kosong, aku minum 500 cc air putih dicampur 2 bungkus ProArgy-9.  Lalu banyak minum air putih. Jam 9 atau jam 10, 3 butir kapsul spirulina diminum bersama 1 sendok makan chlorophyll yang dilarutkan ke dalam segelas air.

Saat tiba waktunya makan siang, aku  yang sudah kangen makan makanan padat merasa “kalap”. Rasanya semua makanan ingin dimakan. Lalu aku ambil nasi dan lauk yang banyak, padahal seharusnya makan hanya setengah dari porsi biasanya. Tapi ternyataaa...perutku tak sanggup menghabiskan semua makanan itu, yang habis memang hanya setengah porsi saja. Selama 5 hari puasa, saat buka dan sahur hanya minum  makanan cair dan kapsul tampaknya membuat lambungku mengecil. Haha...

Hari ke 8 sampai 12

Bangun tidur saat perut masih kosong, aku minum 2 bungkus ProArgy-9 dicampur air 500 cc. Pukul 10, saatnya ngemil liquid chlorophyll dan 3 kapsul spirulina.Jam 12.00, makan siang minum nutriburst + maxi protein. Pukul 15.00 ngemil liquid chlorophyll dan spirulina lagi. Lalu jam 19.00 makan malam segelas nutriburts+maxi protein, terakhir sebelum tidur pukul 22.00 minum 2 bungkus proArgy -9 lagi.

Mulanya aku tak terlalu memperhatikan tubuhku, baru sadar telah ada perubahan saat iseng mencoba baju-baju lama. Banyak yang sudah muat kembali. Berat badan pun berangsur turun disertai ukuran pinggang yang mengecil, lingkar lengan dan lingkar paha mengecil.

Di hari ke -12  suamiku, si Akang, pulang dari lokasi kerjanya di Selat Malaka. Tampaknya dia melihat  perbedaan nyata yang terjadi pada penampilanku.

“Di kemanakan pipi chubby Neng tempo hari? Kok sekarang wajahnya lebih tirus?” Ujar Akang sumringah sambil mencubit-cubit pipiku.

“Sudah lama tidak lihat Neng pakai baju ini, kenapa selama ini tak pernah  dipakai?” Tanyanya mengomentari baju yang kukenakan.  Aku tertawa-tawa.

Selama ini baju yang kubeli 3 tahun lalu hanya tersimpan di lemari, terakhir kupakai tahun 2011 saat liburan ke Eropa, dan sekarang baru muat lagi.

Hari ke 13-14

Hari ini aku mendampingi suami rawat inap di RS Advent Bandung untuk teraphy rehabilitasi medik. Saat bangun pagi ketika perut masih kosong, aku minum 500 cc air putih dicampur 2 bungkus ProArgy-9. Lalu banyak minum air putih.

Satu jam kemudian aku minum nutriburst dan maxi protein dicampur 500 cc air putih sebagai sarapan pagi.

Jam 9 atau jam 10, 3 butir kapsul spirulina diminum bersama 1 sendok makan chlorophyll yang dilarutkan ke dalam segelas air.

Dua hari ini aku boleh makan siang. Senangnya di kantin RS Advent Bandung tersedia makanan sehat menu vegetarian yang memang sangat cocok untuk program detox yang sedang aku jalani. Aku makan siang dengan menu nasi merah, sate jamur,  sayuran dan telur. Dengan porsi yang tak banyak, perutku sudah terasa kenyang.

Lalu sekitar jam 15, aku mengkonsumsi clhorophyll dan spirulina untuk cemilan sore. Malam harinya kembali minum nutriburts dan maxi protein.

Sebelum tidur jam 22.00 aku minum ProArgy-9 dicampur 500 cc air putih.

Hari ke-15-20

Pola makan sama seperti hari ke 8-12.  Bangun tidur, langsung minum ProArgy-9. Sekitar satu jam kemudian makan pagi dengan menu minuman shake berupa air putih 500 cc dicampur 2 scoop nutriburst dan 2 scoop maxi protein.

Jam 9 atau 10 minum air putih dicampur 1 sendok liquid chlorophyll dan 3 butir kapsul spirulina.
Makan siang jam 12 kembali minum shake nutriburst dan maxi protein. Cemilan sore , liquid chlorophyll dan spirulina 3 kapsul dikonsumsi jam 15.00.

Lalu malam minum shake lagi, sebagai pengganti makan malam. Dan terakhir sebelum tidur pukul 21.00 ata 22.00 minum ProArgy-9.

Di akhir masa detox, total pengurangan berat tubuhku sejumlah 5 kg. Tapi tampaknya yang terkikis adalah lemak tubuh. Lingkar lengan berkurang, lingkar perut berkurang, lingkar paha mengecil dan wajah yang chubby menjadi lebih tirus.

Terakhir mengenakan baju berukuran S ini di tahun 2011 saat liburan ke Eropa.

Ukuran pakaian yang biasanya L berubah jadi M bahkan untuk merk pakaian tertentu ukuran S kembali muat. Stamina tubuh meningkat, aku tak gampang lelah. Meskipun bangun dini hari lalu tidur malam agak larut aku tidak lemas dan mengantuk. Secara keseluruhan terasa perbedaan sebelum dan sesudah proses detox. Hanya saja aku belum sempat check darah kembali untuk mengetahui kadar lemak yang terdapat di liver apakah sudah berkurang atau belum. Kalau sudah check darah, tulisan ini akan aku update dengan laporan hasil test darah.
Sebelum Detox, foto ini menuai komentar-komentar  bernada " Ndut ya..." ketika ku posting di FB.

Foto diambil tanggal 26 Oktober 2014, 4 hari setelah program detox selesai
Demikianlah pengalamanku menjalani detox selama 20 hari, teman-teman. Sekarang yang  harus aku lakukan adalah menjaga tubuh agar tidak kembali terbebani lemak-lemak dan racun yang bisa menimbulkan berbagai penyakit. Semoga aku bisa istiqomah untuk tidak menuruti nafsu makan semata, tidak lagi berlebihan memanjakan lidah dan berlaku zalim pada organ-organ tubuh yang lain. Semoga aku bisa lebih selektif memilih makanan, yang sehat dan bermanfaat buat tubuh, karena menjaga tubuh tetap sehat adalah wujud rasa syukur kepadaNya. Begitu kan?