20 Agustus 2014

Ibu-ibu Doyan Nulis Bogor Tampil di Mumsclub Majalah Mother and Baby

Majalah Mother and Baby edisi Agustus 2014
Ibu-ibu Doyan Nulis Bogor tampil di majalah Mother and Baby

Saat mengendarai mobil menjemput anakku pulang sekolah, ponselku berdering. Aku menepikan mobil dan berhenti untuk menerima telpon itu.

“ Hallo, dengan Mbak Juliana Dewi?” Terdengar suara renyah seorang wanita dari seberang sana.

“ Iya, saya sendiri. “ Jawabku.

“Saya  Disi, dari majalah Mother and Baby.  Mbak Juli, saya mau mengajak Ibu-ibu Doyan Nulis untuk mengisi halaman  Mumsclub di majalah Mother and Baby. Saya perlu 5 orang anggota Ibu-ibu Doyan Nulis yang punya anak balita. Bisa nggak, Mbak? “ Tanya Mbak Disi.

“Tentu bisa, Mbak. Nanti saya kabari ya.” Ucapku senang.

Komunikasi selanjutnya dengan Mbak Disi pun berlangsung beberapa kali. Ketika aku sudah mendapatkan 5 orang anggota Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) Bogor sebagai nara sumber, Mbak Disi meminta aku  bersama  para nara sumber dan anak-anaknya berangkat ke kantor Mother and Baby untuk wawancara dan berfoto.

Tapi rasanya akan repot sekali memboyong 5 orang ibu-ibu bersama anak-anak berangkat ke Jakarta. Ketika aku usulkan untuk melakukan wawancara dan pemotretan di Bogor, Mbak Disi setuju.

Maka disepakatilah lokasi wawancara dan pemotretan di lingkungan rumahku, di Bogor Nirwana Residence.

Tanggal 26 Juni 2014, 5 orang anggota IIDN yang memiliki balita berkumpul di rumahku. Mereka adalah Indriya. R. Dani, Sri Komarudin, Nurmita Dewi, Mardhiah Siregar, dan Dina Pertiwi.  Mbak Tya Marty Al-Zahira, selaku koordinator IIDN wilayah Jabodetabek pun ikut hadir. Kami semua memakai pakaian bernuansa merah, seperti yang diminta pihak Mother and Baby.

Acara ngobrol dan saling berkenalan jadi seru, karena selama ini kami hanya berinteraksi lewat dunia maya, di group Facebook  IIDN Bogor. Ibaratnya seperti kopi darat kecil-kecilan.

Atas : Kopi darat kecil-kecilan IIDN Bogor sebelum wawancara dan pemotretan
Bawah : Team majalah Mother and Baby makan siang sambil ngobrol ditemani Mbak Tya, Koordinator IIDN Jabodetabek

Setelah makan siang, kami masih melanjutkan obrolan karena team Mother and Baby belum tiba. Mereka terjebak macet. Seperti biasanya, di musim liburan anak sekolah kota Bogor selalu dibanjiri wisatawan yang membuat jalan-jalan di Bogor macet parah.

Ketika akhirnya Mbak Disi dan kawan-kawannya tiba, aku langsung mempersilakan mereka makan siang dulu. Sebelumnya Mbak Disi membagikan kertas berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus diisi oleh kami sebagai nara sumber.

Wah, bagus juga cara seperti ini. Tak perlu mewawancari 7 orang nara sumber satu persatu, sehingga menghabiskan waktu. Cukup dengan membagikan pertanyaan, lalu masing-masing nara sumber menuliskan jawabannya, bereslah sudah. Hemat waktu, dan praktis.

Pertanyaannya tentang apa? Tentang kiat-kiat merawat anak kah? Ternyata bukan. Kami diminta sharing pengalaman  bergabung dalam komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis, dan bagaimana serunya menjalani peran sebagai penulis yang memiliki anak balita.
Tak mudah mendapatkan foto yang benar-benar bagus, karena anak-anak tak betah berlama-lama duduk manis

Pemotretan berlangsung di lingkungan clusterku. Photographer mengambil gambar berkali-kali. Berkali-kali juga kami  merubah posisi dan angle pemotretan. Memang tidak mudah mendapatkan gambar yang baik apalagi photo  modelnya anak-anak. Kadangkala ibu-ibunya sudah bagus, eh... anak-anaknya ngambek, tidak mau menghadap camera, menangis, atau cemberut. 

Tapi disitulah letak seru-nya. Kesabaran dibutuhkan untuk bisa mendapat hasil terbaik.  Tak jarang sang photographer dan team-nya menggoda anak-anak dengan membuat ekspresi lucu di wajah mereka agar anak-anak mau tertawa atau tersenyum saat proses pengambilan gambar.
Coba dan coba lagi mengambil foto dengan berbagai pose dan angle

Alhamdulillah... semua berjalan lancar.  Majalah Mother and Baby edisi Agustus 2014 sudah terbit.
Semoga anggota IIDN makin semangat menulis dan berkarya untuk  menginspirasi Ibu-ibu lainnya.






18 Agustus 2014

Reuni Bukan Sekedar Hura-Hura


Hari Minggu 17 Agustus 2014 telah kutunggu-tunggu kehadirannya sejak beberapa minggu yang lalu. Bukan karena aku akan  jadi petugas upacara pengibaran bendera, atau  panitia penyelenggara perlombaan memperingati hari merdeka. Bukan. Tapi di tanggal itu, sebuah kesepakatan telah dibuat. Kesepakatan antara teman-teman SMP-ku, bahwa kami akan berkumpul di BSD untuk sebuah reuni.

Pentingkah hadir dalam reuni? Apa sebenarnya manfaat hadir dalam  reuni?  Apakah hanya untuk pamer keberhasilan, atau mengintip kehidupan masa kini teman-teman lama? Tentu saja tidak. 

Sebagai emak-emak dasteran, tentu aku bukanlah orang yang bisa pamer-pamer. Lha, mau pamer apa? Pamerin daster? Ya nggak serulah!

 Kalau aku hadir  itu karena menurutku reuni mengandung banyak manfaat positif seperti yang disebutkan berikut ini:

  1. Reuni merupakan ajang silaturrahmi yang mempererat tali persaudaraan dan kedekatan emosional.
  2. Reuni menjadi ajang melepaskan kerinduan terhadap sahabat dan teman-teman lama.
  3. Reuni menjadi ajang  refleksi diri. Masing-masing pribadi yang hadir bisa menilai dirinya sendiri, dan  menjaga keterlibatannya dalam sebuah komunitas.
  4. Reuni  merupakan ajang untuk belajar dari   pengalaman hidup teman-teman  yang telah mencapai kesuksesan.
  5. Reuni merupakan ajang membagi ilmu pengetahuan, kiat-kiat dan  pengalaman hidup pada teman-teman.
  6. Reuni bisa menjadi awal terbentuknya wadah kegiatan sosial untuk membantu teman-teman yang dalam kesulitan, atau untuk memberikan dukungan pada sekolah atau lembaga tempat komunitas berasal.
Apakah semua teman senang bila di undang menghadiri reuni?  Rata-rata menyambut gembira meskipun akhirnya yang hadir terseleksi oleh jarak dan waktu. Yang tak bisa hadir adalah mereka  yang pada saat  bersamaan ada urusan penting, atau terhalang  jarak yang jauh.

Meski ada  teman yang  memutuskan silaturrahmi, tak menanggapi undangan dan ajakan berkumpul untuk alasan yang gagal kupahami, tapi ada pula teman yang sangat setia kawan. Mereka sengaja datang jauh-jauh  dari Palembang dan Bandar Lampung khusus untuk menghadiri reuni ini. Senangnya..

Aku dan teman-temanku dulu adalah siswa SMP Negeri 19 Palembang. Sebuah sekolah yang terletak di Jl. Srijaya Km 5,5 Palembang

Tahun 1985,itulah saat kami memulai perjalanan hidup  sebagai murid SMP, berada dalam satu sekolah yang sama, lingkungan yang sama dan setiap hari saling berinteraksi. Kebersamaan direntang waktu  1985 hing 1988  telah menumbuhkan ikatan persahabatan yang kuat.

Satu persatu teman-temanku datang  ke rumah Yenny, yang menjadi tuan rumah acara reuni. Teriakan senang mewarnai peluk dan cium penuh kerinduan. Bertemu lagi setelah lama tak jumpa membuat segala emosi dan kegembiraan kami membuncah. Segala kenangan manis, pahit, konyol, unik, sedih, bahkan kisah terpendam selama masa sekolah tumpah ruah diungkapkan kembali dalam senyum, canda dan tawa.



“Ingat tidak waktu kita jajan es hoya? Makan pempek kulit kuah model? Masih ada tidak ibu-ibu yang jualan es hoya itu ya? Duuh.. kangen pengen lagi.” Ungkapan penuh emosi dari seorang temanku seakan membawa kenangan pada rasa manis dan sedikit menggelitik dari segelas es hoya pelepas dahaga saat jam istirahat. Aku tak yakin saat ini es hoya masih diproduksi, karena sudah lama sekali  tak pernah lagi kujumpai minuman itu.

Bercerita dengan ekpresi dan logat bahasa Palembang, dengan kata-kata lugas apa adanya, sebagaimana yang dulu kami lakukan,  menggugah kerinduan  pada kota tercinta dan suasana sekolah. Lembar-lembar kenangan dengan guru-guru yang sebagiannya telah meninggal dunia membangkitkan perasaan haru.

Kami bersama-sama seperti melihat kembali kilas kehidupan di masa lalu yang  menjadi bagian penting pembentukan karakter, perjalanan hidup dan keberadaan kami sekarang.





“Kami dulu nakal bukan kepalang. Kena marah guru sudah biasa. Hobi kami  menghabiskan waktu bersenang-senang, nonton, malas belajar, di kelas suka mencontek, bohong pada orangtua demi bisa menghabiskan waktu berkumpul bersama teman-teman.” Ujar  salah satu temanku, yang disambut derai tawa dan anggukan setuju teman-teman lainnya.

“Tapi perjalanan hidup selanjutnya menempa kami. Pengalaman-pengalaman pahit karena keputusan  yang diambil sendiri menjelma menjadi cambuk. Cambuk yang mulanya terasa menyakiti, tapi pada akhirnya cambuk itu membuat kami kuat dan mampu berdiri menghadapi hidup. “

Kenakalan, kebodohan dan tindakan naif  yang pernah dilakukan di masa lalu kini menjadi pelajaran berharga, setidaknya sebagai bekal dalam mendidik anak-anak kami yang sekarang  sudah memasuki masa remajanya.

Kutatap teman-teman lamaku  dengan rasa sayang. Lihatlah mereka sekarang, sudah jauh berbeda dari pribadi-pribadi yang aku kenal dulu. Betapa banyak liku-liku hidup yang telah dilalui. Liku-liku yang menjadi bagian skenario Tuhan telah menuntun mereka menjadi manusia-manusia bijak. Alhamdulillah...


Metamorfosis. Mungkin itulah yang telah kami alami. Ibarat ulat buruk rupa yang berproses melewati cobaan hidup, lalu  menjelma menjadi makhluk cantik. Idealnya begitulah hidup ini, yang tadinya buruk, berubah menjadi baik. Yang tadinya kurang, berubah menjadi lebih. Yang tadinya lemah, berubah menjadi kuat.

Senangnya melihat teman-temanku telah mencapai kematangan dalam berfikir dan bertindak. Kata-kata penuh hikmah yang mereka ucapkan merupakan intisari  pengalaman hidup  mereka  sendiri.

Reuni bersama teman-teman lama, bagaikan sebuah relaksasi. Merasakan kembali  masa remaja, tertawa lepas tanpa beban, sungguh seperti menjalani terapi pelepasan stress, pelepasan energi-energi negatif dan tekanan-tekanan dalam kehidupan.

Mau merasakan bangkitnya energi baru? Cobalah berkumpul dan bersenda gurau dengan teman-teman lama dalam acara reuni!

16 Agustus 2014

Mak Erot dan Pantai Sawarna

Kegiatan menyenangkan yang menjadi hobi aku dan si Akang, suamiku, adalah touring dengan motor ke tempat-tempat yang indah. Kadang kami melakukannya bersama rombongan teman-teman, tapi lebih sering kegiatan ini kami lakukan berdua saja.

Bulan Mei 2013, sepulang dari touring ke Kuningan Jawa Barat, kami istirahat seharian di rumah. Sorenya kami packing lagi, menyiapkan semua kebutuhan anak-anak selama ditinggal touring,  dan besok paginya  kembali meluncur menggilas  aspal jalanan menuju Pantai Sawarna.


Untuk touring kali ini, kami memilih menggunakan  motor SYM, Joymax  dengan kapasitas mesin 250 cc.  Motor ini nyaman, dengan backrest atau  sandaran yang empuk buat boncenger seperti aku. Jok-nya yang lembut mampu menopang bokong dengan nyaman senyaman duduk di mobil.  Terdapat bagasi di bawah jok motor yang lumayan luas, cukuplah untuk menampung barang-barang bawaan kami untuk touring selama 2 hari.  Riding position-nya nyaman, dan akselerasi lumayan bagus. Begitulah pendapat si Akang tentang motor ini.

Pantai Sawarna terletak di kecamatan Bayah, kabupaten Lebak, Propinsi Banten.  Dengan modal petunjuk GPS, kami menelusuri jalan dari Bogor melewati Cicurug Sukabumi- Parung Kuda- Cikidang- Pelabuhan Ratu- Cisolok hingga Sawarna.

Senang sekali  melewati jalan-jalan di wilayah Jawa Barat karena  pemandangan  hijau dan cantik sepanjang jalan yang kami lalui.

Meskipun jalur yang dilalui motor tak selalu mulus, tapi tetap  nyaman. Tiba di wilayah Pelabuhan Ratu, pemandangan berganti menjadi pantai-pantai yang cantik.

Ada pengalaman unik  dan konyol yang kami alami saat melintasi Jalan Raya Cisolok- Pelabuhan Ratu.  Di satu tempat,  terlihat bangku-bangku kayu di pinggir jalan di mana beberapa lelaki duduk -duduk, sementara motor-motor mereka di parkir disisi jalan. Tampaknya mereka tukang ojeg yang menanti pelanggan. Sebuah papan bertuliskan " Mak Erot" terpampang di batang pohon yang menaungi bangku-bangku itu.

Saat kami melintas, para lelaki itu kontan berdiri memberi isyarat menunjuk-nunjuk menawarkan jasa mereka. Aku heran. Apaan sih? Kami kan sudah bawa kendaraan, buat apa lagi  menawarkan ojeg. Begitu pikirku.

Sambil berlalu, aku berusaha mengingat-ingat tentang Mak Erot. Kalau tidak salah aku pernah membaca berita tentangnya. Menurut berita yang kubaca,  dia adalah wanita tua yang memiliki keahlian memperbesar (maaf) perkakas  vital pria dengan obat-obatan herbal dan mantra.  Apa maksud orang-orang tadi ya?

Kami terus melaju di atas motor. Tak lama kemudian   seorang laki-laki berbaju kaus putih  dengan motor bebek berusaha menyusul.

“Om, mau ke Mak Erot ya? Saya antar ya, Om. Ikuti saya ya.” Ujarnya sambil berusaha mensejajari  motor bebeknya dengan motor kami.

“Oh, tidak. Kami tidak ke Mak Erot!” Ujar si Akang.

Si Kaus putih pun berlalu.

Kami kontan tergelak-gelak. Wah,  rupanya tukang-tukang ojeg tadi menawarkan diri sebagai penunjuk jalan menuju tempat praktek Mak Erot. 

“Tin! Tin!”  Klakson motor menyalak di belakang kami. Seorang lelaki berbaju hijau pupus berusaha mendekat.

“Mas, ayok saya antar ke Mak Erot. Lewat sini, Mas. Ikuti ya!” Ujarnya.

Apa-apaan sih ? Kok langsung menuduh kami mau ke Mak Erot. Ampun!

“Tidak! Tidak !” Seru Akang.

Cuzzz! Akang langsung tancap gas meninggalkan si Baju Hijau yang kecewa.

“Kasihan deh, masak Akang dikira mau berobat ke Mak Erot. Penghinaan itu. Hahaha!” Godaku.

Si Akang  menggerutu kesal. Perjalanan terus berlanjut.

“Wow...! “ Teriakku sambil menunjuk pantai cantik di sisi kiri jalan.

Akang memperlambat laju motornya, kemudian berhenti di tepi jalan memberi kesempatan aku mengambil foto pemandangan pantai cantik itu.

Tapi, lagi-lagi  seseorang bermotor bebek kembali mendekati kami. Kali ini laki-laki berbaju coklat dengan senyum lebar di wajahnya.  

Saat menjajari kami dia berkata “ Mas, mau...”

Sebelum kali-laki itu  sempat bicara lebih jauh, sudah kusemprot duluan.

“Apa?! Mau menawari ke Mak Erot? Eh, dengar ya. Kami tidak berminat ke Mak Erot. Suamiku baik-baik saja, tak perlu ke Mak Erot. Bilang ya sama kawan-kawannya, jangan menawar-nawari lagi. Capek deh! Sudah dikejar-kejar 3 orang. Kami mau ke pantai Sawarna, tauk?! “Teriakku sengit.

Si baju coklat cengengesan merasa tak enak hati. Ciut juga nyalinya melihat aku mengganas bagaikan singa betina . Tanpa banyak bicara dia berbalik arah, terbirit-birit menginjak pedal gas dan melesat menjauhi kami.

“Nah, bagus! Pulang sana!” Teriakku.

Akang terpingkal-pingkal. Ketika tawanya reda dia menggodaku .” Jadi Neng yakin nih, Akang tak perlu ke Mak Erot?”

Sebagai jawaban, aku mendaratkan cubitan kecil di pinggangnya.

“ Ayo jalan!” Seruku.

Kami akhirnya menuju ke sebuah ruas jalan yang kondisi aspalnya mulai rusak.  Jalan agak menanjak dan aku menangkap keanehan pada alat  GPS. Alat itu sepertinya tidak meng-update petunjuk jalan.

Kami berhenti di sebuah pertigaan.  Akang kembali men-setting GPS. Benar saja, kami salah jalan. Akang memutar motor,  bermaksud berbalik arah memasuki jalan yang lebih kecil. Tapi sebuah lubang tak terlihat olehnya. Motor tiba-tiba oleng hampir rebah ke jalan. Secara refleks aku meloncat, terjatuh ke tepi jalan dengan tangan menahan berat tubuhku.  Aku bersyukur memakai sarung tangan hingga telapak tanganku terlindung dari  kerikil jalan. Aku langsung berdiri, sementara Akang memandangku cemas.

“ Luka nggak, Neng? “ Tanyanya.

“Enggak. Untung saja refleks Neng  bagus. Hehehe..” Aku tertawa lirih  berusaha menepis rasa cemas Akang.

Perjalanan berlanjut. Sepi sekali sepanjang jalan itu. Hanya sesekali ada motor yang lewat.

“ Lapar ya, Neng? “ Tanya Akang.

“ Iya sih. Tapi mau makan dimana? “ Sahutku.

Sebuah warung kecil tampak di sisi kiri jalan seolah merupakan jawaban atas pertanyaanku. Warung itu berbentuk gubuk yang disangga tiang-tiang kayu dan berdiri diatas tebing.
Akang memarkir motor. Kami pun masuk ke warung itu.

“ Jangan berharap bisa makan enak di sini ya, Neng.  Paling-paling menunya cuma ada mie instan.” Bisik Akang.

“ Iya. Neng mengerti kok. Yang penting kita istirahat dulu.”



Satu hal yang aku pelajari selama touring bersama Akang adalah sangat penting untuk bersikap fleksibel, pengertian, menerima kondisi yang ada sepanjang perjalanan. Tidak merepotkan, tidak manja, bawel atau banyak menuntut.  Seorang boncenger sekaligus partner dalam perjalanan touring harus mampu menjadi teman yang menyenangkan bagi sang rider. Aku selalu berusaha menjaga mood Akang tak terganggu oleh tingkahku.

Seperti saat ini misalnya, mana boleh aku menuntut harus istirahat di resto yang keren, yang makanannya enak. Mana ada tempat seperti itu di pelosok jalanan sepi begini.  Tak ubahnya resep dalam menjalani kehidupan, kunci dari nikmatnya melakukan touring adalah  “ being flexible and grateful for  everything “.

Semangkuk mie instan panas mengepul dan secangkir white coffee, dinikmati berdua  di sebuah gubuk sederhana  berlatar jurang hijau dengan  hembusan angin sepoi-sepoi. Tak ada kata yang pantas diucapkan  selain “ Alhamdulillah. ...”

Kami merasa segar kembali setelah beristirahat sebentar di gubuk itu. Aku menyempatkan berbincang-bincang dengan ibu pemilik warung, menanyakan jalan menuju pantai Sawarna.

“Jalannya jelek, Neng. Masih sekitar satu jam lagi dari sini.” Ujar si  ibu warung.

Apa yang dikatakan ibu tadi benar adanya. Jalan menuju pantai Sawarna bertabur batu-batu yang terkelupas dari aspal yang rusak. Kami bersyukur telah memilih motor yang tepat untuk touring kali ini. Seandainya memakai motor dengan kapasitas mesin lebih besar, misalnya 1500 cc dengan ukuran ban yang lebih lebar, sudah dapat dipastikan kami tak akan bisa melewati jalan ini.

Perjalanan menempuh jalan bertabur batu itu terasa lama, tapi akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang menjadi jalan masuk menuju pantai Sawarna.

Tak kukira kami harus menghadapi jalur yang mendebarkan hati. Untuk mencapai pantai Sawarna, motor  harus melewati  jembatan gantung yang berdiri melintang di atas sungai berair keruh.

 Melintasi Jembatan Kalpanax

Konstruksi jembatan dengan kabel gantung vertikal terpasang pada kabel suspensi utama yang membentang membentuk kurva membuat jembatan  bergoyang-goyang bila dilewati.  

Titian  atau dek jembatan  terbuat dari kayu yang lebarnya hanya cukup dilalui satu motor saja. Sekali lagi kami bersyukur memakai motor Joymax. Seandainya memakai motor yang lebih besar, pasti tak akan muat melewati jembatan ini.

Akang dengan motornya menanti di pangkal jembatan. Pelan-pelan aku berjalan meniti dek kayu itu. Goyangan jembatan  membuat ngeri merayapi hatiku. Aku terus berjalan hingga mencapai ujung jembatan, lalu menarik nafas lega.

Masih dengan berdebar-debar aku menanti Akang di ujung jembatan. Perlahan Akang mengendarai motornya, berusaha tenang menjaga keseimbangan diterpa goyangan jembatan. Syukurlah, meski ngeri-ngeri sedap, motor bisa lewat dengan selamat. Fiuuh...

Mau tahu apa nama jembatan gantung itu? Namanya jembatan Kalpanax. Aku tergelak-gelak mendengar penjelasan tukang parkir di sana. Entah kenapa jembatan itu diberi nama  serupa  merk obat panu.

Akhirnya... kami tiba di tempat tujuan.

Akang memarkir motornya di dekat sebuah warung di tepi pantai.  Kami memasuki warung itu.
Seorang bapak  setengah baya tersenyum menyambut kami.  Dia mempersilahkan kami  duduk dan beristirahat di atas bale-bale.

“ Mau pesan makanan, Pak? “ Tanyanya. “ Ada ikan segar. Baru saja dapat dari nelayan . Kalau Bapak dan Ibu  mau bisa kami masakkan untuk makan siang. “

Kata-kata bapak itu seketika membuat kami terlonjak girang.

“ Mau! Ikannya bisa dibakar kan? “ tanyaku antusias.

“Bisa, Bu.  Ini silahkan dipilih, mau ikan yang mana.” Si Bapak menyodorkan sebuah wadah berisi ikan-ikan segar bermacam jenis.

Kami memilih  ikan yang besar-besar. Atas rekomendasi si Bapak, pilihan kami jatuh pada ikan serepet dan ikan selayang, karena menurutnya kedua jenis ikan itu yang paling lezat.

“ Tunggu ya, Bu. Kami siapkan dulu.” Si Bapak menyerahkan dua ikann besar itu kepada istrinya.
Aku dan Akang berbaring santai di bale-bale menikmati hembusan angin laut. Kami sempat tertidur sebentar ketika akhirnya si Bapak pelan-pelan membangunkan kami.

“ Makanannya sudah siap, Bu.” Ujarnya.

Ikan Selayang dan Ikan Serepet Bakar


Di atas meja sudah terhidang ikan serepet dan ikan selayang bakar, nasi panas, lalapan dan sambal.
Aku dan Akang makan dengan lahap. Duh, nikmatnya... Alhamdulillah. Benar apa yang dikatakan si Bapak. Dua jenis ikan itu sangat lezat rasanya. Daging ikan yang masih segar itu terasa gurih, kenyal tapi empuk dengan bumbu yang pas.  Tak menunggu lama, ikan-ikan lezat itu habis kami santap.

Waktu si Bapak menyebutkan harga yang harus dibayar, rasanya kami tak percaya. Dua ikan besar-besar berikut nasi, lalapan dan sambal yang nikmat tiada tara itu  hanya seharga Rp. 80.000,-. Kalau dibandingkan dengan makan di resto pinggir laut yang berada di kawasan Pelabuhan Ratu, harga yang kami bayar ini jauh lebih murah.  Di Pelabuhan Ratu dengan menu yang sama bisa-bisa kami harus membayar sejumlah  Rp. 150.000- Rp.200.000,-.

Kami lalu melaksanakan shalat  zuhur dan ashar  di jamak di musholla tak jauh dari warung makan. Musholla itu kecil, sehingga kami bergantian melaksanakan shalat.  Rasanya lega sekali setelah bersujud mensyukuri segala nikmatNya.

Hari beranjak sore. Kami menikmati pantai  Sawarna yang cantik. Seperti biasa aku yang narsis berat memaksa Akang tak henti-henti mengambil fotoku berlatar pantai yang indah.

Kawasan wisata pantai Sawarna berada di desa pesisir, laksana perhiasan cantik  yang  menghadap Samudera Hindia. Panjang pantai mencapai 65 km dihiasi batu-batu karang artistik. Pantai-pantai dalam kawasan Sawarna   terdiri dari pantai Pasir Putih, Laguna Pari, Karang Taraje dan Tanjung Layar. Selain wisata pantai, ada juga Goa Lalay atau Goa Kelelawar yang terbentuk dari retakan batu gamping, dimana di dalam  Goa ini terdapat sungai bawah tanah. Sayangnya kami tak punya cukup waktu untuk menjelajahi semua tempat itu.

Rasanya nyaman, duduk berdua di bawah rindangnya pohon besar sambil memandang lepas ke lautan. Pantai Sawarna  bersih dan sepi. Kami serasa berada di pantai milik sendiri.  Laut yang tengah surut menyisakan air laut bening terperangkap di antara karang. Ikan-ikan kecil tampak jelas berenang-renang di cerukan air  bening itu.

Nun jauh disana, pasir putih tampak mengkilap memantulkan cahaya matahari. Vegetasi hijau alami tumbuh  meliuk-liuk menyusuri pinggang pantai.




Betah rasanya berlama-lama memandangi panorama pantai Sawarna. Rasanya ingin tetap duduk di sana menanti matahari tenggelam. Sayang sekali, hari mulai mendung,  kami harus segera pergi mencari penginapan.

Ada banyak penginapan sederhana di sekitar pantai. Tak ada aliran listrik di sana. Listrik hanya dinyalakan saat malam dengan tenaga genset.  Kami melihat-lihat  kamar di beberapa penginapan. Kondisinya sederhana, tanpa ranjang. Kasur diletakkan di lantai, tanpa AC, hanya ada kipas angin.

Ada yang agak lumayan kondisi kamarnya, tapi Akang memutuskan tak jadi menyewa kamar itu. Penginapan itu penuh anak-anak  ABG yang berisik, tertawa-tawa dan bermain gitar.

“Mana bisa istirahat dengan nyaman kalau begini, Neng. Akang yakin, nanti malam anak-anak muda ini akan semakin berisik, nyanyi-nyanyi sampai pagi.” Bisik Akang.

Aku nyengir. Kami akhirnya memutuskan tidak bermalam di kawasan pantai Sawarna. Kami harus cepat-cepat kembali ke arah Pelabuhan Ratu karena di sana banyak hotel yang lebih layak kondisinya.

“Kita sudah capek seharian naik motor. Sudah sewajarnya kita mencari tempat istirahat yang nyaman, supaya tubuh kembali segar untuk perjalanan pulang besok.“ Ujar Akang .

Hari beranjak sore ketika kami  meninggalkan kawasan pantai Sawarna. Meskipun rasanya belum puas,  awan mendung yang menggulung dari arah samudra Hindia  memaksa kami segera pergi. Suatu hari nanti rasanya ingin kembali ke kawasan pantai ini untuk menuntaskan rasa penasaranku. Sepertinya asyik, menjelajah Goa  Lalay yang  eksotis itu.  Semoga ada kesempatan...










15 Agustus 2014

Bergaul Akrab dengan Selebriti Dunia di Madame Tussauds Bangkok

Tom Cruise
Bertahun-tahun lalu saat pertama kali aku  membaca sebuah berita tentang museum Madame Tussauds, aku sudah penasaran ingin melihat sendiri karya seni patung lilin yang dipamerkan di sana.

Kabarnya, patung lilin di museum itu benar-benar mirip dengan tokoh aslinya, begitu detail dan serupa.  Patung lilin yang dipamerkan di museum itu terdiri dari tokoh-tokoh terkenal, seperti penyanyi, pemain musik, bintang film, tokoh-tokoh sejarah, keluarga kerajaan, tokoh-tokoh kriminal, atlet dan sebagainya.

 David Beckham

 Siapakah Madame Tussauds ? Marie Tussauds, sang pendiri museum ini, lahir  di Strasbourg , Prancis, tahun 1760 sebagai Marie Grosholtz. Ibunda Marie bekerja sebagai pembantu rumah tangga DR. Phillippe Curtius di Bern, Swiss. DR Phillippe Curtius adalah seorang dokter yang ahli dalam membuat pemodelan dari lilin. Dia lah yang  mengajari Marie seni membuat patung lilin.

Marie Tussauds pertama kali membuat model patung lilin manusia pada tahun 1777, yaitu patung  Voltaire. Tokoh terkenal lainnya yang pernah dijadikan model patung lilinnnya adalah Jean-Jacques Rousseau dan lain-lain.
Marie Tussauds
Tahun 1795, Marie menikah dengan Francois Tussaud. Sejak itu namanya dikenal dengan Madame Tussaud. Tahun 1835 dia membuka sebuah museum di Baker Street, London, untuk memamerkan karya-karyanya. Tempat itu disebut Baker Street Bazaar.

Saat ini museum Madame Tussauds dikelola oleh Merlin Entertainments dan telah memiliki cabang-cabang di Hollywood, Las Vegas, New York, Orlando, San Francisco, Amsterdam, Berlin Blackpool, Prague, Vienna, Sidney, Tokyo, Hongkong, Bangkok, Shanghai, Wuhan,dan Singapore.

Tahun 2011 saat mengunjungi Amsterdam,  keterbatasan waktu membuatku  harus memilih antara masuk  museum Madame Tussauds atau keluyuran menikmati suasana  Amsterdam. Waktu itu suasana sore yang cantik di kota Amsterdam lebih menggelitik minatku. Aku takut bila masuk museum akan lupa waktu karena terlalu asyik mengagumi karya seni patung lilin koleksi museum itu.

Tahun 2012 saat jalan-jalan ke Bangkok, barulah aku berkesempatan masuk ke museum Madame Tussauds. Museum di Bangkok ini diresmikan di akhir  tahun 2010.

Museum Madame Tussauds Bangkok berada di  gedung Siam Discovery Center lantai 6, 989 Rama I Road, Bangkok 10330, Thailand. Museum buka mulai jam 10.00 hingga 21.00. Harga tiket masuk untuk usia 11 tahun ke atas 800 Baht, untuk anak-anak (3-11 tahun) 600 Baht. Harga tiket  lebih murah bila dibeli secara online, yaitu 640 Baht dan 480 Baht. Info lebih lengkap dapat dilihat di website-nya madametussauds.com/bangkok/en/

Memasuki ruangan museum, para pengunjung bisa menyentuh, mengelus, memeluk dan berfoto bersama patung-patung yang dipamerkan. Ada kurang lebih 90 tokoh yang patung lilinnya di pamerkan di museum ini.

Tak lama setelah melewati pintu masuk, aku yang berkunjung  bersama teman-teman SMA-ku, Dolly, Nida dan Eyik bertemu dengan sosok presiden Soekarno.  Kami tak perduli dibilang norak ketika berteriak-teriak kesenangan. Tentu saja  tak kami lewatkan kesempatan berfoto dengan presiden pertama RI itu.

Bung Karno... Aku padamuuu...

Selain Soekarno, tokoh –tokoh lain yang ada di museum ini antara lain Lady Diana, Ratu Elizabeth II, Albert Einstein, David Beckham, Mohammad Ali, Michael Jackson, Madona, Elizabeth Taylor, Bruce Lee, Justin Bieber, Brad Pitt, Angelina Jollie, George Clooney, Nicole Kidman,  Tom Cruise, dan lain-lain.

Sebuah tiruan ruang kerja Barack Obama yang dikenal dengan Oval Office menjadi spot favorite bagi para pengunjung. Aku juga tak melewatkan kesempatan duduk narsis di meja kerjanya, berfoto bersama Barack dan Michelle Obama.

Di Oval Office bersama Michelle dan Barack Obama

Bagi pengunjung yang tak membawa kamera, di beberapa tempat ada photographer yang bisa diminta mengambilkan gambar. Bila hasilnya dinilai bagus, fotonya bisa dicetak dengan biaya 200-500 Baht tergantung ukuran foto.

Sebuah setting acara talkshow Oprah Winfrey yang dibuat sedemikian rupa
sehingga pengunjung bisa bergaya seolah-olah tengah di wawancarai Oprah

 Ada dua patung lilin yang lama sekali kupandangi karena terpesona akan kesan “hidup”nya. Angelina Jollie, bintang yang kukagumi akting dan kecantikannya benar-benar membuatku terpesona. Tubuh langsingnya bagaikan Barbie, dengan kulit halus dan wajah yang sedap dipandang. Demikian juga dengan Nicole Kidman. Ekspresi wajah, mata biru dan semua detail yang ada pada patung itu begitu nyata, seolah aku berhadapan dengan tokoh aslinya.

Angelina Jollie

Nicole Kidman

Pencahayaan yang tepat. Itu salah satu faktor yang  membantu  penampakan patung-patung lilin seolah hidup. Bukan hanya itu, tentu saja.  Tahapan  pembuatan patung   yang  satu unitnya bisa menghabiskan biaya sekitar 2-3 milliar Rupiah itu telah melalui  pengukuran yang cermat, pemahatan  yang sangat detail, pencetakan yang rumit dan sentuhan telaten.  Tak heran  sosok patung terlihat begitu hidup.


Di museum ini terdapat toko souvenir yang menjual berbagai pernik unik dan cantik khas Madame Tussauds Bangkok berupa gantungan kunci, kaos dan lain lain dengan harga   puluhan hingga ratusan Baht.
Gerai Wax Hand Dip

Ada satu lagi yang menarik. Terdapat sebuah gerai “ Wax Hand Dip”  dimana pengunjung bisa membuat souvenir  patung lilin berbentuk tangannya sendiri.

Secara keseluruhan, museum ini mampu memuaskan rasa ingin tahu pengunjungnya akan sosok fisik idola mereka. Setidaknya bisa memandangi, dan berdekatan dengan tokoh-tokoh itu cukup membuat terhibur. Karena itulah, museum Madame Tussauds  termasuk salah satu obyek yang diminati wisatawan yang mengunjungi Thailand.

Kapan lagi bisa memeluk presiden Soekarno, bercanda dengan Oprah Winfery, ngobrol dengan Barack Obama, membelai pipi Angelina Jollie,  dan menggamit lengan Tom Cruise kalau bukan di Madame Tussauds?


14 Agustus 2014

Pelajaran Penting dari Kasus Bunuh Diri Robin Williams

Robin Williams. Sumber foto dari Internet

Dunia digemparkan kasus kematian Robin Williams dengan cara tak wajar. Aktor yang kemampuannya telah dikukuhkan dengan berbagai penghargaan bergengsi  di bidang akting diberitakan bunuh diri. Banyak orang tak percaya,  termasuk aku sendiri, bagaimana mungkin aktor sukses yang terlihat bahagia bisa melakukan hal  yang ditentang semua ajaran agama itu.


Film-film yang dibintangi Robin Williams selalu mengantarkan pesan kebaikan yang menginspirasi penikmat filmnya. Misalnya film  Mrs. Doubtfire. Cinta seorang ayah yang demikian besar  membuat sang  tokoh utama rela bersusah-susah mengubah penampilannya menjadi seorang perempuan tua bertubuh gemuk, berpura-pura menjadi nanny sehingga tetap bisa berdekatan dengan anak-anaknya.


Lalu dalam film Patch Adams, Robin William berperan sebagai dokter berhati mulia yang menerapkan metode unik diluar kebiasaan untuk membantu pasien-pasien menjalani pengobatan. Dia menjadi inspirator dan motivator bagi dokter dan tenaga medis lainnya dalam meningkatkan derajat kesehatan manusia melalui caranya sendiri.

Peran dalam berbagai filmnya mau tak mau telah menancapkan kesan  dalam diri penggemarnya bahwa Robin Williams  merupakan pribadi yang bijak, penuh cinta dan semangat hidup. Tapi kenyataan aksi bunuh dirinya telah menghapus anggapan itu. Apa pun latar belakangnya,  pelaku bunuh diri adalah orang yang tak sehat jiwanya.

Kesehatan jiwa seringkali diabaikan oleh orang-orang yang sibuk mengejar kesuksesan. Mereka tak memikirkan keseimbangan hidup, terlalu berambisi dalam bekerja atau membiarkan beban pekerjaan terlalu besar, seperti halnya Robin Williams yang dikabarkan bunuh diri akibat tekanan   pekerjaan yang terlalu besar.

Lalu hikmah apa yang bisa kita ambil dari peristiwa ini? Jangan abaikan kesehatan jiwa.

Kesehatan jiwa berperan penting membuat seseorang sehat raganya, dan bahagia hidupnya. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk membuat jiwa tetap sehat? Berikut ini tipsnya.

1.      Penuhi kebutuhan spiritual dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan melaksanakan perintah agama.
Semua agama mengajarkan kebaikan. Ajaran agama bertujuan membawa penganutnya kepada kehidupan yang bahagia. Berdoa dan mengadukan permasalahan hidup kepada Yang Maha Kuasa  mendatangkan perasaan tentram. Cara ini  efektif dalam memerangi kegelisahan hati dan  sangat baik bagi kesehatan jiwa.

2.      Lakukan olahraga.
Sebuah riset yang dilakukan peneliti di Penn State University, Amerika menunjukkan bahwa  semakin sering seseorang berolahraga semakin besar juga rasa senang dan semangat yang mereka dapatkan dibandingkan orang yang tak pernah atau jarang berolahraga.
Saat berolahraga, tubuh akan melepaskan hormon endorphin yang membuat seseorang merasa bahagia. Olahraga bukan saja berguna bagi kesehatan tubuh tapi juga kesehatan jiwa. Jenis olahraga yang bisa membuat bahagia contohnya jalan kaki, jogging, senam aerobic, dan olahraga outdoor  seperti renang, rafting, panjat tebing, surfing dan lain-lain.

3.      Lakukan hobi yang positif.
Anda senang membaca, membuat kerajinan tangan, memasak, menulis, jalan-jalan, main musik, menyanyi,touring dengan motor, atau fotografi? Lakukanlah hobi itu. Hobi adalah kegiatan menyenangkan  yang dilakukan secara rutin. Biasanya orang melakukan hobi untuk melepaskan stress akibat beban pekerjaan atau permasalahan hidup, sehingga hidup akan lebih bahagia.

4.      Ungkapkan cinta dan kasih sayang.
Mencurahkan kasih sayang dan cinta kepada orang-orang terdekat  membuat hidup lebih bergairah.  Cinta kepada pasangan, anak, orangtua, dan sanak saudara mendatangkan energi positif yang menghindarkan jiwa dari kehampaan. Lebih dari itu, mencurahkan kasih sayang terhadap sesama atau orang yang kurang beruntung dengan  memberi sedekah atau bantuan lainnya mendatangkan kebahagiaan tersendiri.

5.      Perbanyak Silaturrahmi.
Meluangkan waktu untuk bergaul, memiliki banyak teman, bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan, bergabung dalam komunitas yang positif, berbagi ilmu dan pengalaman dengan orang lain dapat memperbaharui energi hidup. Komunitas pertemanan yang positif dapat mendukung dan memberi solusi untuk menghadapi masa krisis.

6.      Menjaga pola makan yang sehat
Apa hubungannya kesehatan jiwa dengan menjaga pola makan sehat? Makanan dan minuman yang dikonsumsi sangat erat kaitannya dengan kesehatan psikologis. Makanan dan minuman tertentu seperti alkohol, zat perasa dan pewarna tambahan, kafein, gula, makanan yang diawetkan, garam, dan lemak tak jenuh  dapat mempengaruhi keadaan emosi, pikiran dan tindakan. Sebagai contoh, orang yang kebanyakan mengkonsumsi kopi yang mengandung kafein bisa mengalami insomnia (gangguan tidur). Insomnia  dapat memicu depresi dan kelelahan mental dan  pada tahap akut bisa mengganggu kesehatan jiwa.

7.      Berpikir positif dan fokus melakukan kegiatan yang positif
Berpikir positif membuat hidup lebih tenang, jauh dari prasangka buruk, jauh dari kegelisahan, amarah atau emosi negatif lainnya yang memicu stress. Orang yangberpikir positif dan melakukan hal yang positif seperti memancarkan ion postif yang kebaikannya akan memantul kembali kepadanya.

8.      Bersyukur
Orang yang banyak bersyukur adalah orang yang bahagia. Mereka memiliki kepuasan hidup, semangat dan pengharapan baik di masa depan. Tak suka mengeluh,  dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki menjadi kunci ketenangan hati dan kesehatan jiwa.




Mari belajar dari peristiwa yang menimpa Robin Williams. Mari kita jaga  kesehatan jiwa!